Dibanding tanggal 18 Juni di tahun-tahun sebelumnya, khusus 18 Juni hari ini terasa beda. Ini barangkali karena umur saya genap tiga puluh tahun. Usia yang tidak lagi muda. Dulu waktu umur masih kepala dua sewaktu ada yang tanya saya kelahiran tahun berapa, pertanyaan itu biasanya saya jawab “Masih kepala dua”. Orang yang bertanya biasanya menjawab, “Wah, masih muda nih. So young, so many roads to go“. Sekarang tentu saya tidak bisa lagi “berbangga” dengan jawaban yang sama, karena kalau saya maksa nge-jawab “Masih kepala tiga”, orang-orang pasti berpikiran kalau umur saya 38 atau 39. Celaka. ^_^
Akhir april 2014 lalu, sambil makan siang bersama karyawan dan direksi perusahaan semen di Bogor, Presiden SBY menyampaikan beberapa harapan dan arahan. Salah satu hal yang disampaikan yakni bahwa unjuk rasa bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah/konflik. Penyelesaian terbaik adalah duduk bersama dan berdialog. Benarkah demikian?
Semenjak berhubungan dengan Lembaga Kemanusiaan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) terkait penjualan buku “The Jongos Ways” (TJW) saya jadi memiliki banyak kenalan orang-orang mulia yang mendedikasikan hidupnya di bidang sosial dengan menjadi relawan kemanusiaan. Diantara dari mereka berprofesi sebagai praktisi kesehatan dan dokter. Beberapa darinya memang sudah STW alias setengah tua (dengan badan tegap dan masih terlihat enerjik sekali), namun banyak juga yang masih muda dengan semangat menyala-nyala mengalir dari pancaran matanya.
Alhamdulillah saya sudah pernah bertemu dengan ketua BSMI pusat di Jakarta, bahkan ketika launching buku TJW beliau berkenan jauh-jauh datang dari Ibu kota untuk menyempatkan hadir dan mengucapkan selamat. Beberapa kali komunikasi via telpon maupun pertemuan langsung selalu terbungkus suasana bersahaja, santun dan menyenangkan. Tidak jauh berbeda, ketika saya bersilaturahim ke kantor BSMI cabang Surabaya serta diundang menghadiri acara Munas BSMI Jatim dan juga Diklat relawan mereka suasana “kesederhanaan” juga jamak saya temui dari sosok-sosok pribadi mereka. Bahkan beberapa dokter yang saya kenal benar-benar tampil “membumi” dan jauh dari kesan angkuh, keminter apalagi elegan.
Sebelum bepergian keluar negeri, biasanya saya selalu blog walking guna mencari informasi tentang apa dan bagaimana negara yang nantinya akan menjadi tujuan. Negeri jiran Malaysia, kebetulan itu salah satu destinasi traveling saya kemarin. Maka dimulailah pencarian terhadap hal-hal yang nyaman di kantong (baca : murah) untuk akomodasi disana. Dari tiket pesawat, penginapan, tempat nongkrong turis sampai tempat makan kaki lima saya browsing di internet.
Pernah menonton Film Rambo? seorang veteran prajurit Amerika yang dianggap pahlawan gagah berani dalam perang Vietnam? Film yang dibintangi oleh aktor Silverster Stallone itu dianggap sebagai bagian dari upaya Amerika untuk menutupi kekalahan prajurit Amerika dalam perang Vietnam yang berkepanjangan (1955-1975). Benarkah tentara AS memang “kalah”?. Tulisan ini barangkali agak panjang, tapi tidak terlalu panjang sampai membuat Anda frustasi lantas gantung diri dibawah pohon lombok.
Seperti apakah peran kecerdasan spiritual di tempat kerja?. Karyawan dengan kecerdasan spiritual yang tinggi biasanya akan lebih cepat mengalami pemulihan dari suatu penyakit, baik secara fisik maupun mental. Ia lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental positif, serta lebih ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani kehidupan.
Berbeda dengan karyawan yang memiliki kecerdasan spiritual rendah. Keberhasilan dalam hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dan masih banyak lagi hal-hal yang bersifat materi ternyata tidak selalu mampu membuatnya bahagia. Persaingan dan perbedaan kepentingan yang berlangsung begitu ketat seringkali membuat manusia kehilangan arah dan identitas.
Setelah barusan kemarin memposting tentang perkara pilihan berwiraswasta atau bekerja, kali ini saya menemukan artikel sejenis yang mengusung semangat yang sama. Meski penulisnya bukan saya namun tidak ada salahnya saya ikut “angkat” di blog ini supaya lebih banyak lagi orang yang membacanya.
Di jaman pesatnya kemajuan teknologi dan informasi seperti sekarang ini sering kita dengar propaganda, tawaran, saran, promosi, dsj akan dorongan untuk menjadi entrepreneur atau wiraswastawan. Istilah gampangnya “buka usaha sendiri”. Memang tidak ada yang salah dengan menjadi entrepreneur (bahkan ini adalah hal yang baik), namun ketika propaganda entrepreneurship tersebut porsinya terlalu besar sehingga terkesan merendahkan atau “melecehkan” profesi lain yang notabene bukan pekerjaan mandiri/wirausaha maka muncullah masalah tersebut.
Tulisan kali ini tentang manajemen, lebih spesifiknya kita akan membahas “Silo Mentality“. Namun sebelumnya saya ingin berterimakasih kepada Pak Muhamad Husen yang menjabat sebagai Direktur Hulu di perusahaan saya berkarya saat ini. Kenapa harus berterimakasih? Sebab dari Beliau-lah saya pertama kali mengenal istilah Silo Mentality.
Pak Husen memiliki cara tersendiri dalam berbagi ilmu, semangat, informasi, terobosan maupun media merangkum ide-ide gila dari jajaran dibawahnya. Media tersebut adalah tulisan. Tulisan-tulisan Beliau tentang progresivitas memajukan usaha bidang hulu di-broadcast kepada seluruh pekerja perusahaan melalui email bertajuk “Catatan Direktur Hulu”. Sungguh menyenangkan memiliki Direktur yang gemar menulis dan berbagi ide/semangat melalui tulisan.
Ini tulisan dari Abah kita : Dahlan Iskan. Karena menyangkut nama besar plus nama baik Pertamina maka wajib hukumnya saya posting dalam blog. Dari judulnya saja barangkali Pak DIS (panggilan akrab Abah Dahlan) ingin mengaitkan dengan semangat peringatan kemerdekaan tanah air kita di tanggal 17 Agustus kemarin.
Alhamdulilah Pertamina berhasil tercatat, eh dicatat dalam deretan Fortune 500. Tentunya ini merupakan hal yang membanggakan sebab Pertamina menjadi BUMN pertama sepanjang sejarah yang masuk daftar tersebut. Fortune Global 500 merupakan urutan 500 perusahaan top dunia yang diukur berdasarkan pendapatan tahunan perusahaan. Data ini dikeluarkan oleh majalah ternama asal Amerika Serikat, Fortune.Untuk lebih serunya silahkan menyimak tulisan Pak DIS dibawah ini.
Akhir-akhir ini saya sering dibuat jengkel oleh kebiasaan para “ahli hisap” yang merokok di sembarang tempat. Asapnya itu lho, mengganggu sekali. Bau dan bikin sesak di dada. Mbok ya kalau merokok ditelan sekalian sama asap-asapnya. Memang merokok adalah hak mereka, tapi kalau sampai mengganggu hak orang lain itu artinya sudah dzalim. Merampas kebahagiaan orang.
You must be logged in to post a comment.