Road to 2023
Nulis Lepas

Bentuk Kecerdasan Spiritual Di Tempat Kerja


Bentuk Kecerdasan Spiritual Di Tempat Kerja—

Kawan-kawan semua, tulisan ini sebenarnya disusun guna memenuhi salah satu tugas perkuliahan saya beberapa waktu lalu. Jadi daripada cuma dibaca oleh Pak Dosen, lebih baik saya posting saja disini, siapa tahu bisa bermanfaat bagi Anda. Semoga.

Salam hangat,

muhsin-budiono

spiritualSeperti apakah peran kecerdasan spiritual di tempat kerja?. Pegawai dengan kecerdasan spiritual yang tinggi biasanya akan lebih cepat mengalami pemulihan dari suatu penyakit, baik secara fisik maupun mental. Ia lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental positif, serta lebih ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani kehidupan.

Berbeda dengan pegawai yang memiliki kecerdasan spiritual rendah. Keberhasilan dalam hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dan masih banyak lagi hal-hal yang bersifat materi ternyata tidak selalu mampu membuatnya bahagia. Persaingan dan perbedaan kepentingan yang berlangsung begitu ketat seringkali membuat manusia kehilangan arah dan identitas.

Spiritualitas dalam pekerjaan didefinisikan sebagai kerangka kerja dari nilai-nilai budaya organisasi yang mendorong pengalaman transenden para karyawan melalui proses bekerja, memfasilitasi perasaan terhubung mereka dengan orang lain sekaligus memberikan mereka perasaan lengkap dan bahagia (Giacalone & Jurkiewicz, 2005).

Neck dan Milliman (dalam Litzsey, 2003) mengemukakan bahwa spiritualitas dalam pekerjaan adalah tentang mengekspresikan keinginan diri untuk mencari makna dan tujuan dalam hidup dan merupakan sebuah proses menghidupkan satuan set nilai-nilai pribadi yang sangat dipegang oleh seseorang. Berdasarkan definisi dari Giacalone dan Jurkiewicz (dalam Paloutzian & Park, 2005) di atas, terdapat empat komponen dalam spiritualitas dalam pekerjaan.

Pertama, nilai-nilai individu, meliputi kebajikan, generativitas, perikemanusiaan, integritas, keadilan, mutualitas, penerimaan, rasa hormat, tanggung jawab, dan kepercayaan. Kedua, pengalaman transenden, yaitu mengenai bagaimana individu merasa melakukan perubahan melalui pelayanan terhadap orang lain, dan dengan melakukannya individu tersebut merasakan makna dan tujuan dalam hidupnya. Ketiga, rasa terhubung, meliputi perasaan dipahami dan dihargai yang didapatkan melalui interaksi sosial dan juga melalui keanggotaan. Keempat, perasaan terlengkapi dan bahagia, individu merasa bahwa pekerjaannya dapat membuatnya merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dan sesuatu yang penting bagi kehidupan pribadinya dan juga membawa kebahagiaan bagi dirinya.

Spiritualitas dalam pekerjaan akan menghasilkan hal-hal positif bagi karyawan dan perusahaan. Litzsey (2003) berpendapat bahwa mengintegrasikan spiritualitas di tempat kerja, akan membuat karyawan merasakan makna dan perasaan bertujuan dalam kehidupannya. Tidak hanya membuat karyawan merasa utuh sebagai pribadi tapi juga memberikan keuntungan bagi perusahaan dalam hal laba, moral yang tinggi serta penurunan tingkat absensi karyawan.

Perubahan teknologi yang pesat menghasilkan tekanan yang begitu besar, yang terkadang membutakan manusia dengan kecerdasan spiritual rendah dalam menjalani visi dan misi hidupnya, membuat ia lupa melakukan refleksi diri dan lupa menjalankan perannya sebagai bagian dari komunitas. Kesibukan kerja dan keberhasilan yang dicapai tidak diamalkannya untuk penciptaan arti dan nilai bagi lingkungan. Untuk mengaplikasikan kecerdasan spiritual di kantor, maka setiap organisasi perlu membentuk budaya spiritualitas, yang menurut Robbins & Judge dalam bukunya Organizational Behavior, bentuknya adalah :

STRONG SENSE OF PURPOSE

Penyerapan anggaran itu penting, tetapi bukan yang utama. Seluruh anggota organisasi perlu diingatkan bahwa menjadikan keberadaan organisasi sebesar-besar manfaat bagi masyarakat adalah hal yang lebih bernilai, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk visi dan misi organisasi.

TRUST AND RESPECT

Organisasi dengan budaya spiritual senantiasa memastikan terciptanya kondisi saling percaya, adanya keterbukaan dan kejujuran. Salah satunya dalam bentuk pejabat dan pegawai tidak takut untuk melakukan dan mengakui kesalahan.

HUMANISTIC WORK PRACTICES 

Jam kerja yang fleksibel, penghargaan berdasarkan kerja tim, mempersempit perbedaan status dan imbal jasa, adanya jaminan terhadap hak-hak individu pekerja, kemampuan pegawai, dan keamanan kerja merupakan bentuk-bentuk praktik manajemen sumber daya manusia yang bersifat spiritual.

TOLERATION OF EMPLOYEE EXPRESSION 

Organisasi dengan budaya spiritual memiliki toleransi yang tinggi terhadap bentuk-bentuk ekspresi emosi karyawan. Humor, spontanitas, keceriaan di tempat kerja tidak dibatasi. Bahkan, ada perusahaan yang mendorong dan mengizinkan setiap karyawan untuk menyediakan satu persen dari waktu kerjanya untuk melakukan pekerjaan sukarela bagi pengembangan komunitas, seperti: membagikan makanan kepada para tunawisma, kerja bakti membersihkan taman umum, mendirikan perpustakaan atau rumah baca untuk anak-anak jalanan, menyantuni anak yatim, dan memberi bantuan bagi korban bencana alam.

IDENTIFIKASI DIRI DAN ORGANISASI

Dengan terbentuknya budaya spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang gembira, tahu dan mampu memenuhi tujuan hidup.  Karyawan yang demikian umumnya memiliki hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi, antara tugas dan pelayanan. Pada umumnya, mereka juga memiliki kinerja yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan konsultan besar, penerapan lingkungan kerja yang spiritual meningkatkan produktivitas dan menurunkan turn over.

originalMenurut penelitian Pratistita (2009) tentang hubungan antara keadilan prosedural dengan spiritualitas individual dalam pekerjaan di PT. Sango Ceramics Indonesia ditemukan bahwa semakin positif penilaian karyawan terhadap keadilan prosedural maka akan semakin tinggi spiritualitas individual dalam pekerjaannya, dan sebaliknya. Penilaian karyawan terhadap keadilan prosedural akan membentuk motivasi untuk mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi. Identifikasi ini berperan penting untuk menumbuhkan spiritualitas dalam pekerjaan, karena untuk dapat merasakan menjadi bagian dari komunitas karyawan harus mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi. Identitas sosial yang didapatkan dari komunitas tersebut akan memperkuat konsep dirinya karena karyawan sebagai individu memerlukan konteks sosial yang lebih besar untuk memahami secara utuh dan mengekspresikan dirinya.

KESIMPULAN

  • Spiritualitas dalam pekerjaan adalah tentang mengekspresikan keinginan diri untuk mencari makna dan tujuan dalam hidup dan merupakan sebuah proses menghidupkan serangkaian nilai-nilai pribadi yang sangat dipegang oleh seorang karyawan.
  • Spiritualitas dalam pekerjaan bukan mengenai membawa agama ke dalam pekerjaan, namun mengenai kemampuan menghadirkan keseluruhan diri karyawan untuk bekerja.
  • Spiritualitas dalam pekerjaan merupakan aspek penting bagi perusahaan untuk dapat bersaing di masa sekarang ini. Spiritualitas dapat membuat karyawan lebih efektif dalam bekerja, karena karyawan yang melihat pekerjaan mereka sebagai alat untuk meningkatkan spiritualitas akan menunjukkan usaha yang lebih besar dibanding karyawan yang melihat pekerjaannya hanya sebagai alat untuk memperoleh uang.
  • Kegunaan spiritualitas dapat dilihat dalam pengaruh etika positif sehingga menciptakan keefektifan dan efisiensi dalam organisasi sehingga dapat meningkatkan daya saing perusahaan di tingkat global.

REFERENSI

Bagir, H. (2003). Sejahtera Spiritual dan Finansial. 2007, 30 September. [online]. Diunduh dari : klik disini

Duchon, D. & Plowman, D.A. (2005). Nurturing the Spirit at Work: Impact on Work Unit Performance. The Leadership Quarterly, 16, 807–833.

Giacalone, R. A. & Jurkiewicz, C. L. (2005). Handbook of Workplace Spirituality and Organizational Performance. Armonk: M.E. Sharpe.

King, S. M. (2007). Religion, Spirituality, and The Workplace: Challenges for Public Administration. Public Administration Review, 67, 1, 103-114.

Litzsey, C. (2003). Spirituality in The Workplace and The Implications It Has on Employees and Organizations.2008, 29 Juli. [online]. Diunduh dari: http://wed.siu.edu/public/department/Litzsey%20paper.pdf

Marques, J.F. (2005). The Spiritual Worker an Examination of the Ripple Effect that Enhances Quality of Life in- and Outside the Work Environment. Journal of Management Development, 25, 9, 884-895.ew

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan khusus dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

One thought on “Bentuk Kecerdasan Spiritual Di Tempat Kerja

  1. bagus sekali .. terima kasih pak bro ..

    Like

    Posted by abdul ghofar | 29 October 2013, 22:01

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
4.8 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: