Road to 2023

muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Trainer dan Penulis Buku. Pakar Followership pertama di Indonesia. Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di sebuah Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.
muhsin budiono, B.Ss., CFT has written 172 posts for muhsinbudiono.com

Waspadai Pikiran Kita


Dear Jongoszers

Semoga tulisan ini menemui Anda dalam keadaan sehat dan senantiasa semangat.

Kira-kira sebulan yang lalu saya bertemu dengan seseorang yang saya anggap cukup sukses dalam hidup ini. Pribadinya santun, penampilannya sederhana, punya usaha beromset ratusan juta yang bebas dari riba, anak-anaknya penurut, keluarganya terlihat sakinah, sholat 5 waktunya di Masjid, lulusan universitas ternama di Jawa timur, fasih bahasa Arab, hafalan Qur’annya banyak, dan seabrek kelebihan lain yang cukup banyak bila dikemukakan disini.

Kalau bertemu orang kategori sukses sperti diatas biasanya saya meminta pinjaman lunak, eh bukan- saya meminta nasihat dan doa agar bisa ketularan sukses juga. ^.^ Mmm, saya pikir ini penting untuk disinggung, sebab diluarsana banyak jongos yang kalau ketemu orang sukses ujung-ujungnya biasanya minta utangan/pinjam uang. ×_× Kalau ndak berhutang ya minta kerjaan/lowongan kerja. Atau langsung nawarkan barang dagangan, asuransi or MLM. Atau curhat tentang kerjaan yang terpuruk dan usaha yang seringkali gagal. Baiknya ya jangan seperti itu. Sebab ada waktu dan caranya tersendiri untuk mengemukakan hal-hal tersebut. Kecuali memang orang sukses itu yang meminta/menanyakannya secara khusus.

Nah, kembali ke nasihatnya. Saat itu saya mendapat beberapa nasihat dan satu diantaranya saya kemukakan disini. Sebab menurut saya ini yang paling penting. Nasihatnya sederhana: Perhatikan pikiranmu. Pikiran yang didayagunakan dengan  maksimal dan positif akan menentukan kebaikan hidup harian dan dimasa depan. Demikian pula sebaliknya. Ia lalu menambahkan kalau kekayaan, uang, bisnis warisan ortu, jaringan luas, kawan yang banyak dan usaha yang keras bukan faktor utama penentu kesuksesan.

Saya mengiyakan hal ini, sebab diluarsana banyak orang yang sudah kerja keras belasan tahun tapi hidupnya tetap sama saja. Atau banyak orang yang kawannya banyak/jaringannya luas namun tak kunjung sukses. Ada juga orang yang mendapat warisan besar dari orangtuanya tapi tak lama kemudian ia jatuh miskin. Atau kisah anak muda yang diserahi kepercayaan untuk mengelola usaha turunan/bisnis keluarga tapi justru ditangannya bisnis itu menjadi terpuruk.

PIKIRAN ITU SEPERTI TANAH

Ada yang bilang kalau “Medan Perang Terbesar” terletak dipikiran kita. Ini tidak berlebihan sebab pikiran itu memang sangat kuat dan dapat berpengaruh pada cara kita menyikapi masalah dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Pernah mendengar pepatah seperti ini?.

Menabur dalam PIKIRAN akan menuai TINDAKAN. Menabur TINDAKAN akan menuai KEBIASAAN. Menabur KEBIASAAN akan menuai KARAKTER.

Kalau sudah pernah mendengarnya berarti Anda beruntung. Pikiran kita ini ibarat tanah. Ia akan menjadi media penumbuh atas benih yang kita tanam. Bahkan ada jenis benih tertentu yang bisa tumbuh hanya dengan bila diletakkan saja diatas tanah. Tanah tidak pernah mempersoalkan jenis benih apa yang hendak kita tanam. Ekstrimnya lagi kalaupun benih yang kita tanam tidak tumbuh biasanya yang malah muncul adalah rumput atau tumbuhan liar lainnya.

Ini hampir sama dengan pikiran kita. Apapun yang kita tanamkan dalam pikiran (entah hal yang baik atau buruk) maka pikiran kita akan cenderung menerima, merespon dan menumbuhkannya. Bahkan tanpa sengaja menanamnya pun “benih-benih” liar yang merusak pikiran bisa saja muncul kalau kita tidak menyadarinya. Sebab sumbernya berasal dari eksternal dan acapkali tidak terlihat. Terkait “benih liar” ini nantinya berhubungan dengan alam bawah sadar. In syaa Allah pada tulisan berikutnya akan saya bahas. Kali ini kita bahas yang sumbernya internal dulu: diri kita sendiri.

Disadari atau tidak kita seringkali menyengaja untuk menanam benih dipikiran berupa perkataan pesimis atau buruk tentang diri sendiri.

Merasa atau tidak, seringkali kita mengatakan hal-hal negatif tentang diri kita sendiri semisal:

• Hari ini bakalan berat sekali,

• Hidup ini penuh masalah,

• Saya terbelakang dan tidak berilmu,

• Saya tidak memiliki lingkungan/sarfas yang mendukung,

• Usaha ini tidak akan berhasil,

• Sakit ini sulit untuk sembuh,

• Saya generasi produktif yang terbebani (terbebani kemiskinan orangtua dan biaya sekolah adik-adik saya barangkali), ^_^

• Masa depan saya suram, dan lain-lain. Bakalan banyak kalau mau dicari-cari.

Nah, hal-hal negatif yang kita ucapkan tersebut akan direspon oleh pikiran kita dalam bentuk sikap dan tindakan yang pada gilirannya akan menghasilkan sesuatu yang sama seperti yang kita tanamkan dalam pikiran.
Maka dari itu, biasakan menanamkan hal-hal yang positif di benak kita. Lantas, apakah dengan menanamkan hal positif lantas diri kita akan menjadi pribadi yang luarbiasa?. Oh, tentu saja. ‘Tentu saja TIDAK’ maksud saya. Anda jangan termakan ucapan manis para motivator diluarsana yang dengan gampangnya mengatakan pikiran yang positif akan mengubah hidup menjadi lebih baik atau luarbiasa. Tidak sesederhana itu. Perlu ada usaha ekstra didalamnya.

Pikiran positif menghasilkan hati yang nyaman memang benar. Tapi kalau tiap hari Anda dirundung tagihan utang, cicilan kendaraan/kredit rumah dan uang di rekening selalu habis sebelum tiba tanggal gajian maka meski pikiran kita selalu positif namun kenyamanan itu akan terasa semu.

Kemampuan memelihara pikiran yang positif memang tidak langsung membuat Anda menjadi kaya atau sukses, namun akan menjadi modal awal untuk berpikir kreatif dan selalu melihat peluang dikondisi yang sulit sekalipun. Berpikir positif juga akan membuat air muka menjadi cerah dan terlihat lebih antusias sehingga siapapun yang bermitra dengan Anda akan merasa nyaman.

BAGAIMANA CARANYA MEMELIHARA PIKIRAN POSITIF?

Seringkali buku-buku self development atau para Trainer motivasi memberikan arahan untuk kita selalu mengulang-ulang kalimat positif tiap harinya. Kalimat itu boleh jadi seperti ini:

• Saya sangat beruntung,

• Hari ini bakalan menarik.

• Saya mampu mengatasi masalah ini,

• Masa depan cerah menanti!,

• Hari ini banyak keberuntungan menghampiri,

• Saya mensyukuri hidup dan apa-apa yang saya capai hari ini,

• Saya akan berjuang dan berusaha terus !

• Tuhan akan membuka dan menunjukkan jalan.

Dengan mengulang tiap hari harapannya akan terpola sugesti yang baik. Setiap bangun tidur, sebelum tidur, atau menuliskan di post note yang ditempel dicermin supaya bisa dibaca tiap hari merupakan salah satu pilhan. Ini saya pikir tidak ada salahnya dan bagi beberapa orang biasanya cukup manjur. Hanya saja dari dulu saya bertanya-tanya: Bagaimana supaya tulisan-tulisan di cermin itu tiap hari bisa dilihat dan meresap kedalam jiwa?. Nah, saya pikir jawabannya sederhana sederhana sekali: Jadikan rutinitas harian. Tidak harus tulisan dicermin, yang penting kita hafal dengan apa yang kita tulis dan tahu betul memaknainya. 

Apakah harus dihafal?. Sebaiknya memang iya. Sebab dengannya kita tak perlu repot lagi menggunakan media post note, cermin, dan sejenisnya. Apakah ini hal yang mudah?. In syaa Allah akan terasa mudah, kalau penanaman kalimat-kalimat positif tersbut kita domplengkan pada hal rutin yang kita lakukan. Inilah salah satu faedah kenapa setelah sholat 5 waktu kita dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa sejenak. Sebab disitulah “kesempatan” menanamkan kalimat-kalimat positif pada diri sendiri. Tentunya dzikir dan doa-doa yang dibaca sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Kalau ada waktu luang cobalah Anda telaah redaksional dalam kalimat-kalimat doa atau dzikir yang sesuai ittiba’ Nabi. In syaa Allah kita akan dapati banyak kalimat positif untuk mensugesti diri sendiri. Contoh lainnya adalah bacaan dzikir pagi-petang yang diajarkan Rasul yang rutin dibaca sebelum matahari terbit dan saat sore menjelang. Bayangkan berapa banyak kalimat positif bisa kita tanamkan tiap harinya hanya dengan merutinkan kebiasaan diatas?. 

Semoga kita semua bisa menjaga dan me-manage pikiran yang kita miliki sebaik mungkin agar kebaikan dan keberkahan hidup senantiasa menghampiri. Aamiin.


@Zevantem

Advertisements

Emas dan Tanah


Sebongkah emas bertemu dengan sebongkah tanah. 

Emas lalu berkata pada tanah, “Coba lihat dirimu, suram dan kotor, apakah engkau dipuji banyak orang dan memiliki cahaya mengkilat seperti aku…..?. Apakah engkau berharga seperti aku……?”.

Tanah pun dengan tenang menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menjadi media yang menumbuhkan bunga dan buah, menumbuhkan rumput dan pohon, menumbuhkan tanaman dan tempat hidup bagi banyak binatang, apakah kamu bisa……. ?”.
Emas pun terdiam seribu bahasa.

Kawan,
Kisah diatas hanya ilustrasi, namun dalam hidup ini pun banyak orang yang seperti emas yang berharga, menyilaukan tetapi tak lebih hanya sekedar pajangan, perhiasan dan sedikit manfaatnya bagi sesama. 

Sukses dalam karir, banyak harta/kekayaan, rupawan dalam paras, ilmunya tinggi, jaringannya luas tapi sukar membantu apalagi peduli. 
Tapi ada juga yang seperti tanah. Posisi biasa saja, barangkali cuma seorang jongos, namun bersahaja dan ringan tangan siap membantu kapanpun. 

Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar manfaat kita bagi orang lain.
Jika keberadaan kita dapat membawa kebaikan bagi banyak orang, in syaa Allah itu pertanda hidup ini bernilai.
Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi orang lain disekitar kita. 
Apalah arti kemakmuran bila  tidak berbagi pada yang membutuhkan. 
Apalah arti kecerdasan bila tidak menularkan inspirasi bagi orang sekeliling. 
Karena hidup adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima.

So, Anda memilih jadi emas atau kah tanah?. Atau jadi tanah yang mengandung emas?.

.

.

.

Bis Damri menuju CGK airport,

(dari berbagai sumber).

Leadership and Followership in Islam


islamic-designIf it is possible to offer one statement that encompasses the concept of leadership in Islam, it would be the speech made by Abubakr (R.A), the first khalifa after the death of Prophet Muhammad (pbuh). In his first address as head of the Islamic state, he told the ummah: “I have been chosen to rule over you, though I am not the best among you. Help me if I am right; correct me if I am wrong. The weak among you will be strong until I have attained for him his due… and the strong among you will be weak until I have made him give what he owes…Obey me as long as I obey Allah and His prophet; if I do not obey them, you owe me no obedience.” This is a remarkable statement for any leader to make. With it Abubakr (R.A) defines a social contract with his citizens. He sets out the basis and the limits of his authority as well as the duties of his citizens. It’s worth examining this in more detail.

Continue reading

No Need for Whistleblowing : Stand Up to the Culture


Teror for WBS personWe operate in an age that increasingly demands financial and operational transparency and high standards of conformance to legal and moral requirements. Those who fail to maintain these standards pay with multibillion dollar legal judgments, the dissolution of venerable firms, dishonorable dismissals, and even jail sentences.

This trend was codified for publicly traded corporations by The Sarbanes-Oxley Act. Included among the many reforms is strong whistleblower protection language and severe penalties for violations. Both whistleblowers and the organizations whose wasteful or elicit practices they spotlight usually pay a high price. Is there a way for leaders to correct themselves short of blowing the whistle to regulatory bodies?

Continue reading

Ternyata, bertahun-tahun Garuda Indonesia Lecehkan Al-Qur’an


Kawan-kawan semua,

Mestinya saya menulis postingan ini 3 atau 4 tahun yang lalu, namun karena ketidaktahuan dan kekurangcermatan diri ini saya baru bisa menuliskannya sekarang. Ya, Anda tidak salah membaca. Memang mengecewakan, namun faktanya demikian : Maskapai penerbangan kebanggaan kita ini ternyata bertahun-tahun lamanya telah melecehkan Al-Qur’an. Saya adalah pelanggan setia Garuda Indonesia Airways (GIA). Dalam kesempatan bepergian keluar kota dan keluar negeri sekalipun terbang bersama Garuda Indonesia senantiasa menjadi pilihan utama saya.

Logo GarudaSaya menyukai GIA dan bangga terhadap konsep unik yang diusungnya : “Garuda Indonesia Experience”, a concept of service designed to allow passengers to experience Indonesia at its best. Banyak keunggulan yang dimiliki GIA,  diantaranya adalah Sky Team member, penyajian surat kabar yang beragam pilihan (bahkan dalam bahasa inggris dan mandarin), interior yang mewah, alunan instrumen musik indonesia dalam kabin yang menyesuaikan kekinian (kalau pas Ramadhan yang diputar adalah lagu-lagu islami), snack dan minuman selama penerbangan, pramugari yang ramah dan cantik, harga tiket yang pantas dan bersaing, pilot yang profesional (mayoritas landingnya smooth dan sering saya dapati pilot muslim GIA ditengah perjalanan terbang menyapa penumpang dengan awalan ‘Assalamu’alaikum’-sungguh mengesankan). Hal lainnya yang membuat saya “lengket” di tempat duduk adalah fasilitas entertainment yang dimiliki GIA : Audio and Video on Demand (AVOD) dengan touch screen LCD TV .

Continue reading

Operasi Katarak Gratis (03 Oktober 2015)


Assalamu’alaikum warohmatulloh.

Bapak-Ibu, Kakak-Adik, Saudara-saudari dan Kawan-kawan semua,

Sekedar informasi perihal Operasi Katarak Gratis bagi yang membutuhkan.

Pelaksanaan Operasi pada tanggal 03 Oktober 2015.

Untuk pendaftaran & Screening Peserta dilaksanakan tanggal 14-18 September 2015 (Pkl. 08.00 – 15.00 WIB).

Informasi lebih lengkapnya silahkan menghubungi Sdr. Andre (081 2147 942 52).

Terimakasih,

muhsin budiono

Operasi Katarak Gratis Pertamina

 

Lupa Nama Istri


Real-books-never-die_1718“Hobinya nulis ya mas muhsin?”, itu kalimat tanya yang sering dilontarkan kawan atau orang yang baru saya kenal ketika mengetahui kalau saya sudah menulis dan menerbitkan tiga judul buku. Terus terang saya agak bingung kalau ditanya soal hobi, sebab di benak saya hobi itu kan segala sesuatu hal yang sering kita lakukan dan kita memang enjoy melakukannya. Masalahnya hanya ada 2 hal yang sering dan enjoy saya lakukan tiap hari : Pertama, Tidur di springbed yang empuk. Kedua, bercengkerama dengan istri diatas ranjang. Uhuk..uhuyy. ^_^ Kalau merujuk pengertian ‘hobi’ diatas, berarti menulis bagi saya bukan termasuk hobi. Sebab saya tidak tiap hari menulis. Dan jujur saja ketika menulis buku saya kurang begitu enjoy, sebab benar-benar memeras otak dan bikin senewen kalau  hal menarik yang sempat kepikiran untuk ditulis tiba-tiba terlupakan hanya gara-gara tukang bakso langganan saya teriak-teriak di depan rumah menawarkan dagangan. Ah, saya mah gitu orangnya. Sering lupa akan sesuatu. Tapi bagi saya hal itu tidak masalah, yang penting jangan sampai lupa sama nama istri sendiri. Bahaya. Bisa hilang kepala saya. Ha..ha.

Continue reading

Mereka yang Kehilangan Kesempatan


Petugas SPBUIni sore hari yang sejuk. Perempuan manis berseragam merah putih itu tersenyum sebentar lalu bertanya pada saya, “Premium ya Pak?”.  Sambil mesem saya jawab sekenanya, “Bukan Mbak, saya orang. Bukan Premium”. Ha..ha. Terus terang saya paling sebel kalau pas di SPBU mau ngisi BBM motor terus petugasnya bilang begitu. Seolah-olah kita diminta untuk membeli Premium. Secara memang seperti itu. Ini ilmu marketing, Bung. Operator yang menuang BBM dari dispenser ke tangki kendaraan itu kan sejatinya lagi jualan. Bukan cuma “juru ngecor” minyak. Orang yang berjualan logikanya menawarkan lebih dulu barang yang kualitasnya tinggi. Mestinya kalimatnya diganti jadi : “Beli Pertamax ya Pak?”. Sehingga konsumen menjadi “tertarik” atau lebih mantap membeli Pertamax.

Saya tidak melarang Anda untuk membeli Premium, dan saya juga tidak mengatakan kalau Premium itu barang jelek. Tapi secara kualitas memang Pertamax lebih ciamik  ketimbang Premium. Dan Premium adalah barang bersubsidi. Non Keekonomian. Ada resiko tersendiri kalau kita membeli barang subsidi. Silakan baca artikel saya sebelumnya tentang BBM subsidi di link berikut. (klik sini).

Continue reading

Anak muda, Keragu-raguan dan Keputusasaan


Abstract big speech bubbleKemarin ada pesan singkat masuk di Smartphone saya. Pengirimnya seorang remaja putri di Bandung. Isinya begini: “Mas muhsin, apa bedanya anak muda jaman sekarang sama anak muda jaman dulu?.”

Alhamdulillah,  mojang Bandung ini manggil saya “Mas” bukan “Pak”. Berarti saya dianggap masih muda. Berarti dia cerdas dan matanya tidak bermasalah. ^_^
Terus terang saya tidak mengenal baik anak ini, hanya pada kesempatan sebelumnya ia pernah mengajak saya berdiskusi tentang anak muda yang galau namun merindukan prestasi. Dan sama seperti kemarin, diskusi sebelumnya berlangsung lewat WhatsApp. Kebayang susahnya kan. Daripada jadi panjang-lebar saya putuskan untuk  menjawab secara singkat : “Kamu lagi suntuk gara-gara UN ya Dek? Sebenarnya nggak ada bedanya. Cuma yang jelas anak muda jaman dahulu ya sekarang ini sudah pada tuwir (tua) semua.” jawab saya asal.

Continue reading

Masjid dan Anak Kita


masjidSaya beruntung tinggal cukup dekat dengan masjid yang “ramah” anak. Maksud saya yang ramah adalah pengurus masjid dan orang-orang yang memang sehari-harinya rutin sholat berjamaah disitu. Ini baru saya sadari ketika anak lelaki saya yang berumur lima tahunan tertidur di karpet masjid saat sholat shubuh berlangsung. Kalau diajak shubuhan di masjid biasanya anak saya memang begitu: ikutan sholat jamaah dari takbiratul ihram sampai salam (sambil terkantuk-kantuk tentunya), atau ndelosor tidur di karpet tepat disebelah saya. Sepanjang tidurnya tidak ngorok atau kakinya tidak mengganggu jamah lain biasanya ya saya biarkan saja. Masalah muncul manakala Imam salam dan semua jamaah hening terlarut dalam khusyuknya dzikir ba’da sholat, tiba-tiba saat menyentuh karpet telapak tangan saya terasa basah. “Waduh!”, spontan saya njingkat. Semua mata jamaah memandang heran. Sambil nyengir saya bilang, “anak saya ngompol.”

Continue reading

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.6 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: