Road to 2023
Followership

Dulu Satu Panggung Besar, Kemarin Online Satu Layar.


Beberapa waktu lalu saya menghadiri online meeting bincang-bincang santai namun meaningful. Judulnya C-level Talk. Acara virtual ini konsisten menghadirkan sosok para eksekutif korporasi swasta maupun non swasta, profit maupun nirlaba untuk sharing knowledge, cerita karir, tips & trick leadership, dll. Dibelakang C-level Talks ada Career Coach René Suhardono. (Suhardono ya, bukan Budiono. 😀). Nama yang tak asing lagi di dunia pengembangan diri dan korporasi. Beliau sendiri juga rutin menjadi host saat sesi berlangsung. Kebetulan waktu itu yang menjadi narasumber adalah Bu Dian Siswarini, President director XL Axiata – a mobile telecommunications services operator company.

Didunia pertelekomunikasian Indonesia nama Bu Dian sudah tersohor. Bagaimana tidak, mengawali karirnya dari teknisi lapangan yang sering manjat-manjat tower BTS hingga diangkat menjadi top CEO sejak 2015 lalu. Bu Dian sukses mengantarkan XL Axiata sebagai salah satu provider berlayanan terbaik di tanah air dengan jangkauan 440 kota/kabupaten di berbagai wilayah Indonesia (2019). Di bawah kepemimpinan Bu Dian, XL Axiata mampu meraup laba bersih senilai 23 triliun rupiah (2018). Angka yang fantastis. Bayangkan kalau duit segitu dibagi-bagi ke 270juta rakyat Indonesia. Tiap kepala bisa dapat sekitar 85ribu perak. Lumayan buat beli N**flix paketan 30 hari. 🙂

Sebab prestasinya tersebut Bu Dian mendapat penghargaan Golden Globe Tigers Award for Women Leadership. Nama Bu Dian juga masuk dalam daftar Forbes Asia’s Power Businesswomen. Daftar tersebut merupakan penghargaan atas pencapaian dan rekam jejak kesuksesannya sebagai pemimpin perempuan yang berperan sebagai representasi keberagaman bisnis di Asia.

Kembali ke acara C-level Talk yang kita bahas diawal. Pada sesi tanya jawab saya pun mengangkat tangan dengan menekan tombol raise hand. Setelah berbasa-basi sejenak mengatakan bahwa saya adalah pelanggan setia XL semenjak tahun 2002 (nomer masih 10 digit), sayapun mengajukan pertanyaan tentang followership.”Bagaimana kriteria followers yang diharapkan Ibu bisa bekerja efektif dengan para leaders, khususnya di perusahaan yang Ibu pimpin sekarang?. Dan apa yang harus dilakukan leaders untuk membentuk followers yang baik atau yang efektif?”.

Dan jawaban Bu Dian benar-benar remarkable. Diluar dugaan saya. Beliau mengharapkan supaya para karyawannya (baca: followersnya) justru berani memberikan feedback kepada para leaders tanpa harus merasa minder ataupun takut. Sekalipun masukan/kritikan itu berbeda dengan pendapat yang dimilikinya.”Berbeda itu harus disyukuri. Sebab bisa memberikan input dan perspektif yang berbeda pula. Sebab dalam mengambil keputusan, input dan perspektif berbeda ini penting bagi leaders. Kalau Anda cuma jadi pekerja yang Yes-man person artinya Anda tidak membantu, bahkan bisa merusak dinamika”, demikian kata Bu Dian menerangkan. Gila, yes-man person saja dilarang. Apalagi penjilat atau brown-noser. Ini baru leaders. Batin saya.

Bu Dian pun lantas melanjutkan penjelasannya. “Sebagai leader, kita harus bisa memberikan clarity di tengah environment yg ambigu. Ambiguitas yang ada secara alami dapat menimbulkan anxiety dikalangan followers. Menjadi Leader harus memiliki kemampuan untuk sintesis dan connecting the dots untuk create insight. Leader perlu memfokuskan tim-nya pada hal-hal yang dalam kendali. Dan diatas semua itu Anda harus mengupayakan untuk membuat emotional connection with your team. By having empathy, and genuinely care for their wellbeing”.
Dan yang disampaikan Bu Dian terakhir itu bukanlah hal mudah: Have an emotional connection. Apalagi kalau jumlah karyawannya bejibun.

Kuncinya adalah jangan sampai seorang leaders dibuat confuse antara tujuan dengan strategi. Caranya bagaimana?. Ya leaders harus understand the context and investing time ke para karyawannya. Pelajari karakter. Rutin lakukan coaching and counseling. Bikin program kreatif yang melibatkan individual maupun team. Bangun emotional connection dan latih empathy level. 

Coach René Suhardono

Emphaty itu rumus utama leaders. Dengan empati yang baik leaders akan lebih memperhatikan kesejahteraan. Because wellbeing is my priority. Sebab tugas utama pemimpin itu developes people. Kalau ada perbedaan pandangan, beda strategi ataupun konflik dengan followers itu wajar. Jangan malah mengucilkan atau menjauhinya. Tapi justru harus dikenali lebih dalam. Sebagaimana kata Abraham lincoln: I don’t like that man. I must get to know him better. Hmm, keren ya jawaban Bu Dian ini.

Selebihnya untuk mendapat insight lebih lengkap dari diskusi C-level Talk dari Bu Dian bisa Anda simak di channel youtube Limitless di link berikut: https://youtu.be/1knvTM42aXsOh iya, thanks to google photos yang telah mengingatkan saya bahwa ternyata di Oktober 2016 dulu saya pernah “satu panggung” dengan Bu Dian. Tepatnya dalam even HR terbesar di Indonesia: The 8th Indonesia HR Summit – Conference & Exhibition yang digelar di The Trans Luxury Hotel-Bandung. Satu panggung tapi beda waktu. Pantas saja nama Bu Dian ndak begitu asing di telinga ini. Dulu satu panggung, kemarin satu layar online meeting. Besok-besok satu proyek dan satu manajemen. 😃. Who knows?!. (Bersambung)

Flyer Indonesia HR Summit 2016 – Para Narasumber

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

18 June 2023
18 months to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: