Road to 2023
Nulis Lepas

Buruh, Pendidikan dan Kebangkitan Nasional


image

Akhir april 2014 lalu, sambil makan siang bersama karyawan dan direksi perusahaan semen di Bogor, Presiden SBY menyampaikan beberapa harapan dan arahan. Salah satu hal yang disampaikan yakni bahwa unjuk rasa bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah/konflik. Penyelesaian terbaik adalah duduk bersama dan berdialog. Benarkah demikian?


Di lebih dari 25 negara peringatan May Day identik dengan aksi turun ke jalan (show of force). Tahun lalu, sekitar 1 juta buruh di 22 provinsi se-Indonesia turun ke jalan. Sejak peringatan May Day tahun 1999 hingga 2013 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh masuk kategori “membahayakan ketertiban umum”. Yang terjadi malahan tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh.
Lantas apa yang dikhawatirkan Presiden?. Saya lebih heran lagi saat mengetahui ada seorang Menteri dan sebagian masyarakat yang justru menyayangkan kalau hari libur May Day kali ini dimanfaatkan buruh untuk demo. Lalu apa yang Anda harapkan? Konvoi buruh berjamaah ke bioskop buat nonton manusia laba-laba?. Gila.

Kita tahu ada dua pendekatan dalam penyelesaian konflik. Pendekatan dialogis dan pendekatan konfrontatif. Kapan mesti menggunakan pendekatan dialogis dan kapan terpaksa memakai pendekatan konfrontatif (baca: unjuk rasa)?
Kalau jurang kesenjangan terlihat jelas, rakyat miskin lapar membusuk dan kebakaran sosial menjamur apakah masih terbuka pintu dialog?
Ketika penyelamat utama TKI yang terancam pancung diluar negeri adalah para pegiat LSM (bukan Pemerintah) masih percayakah kita dengan dialog?. Kalau DPR mandul dan fungsinya digantikan kekuatan sosmed atau petisi movement people masih yakinkah kita dengan jalur dialog?. Bila peluang manusia lokal untuk bekerja terbunuh melalui penandatangan pakta perdagangan bebas, masih optimiskah kita dengan dialog?
Pemerintah buta. Jelas kita belum siap dengan pasar bebas. Jurang kekuatan modal, teknologi dan kompetensi kita dengan negara lain begitu besar. Dengan 90% “unskilled workers”, social &  reputation capital babak belur masihkah berharap pada pasar bebas?
Di era pasar global nanti negara kita tak ubahnya seperti ayam pincang yang datang ke mulut buaya untuk siap dimangsa.  Lihat Negara lain! Jepang, Malaysia, Singapura, Tiongkok. Sangat jelas. Mereka menata dan memperkuat daya saing bangsanya terlebih dulu, baru membuka diri. Bukan kebalikannya, sistem negara masih auto-pilot, kita sudah dolanan ke kandang buaya.

MESTINYA BERHUBUNGAN
Di Kanada, May Day diperingati tiap Senin pertama bulan September. Di Australia tiap senin pertama bulan Oktober. Di Indonesia hari buruh diperingati tiap 1 Mei.  Sehari setelahnya adalah Hari Pendidikan Nasional dan hanya selang beberapa hari ada Hari Kebangkitan Nasional. Semua di bulan Mei. Sungguh menarik. Apakah ini sebuah kebetulan?. Pikiran saya ngelantur. Hubungan tanggal ini adalah sebuah petunjuk : kesejahteraan buruh hanya bisa diwujudkan dengan sumber daya terdidik dan terlatih dengan baik. Buruh yang kuat dan profesional dapat meningkatkan produktifitas nasional yang berujung pada kebangkitan nasional.
Stigliz keras memberitahu kita kalau ada hal yang terpenting dalam hidup manusia, hanya satu, itu adalah pekerjaan. Dan bicara tentang pekerjaan, maka itu jelas tentang pendidikan.
John Naisbitt pernah mengingatkan kita : “Jika negara Anda ingin menjadi pemain dalam perekonomian global, pioritas ekonomi nomer satu Anda haruslah pendidikan, sebagai individu maupun negara”. Pendidikan identik dengan masa depan. Kehormatan bangsa dan kualitas Human Development Index kita disana. Bukan hal aneh kalau ada yang berkata, “Tanpa pendidikan, Anda tidak memiliki masa depan”. Dengan pendidikan yang terarah rakyat akan paham apa yang sesungguhnya mereka butuhkan untuk memperbaiki hidup.
Krisis sosial dan kemerosotan moral bangsa yang kita rasakan saat ini adalah “hasil panen” atas kelalaian Pemerintah memperhatikan pendidikan pada 10-15 tahun lalu.

image

Anak SD bunuh diri

Kita mesti berani mengakui bahwa saat ini telah terjadi proses pembusukan di masyarakat. Suguhan hiburan semakin heboh, unsur pendidikan kian langka. Media secara massif menyajikan hiburan tanpa batas. Ada skenario besar menjatuhkan moral dan kehormatan bangsa ini. Mulai acara talk show, gosip sampai barisan artis bahenol yang bergoyang dan bernyanyi secara live dengan ratusan orang bisa kita temui tiap harinya. Ditambah lagi acara kuis murahan dan film pembuai mimpi-pemberi harapan selangit jauh dari realitas. Agaknya kita sepakat beranggapan kalau fasilitas untuk memanjakan mata-telinga, joget massal serta sarana cangkruk di Mall, cafe dan trotoar jauh lebih diperlukan masyarakat ketimbang pendidikan. Celakanya para elit dan pemimpin kita bergeming. Tidak nampak grand design futuristik dan kerja kolektif yang kuat untuk mengubah budaya konsumtif hiburan menjadi budaya produktif.

BANGUN, JANGAN TERLENA

Arus perubahan global maha dahsyat telah datang dan mengancam bangsa ini. Alan Greenspan menyebutnya turbulence era. Perubahan terjadi di segala bidang dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Pasar menjadi arena hiperkompetisi yang memaksa manusia terus-menerus memperbaiki diri dengan kecepatan tinggi. Hal ini jelas berdampak dipasar kerja.
Daniel Pink mengatakan abad 21 adalah era konseptual. Tata kerja dan cara hidup berubah total. Pencipta dan pendorong utama pertumbuhan ekonomi berada di tangan manusia unggul yang kreatif dan berotak super. Kegagalan melihat masa depan dan terbatasnya kemampuan memahami perubahan adalah penyebab kematian perusahaan dan negara. Otak manusia menjadi begitu berharga untuk memenangkan a war of talent, perang dahsyat antar perusahaan memperebutkan manusia super. Mereka yang tanpa knowledge and skill tidak memiliki tempat dan sulit bertahan hidup di pasar global.

Pasar global memiliki aturan dan standar yang jelas. Efisiensi, efektifitas, produktifitas dan unjuk kerja diukur cermat dalam patokan uang dan waktu. Tegasnya, pekerja otot perlahan tersingkir dari muka bumi, otomatisasi merambah segala hal –tak terkecuali sektor analitis. Di Amerika 22 juta orang telah mengganti pekerjaan akuntan dengan software murah nan sederhana. Tom Peters mencatat 90% pekerjaan white collar terancam hilang. Bagaimana dengan peluang kerja? Pekerjaan rutin dan monoton pasti lenyap. Offshore untuk knowledge based worker. Manufaktur dan back office terus mencari tempat dan cara yang lebih murah. Outsource. (A. Djatmiko, 2007).

Saya teringat joke miris tentang kondisi perusahaan canggih pengolah makanan di masa depan. Ratusan pekerja yang ada diproses produksi posisinya digantikan hanya oleh 1 orang lelaki dan seekor anjing. Keduanya dibayar mahal dan ditempatkan di ruang control room dengan berbagai panel komputer yang menggerakkan mesin produksi secara automation system. Tugas utama lelaki tersebut adalah memperhatikan panel, sedangkan tugas utama anjing tadi adalah menggigit keras tangan si lelaki kalau-kalau ia dengan sengaja menyentuh panel yang ada.
Oh iya, belum sampaikah ke telinga Anda kalau uji coba Google dan beberapa pabrikan mobil dunia telah sukses besar mewujudkan teknologi autonomous car atau self driving car?. Langkah selanjutnya tinggal menunggu regulasi. Ini karena  90% lakalantas disebabkan kesalahan pengemudi, maka fitur keselamatan secanggih apapun dianggap percuma, pilihan yang “bijak” adalah menghilangkan peran pengemudi. Artinya apa? Profesi sopir akan langka di masa depan.

NEGERI SEOLAH-OLAH
Di televisi saya menyaksikan beberapa buruh dimintai opininya tentang May Day sebagai hari libur nasional. Mereka tampak senang lalu berterimakasih pada Pemerintah. Sadarlah! Libur May Day bukanlah hadiah. Tidak perlu berterimakasih. Boleh jadi ini strategi Pemerintah untuk melenakan agar seolah-olah ada yang peduli dengan kondisi buruh. Buruh lebih butuh sejahtera ketimbang hari libur.
Presiden pernah menyebut TKI yang terusir dari negeri tetangga sebagai pahlawan (pahlawan devisa). Ini jelas eufemisme untuk melenakan rakyat. Apalagi presiden adalah opinion maker. Runyam, jumlah TKI bisa membludak.

Semakin banyak pahlawan mestinya negara ini semakin disegani dan dihormati. Nyatanya tidak. Menjadi Pahlawan adalah pilihan, menjadi TKI itu keterpaksaan. Terpaksa meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan istri/suami, terpaksa menerima penyiksaan atau perlakuan hina, dsb. Kisah pilu mereka sering terdengar di media. TKI adalah korban salah urus negara. Mereka bukan pahlawan, hanya seolah-olah saja terkesan sebagai pahlawan. Masih banyak eufimisme lain. “Nilai tukar Rupiah anjlok” dibilang “melemah”, “Penjarah ekonomi” disebutnya “Pengusaha nakal”. Di Tiongkok kita tidak akan menjumpai pengusaha nakal, karena yang masuk kategori nakal sudah pasti dihukum pancung.

Kita hidup di negara yang seolah-olah. Heap of delusions. Perhatikan kondisi carut-marut sekeliling kita. Penegakan hukum seolah-olah ada, padahal tidak!. Hukum gampang dibeli, membuat korupsi tak kunjung berakhir. Penjara seolah-olah ada untuk menghukum koruptor bajingan. Nyatanya fasilitas mewah dan perlakuan istimewa justru ada dipenjara!. Jaminan kesehatan seolah-olah hadir, realitanya, layanan kesehatan yang baik dan berkualitas sulit dijangkau rakyat miskin. Sistem negara seolah-olah ada dan berjalan, faktanya, negara ini dikuasai mafia dan dicengkeram kapitalis global. Negara seolah-olah peduli pada rakyat padahal tidak. Pemerintah yang memperingatkan rakyatnya bahwa aktifitas merokok bisa membunuh tentu tidak akan membiarkan perusahaan rokok tumbuh besar dan iklannya mudah dilihat oleh anak ingusan.

Selang beberapa hari lagi kita memperingati Kebangkitan Nasional. Sudah 1 abad lebih Harkitnas diperingati tapi kapankah bangsa kita bisa benar-benar bangkit?
Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, tema besar May Day 2014 adalah “Menata Ulang Indonesia, Mewujudkan Negara Sejahtera”. Pertanyaannya “Sejahtera seperti apa yang dimaksud?”. Negara ini bisa sejahtera kalau pemimpin kita minimal telah melakukan 4 hal. Pertama, berbuat dan bertindak serius untuk melindungi rakyat banyak. Artinya, fokus. Segala keputusan yang diambil adalah benar-benar untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk  kelompok, partai atau segelintir orang. Bukan pula untuk kapitalis lokal maupun kapitalis global.
Kedua, mengelola kekayaan tambang, hutan, laut, panas bumi, bank, telekomunikasi, budaya atau apa saja yang memiliki nilai ekonomis untuk diberikan sepenuhnya pada rakyat.
Ketiga, memiliki desain antisipatif yang detail, futuristik, kreatif dan transparan untuk menghadapi tantangan global sehingga rakyat paham mereka mau dibawa kemana serta bekal apa yang harus mereka miliki. Keempat, menegakkan disiplin dan hukum tanpa pandang bulu, serta kejahatan korupsi dan narkoba dihukum seberat-beratnya.

Dalam buku “Dilema Bangsaku” saya pernah menemukan sebuah joke tentang welfare states : “Alkisah, semua kepala Negara dipanggil Tuhan. Mereka diberi kesempatan bertanya, kapan negeri mereka akan sejahtera? Saat presiden Amerika keluar dari kamar Tuhan, dia menangis, 10 tahun lagi. Berikutnya PM Jepang juga menangis, 12 tahun lagi. PM Italia menangis lebih keras, 20 tahun lagi. Tetapi saat giliran Indonesia, ditunggu lama tidak juga keluar. Mengejutkan, yang keluar bukan presiden Indonesia tetapi Tuhan sambil menangis tersedu-sedu”.
Sebentar lagi pemilu pilpres digelar, adakah kita memiliki calon pemimpin yang mau dan berani melakukan 4 hal diatas?. Kalau belum, maka joke “Tuhan menangis” diatas akan menjadi kenyataan. Bersiaplah.***

Advertisements

About muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Penulis Buku dan Followership Practitioner pertama di Indonesia (Tersertifikasi oleh Ira Chaleff, Belgium-2017). Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insyaa Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.5 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: