“Saya makin tua. Itulah sebabnya saya mengundurkan diri, . . .”
Itu pernyataan dari Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad ketika mundur dari jabatan penasihat di Petronas pada desember 2013 silam. Usia Mahathir saat itu 88 tahun dan sudah hampir 10 tahun menjadi penasihat Petronas. Apakah seluruh publik Malaysia menanggapi positif maklumat tersebut?. Tidak. Banyak masyarakat, anggota parlemen dan terutama simpatisan partai berkuasa saat itu (Umno) yang mencibir kemunduran Mahathir sebagai kemunafikan dan kamuflase belaka. Pada intinya mereka berpendapat bahwa Mahathir tidak mungkin melepas begitu saja pengaruhnya di Petronas, mengingat keluarganya memiliki kepentingan di bisnis migas serta banyak hal untuk dipertaruhkan jika memutus hubungan dengan perusahan tersebut.
“Mas Muhsin nama anaknya siapa?”
“Saya ndak punya anak, Dek”.
“Lha, itu yang kemarin digendong pas sholat tarawih anaknya sapa?”
“Oh, itu anaknya istri saya. Kan yang melahirkan istri, bukan saya. He..he”.
“Yah, bisa aja Mas ini. Kalau anak saya sudah dua, Mas. Yang kecil namanya si “*!}[^%$#>”, dan yang satunya lagi namanya..bla..bla..bla..bla.
“Wah, namanya kok susah disebutnya”
“Iya Mas, agak susah dikit, tapi keren kan Mas. Se-Sidoarjo ndak ada yang ngembari“.
Saya menulis artikel ini bukan sebab pernah dikecewakan oleh manajemen situs jual-beli (sijubel) online, tapi karena pernah menjadi korban dari orang-orang tidak bertanggungjawab yang memasang iklan di situs online tersebut. “Orang tidak bertanggungjawab” barangkali istilahnya masih halus, kita sering menyebutnya “Penipu”. Teman saya bahkan mengatakannya dengan sebutan “Laknatullah ‘alaik”. Kebetulan saya punya akun di salah satu sijubel online sejak dua tahun lalu. Situs ini dulu namanya ada 9 huruf, sekarang berubah jadi tinggal tiga huruf. Alhamdulillah saya sudah termasuk verified member. Beberapa kali saya menjual barang-barang bekas lewat akun tersebut dan kesemuanya untung, aman dan lancar jaya.
Menjelang lebaran seperti sekarang ini, di samping deg-degan dan galau menunggu hasil sidang isbat Kemenag untuk menentukan awal syawal, ada tradisi unik yg mungkin hanya dilakukan oleh umat Islam Indonesia, yaitu tukar uang baru/receh. Penulis rasa, tradisi ini berkaitan erat dengan tradisi lainnya yang juga mungkin hanya ada di Indonesia, khususnya pada setiap momentum lebaran, yaitu angpao, orang jawa biasa menyebutnya wisit. Semacam bagi rezeki untuk anak-anak kecil yg diberikan oleh sebagian orang tua kepada keluarganya, maupun anak-anak dari masyarakat sekitar.
Pada tulisan singkat ini, penulis ingin mencoba membuat analisa tentang hukum tukar uang baru/receh ini, ditinjau dari berbagai segi. Penulis sangat berharap masukan dan koreksi dari semua pembaca. Semoga bermanfaat.
Yang saya tulis ini barangkali sepele, cuma soal interaksi dengan petugas check in counter di Bandara. Akhir-akhir ini saya memang sering bepergian keluar kota dengan pesawat. Salah satu hobi saya adalah “menggoda” petugas bagian check in. Eits, jangan negatif thing-thing dulu, yang dimaksud menggoda disini dalam hal positif lho Bung. Tiap saya mengantri di depan meja check in seringkali saya dapati petugas yang berjaga disana terlihat KSL2MS (baca: Kesel to Mas) artinya Kurang Semangat, Lesu, Lelah dan Minim Senyum.
Dibanding tanggal 18 Juni di tahun-tahun sebelumnya, khusus 18 Juni hari ini terasa beda. Ini barangkali karena umur saya genap tiga puluh tahun. Usia yang tidak lagi muda. Dulu waktu umur masih kepala dua sewaktu ada yang tanya saya kelahiran tahun berapa, pertanyaan itu biasanya saya jawab “Masih kepala dua”. Orang yang bertanya biasanya menjawab, “Wah, masih muda nih. So young, so many roads to go“. Sekarang tentu saya tidak bisa lagi “berbangga” dengan jawaban yang sama, karena kalau saya maksa nge-jawab “Masih kepala tiga”, orang-orang pasti berpikiran kalau umur saya 38 atau 39. Celaka. ^_^
Akhir april 2014 lalu, sambil makan siang bersama karyawan dan direksi perusahaan semen di Bogor, Presiden SBY menyampaikan beberapa harapan dan arahan. Salah satu hal yang disampaikan yakni bahwa unjuk rasa bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah/konflik. Penyelesaian terbaik adalah duduk bersama dan berdialog. Benarkah demikian?
Meski sudah memasuki era digital, namun jumlah buku yang diterbitkan di suatu negara menjadi salah satu tolak ukur kemajuan negara tersebut. Negara yang maju dan sejahtera masyarakatnya cenderung mencintai hal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis. Menurut statistik yang ada, negara kita dalam hal menulis dan menerbitkan buku masih tertinggal jauh dengan Negara-negara lain. Jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun (kompas.com, IBF, November 2012).

Semenjak berhubungan dengan Lembaga Kemanusiaan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) terkait penjualan buku “The Jongos Ways” (TJW) saya jadi memiliki banyak kenalan orang-orang mulia yang mendedikasikan hidupnya di bidang sosial dengan menjadi relawan kemanusiaan. Diantara dari mereka berprofesi sebagai praktisi kesehatan dan dokter. Beberapa darinya memang sudah STW alias setengah tua (dengan badan tegap dan masih terlihat enerjik sekali), namun banyak juga yang masih muda dengan semangat menyala-nyala mengalir dari pancaran matanya.
Alhamdulillah saya sudah pernah bertemu dengan ketua BSMI pusat di Jakarta, bahkan ketika launching buku TJW beliau berkenan jauh-jauh datang dari Ibu kota untuk menyempatkan hadir dan mengucapkan selamat. Beberapa kali komunikasi via telpon maupun pertemuan langsung selalu terbungkus suasana bersahaja, santun dan menyenangkan. Tidak jauh berbeda, ketika saya bersilaturahim ke kantor BSMI cabang Surabaya serta diundang menghadiri acara Munas BSMI Jatim dan juga Diklat relawan mereka suasana “kesederhanaan” juga jamak saya temui dari sosok-sosok pribadi mereka. Bahkan beberapa dokter yang saya kenal benar-benar tampil “membumi” dan jauh dari kesan angkuh, keminter apalagi elegan.
You must be logged in to post a comment.