Road to 2023
SakBUKU

Gerakan Satu Karyawan Satu Buku (SAKBUKU)


“Bangsa ini tidak akan pernah besar selama rakyatnya malas menulis dan malas menerbitkan buku.”

BukuMeski sudah memasuki era digital, namun jumlah buku yang diterbitkan di suatu negara menjadi salah satu tolak ukur kemajuan negara tersebut. Negara yang maju dan sejahtera masyarakatnya cenderung mencintai hal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis. Menurut statistik yang ada, negara kita dalam hal menulis dan menerbitkan buku masih tertinggal jauh dengan Negara-negara lain. Jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun (kompas.com, IBF, November 2012).

Jumlah produksi buku kita hampir setara dengan Vietnam dan Malaysia. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk masing-masing negara tersebut, produksi kita tergolong rendah, Ini karena jumlah penduduk mereka hanya sepersepuluh dari jumlah penduduk kita Indonesia.

Belum lagi bila dibandingkan dengan Negara yang minat bacanya tinggi seperti Mesir, Tunisia,dan Maroko. Terlampau jauh mereka meninggalkan kita. Mesir dengan jumlah penduduk 80 juta jiwa mampu menerbitkan lebih dari 10.000 judul buku baru per tahun. Angka yang fantastis untuk jumlah penduduk yang sedemikian kecil dan angka buta huruf yang tergolong tinggi : 30%.

Pertanyaannya adalah mengapa banyak orang Indonesia yang tidak menulis/menerbitkan buku? Jawabannya bisa banyak : mulai dari tidak berbakat, sibuk cari duit, sibuk sekolah, belum punya ide nulis, sampai masalah pajak penerbitan buku bisa disangkut-pautkan menjadi alasan. Apapun jawaban yang bisa terpikirkan sebenarnya jawaban yang paling sederhana adalah : karena kita malas dan memang tidak ingin menulis buku.

Padahal sebuah buku bisa bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun. Buku adalah “artefak abadi” yang bisa kita wariskan pada anak-cucu-cicit di masa depan. Seandainya Anda menulis buku maka ratusan tahun dari sekarang Anda masih tetap bisa “menyapa” dan menginspirasi cucu/cicit Anda meskipun jasad Anda sudah menjadi tulang-belulang di dalam kubur. Lebih lagi jika buku yang kita tulis ternyata bermanfaat dan membuat orang yang membacanya menjadi lebih baik. Silahkan Anda bayangkan sendiri pahalanya.

Berikut ini adalah ide sederhana. Ini gerakan sederhana, namun mewujudkannya belum tentu sederhana. Saya memiliki angan-angan bahwa gerakan ini akan menjadi salah satu cikal bakal munculnya Gerakan Nasional Indonesia Menulis Buku dalam jumlah yang sangat massif di masa mendatang. Apakah Anda seorang karyawan/pekerja yang ingin jadi penulis buku? Belum ada ide menulis buku apa namun punya kemauan kuat menulis buku? Atau punya ide untuk nulis buku tapi merasa sulit mewujudkannya? Atau barangkali Anda tidak minat menulis buku tapi mau berpartisipasi meningkatkan jumlah penulis di Indonesia? Kalau jawaban Anda adalah “Ya”, maka mengapa kita tidak bersinergi bersama untuk menulis buku?. Ayo gabung dalam gerakan ini.

Logo SakBuku

Gerakan Satu Karyawan Satu Buku (SAKBUKU)

Dibentuk pada tanggal 18 April 2014.

VISI : Mewujudkan lahirnya 1000 (Seribu) Orang Penulis Buku yang berasal dari karyawan berbagai daerah di Indonesia

MISI :

  • Membentuk komunitas karyawan menulis (KawanNulis) yang beranggotakan karyawan maupun staf perusahaan, lembaga pendidikan/non pendidikan, organisasi nirlaba serta organisasi masyarakat.
  • Memfasilitasi media interaksi online sebagai sarana komunikasi, diskusi dan sharing knowledge/experience antar karyawan untuk belajar hal-hal terkait penulisan buku.
  • Mengadakan pelatihan/workshop/seminar menulis buku untuk karyawan
  • Membantu konsultasi dan pendampingan penulisan buku bagi karyawan yang ingin menulis maupun menerbitkan buku

BAGAIMANA CARA BERGABUNG DENGAN GERAKAN SAKBUKU?

Gampang. Silahkan isi formulir ini atau kirimkan biodata Anda (Nama, Alamat, Pekerjaan dan alasan bergabung) ke alamat : muhsinbudiono@gmail.com

It’s not just the books under fire now that worry me. It is the books that will never be written. The books that will never be read. And all due to the fear of censorship. As always, young readers will be the real losers. [Judy Blume]

 

If there is a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, you must be the one to write it. [Toni Morrison]

Advertisements

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan khusus dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.2 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

Advertisements
%d bloggers like this: