Dalam sebuah kunjungan ke suatu daerah miskin seorang Presiden bertanya kepada seorang Ibu tua penjual kue.
“Sudah berapa lama jualan kue, Bu?”, tanya Presiden,
“Sudah hampir 30 tahun, Pak”, jawab Ibu penjual kue.
“Terus anak ibu mana? Kenapa tidak ada yang bantu?”, tanya presiden lagi.
“Anak saya ada empat, yang pertama di KPK, kedua di Polda, anak ketiga di Kejaksaan, dan yang keempat di DPR. Jadi mereka sibuk sekali, Pak.”, jawab sang ibu penjual kue itu.
Kawan-kawan semua,
Saya mendapatkan cerita ini dari seorang sahabat. Katanya kisah dalam cerita ini ditujukan tidak hanya untuk mereka yang bergender laki-laki saja, tapi juga bisa untuk renungan buat mereka yang mengaku kaum hawa. Setelah bercerita, ia menasehati kalau mereka-mereka yang merasa tidak puas dengan pasangan hidupnya saat ini bisa melakukan introspeksi melalui kisah ini. Daripada penasaran berikut kisah dari “Toko Istri” tersebut :
Sistem saran atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Suggestion System (SS) dibawa ke Jepang oleh Pelatihan dalam Industries (TWI) dan US Air Force. Saat eksekutif Jepang yang berkunjung ke Amerika Serikat setelah perang dunia, mereka belajar tentang sistem saran dan memulainya di perusahaan mereka.
Lantas bedanya apa antara SS Amerika dan SS di Jepang?. Meskipun sama-sama SS tapi terdapat perbedaan antara keduanya.
Sistem saran bergaya Amerika menekankan manfaat akan keuntungan ekonomi dan menyediakan insentif/bonus.
Sedangkan sistem saran gaya Jepang menekankan peningkatan moral dari partisipasi karyawan yang positif.
Sebagai seorang Dahlanisti (sebutan bagi fans Dahlan Iskan) yang baik, saya merasa perlu dan wajib untuk mem-posting tentang para punggawa yang siang malam bekerja keras mewujudkan mobil listrik nasional bisa lahir dari rahim Ibu pertiwi. Biar gaungnya semakin keras dan semakin menusuk di hati setiap rakyat Indonesia. Sangat optimis kalau kita bisa segera menjadi produsen mobil listrik dan dengannya turut berpartisipasi dalam “perang” melawan BBM yang semakin langka dan mahal.
Punggawa mobil listrik terkenal dengan istilah pandawa putra petir. Disebut pandawa karena jumlahnya ada lima. Putra petir pada awalnya didahului oleh tulisan Manufacturing Hope-nya Pak Dahlan yang berjudul berjudul Saatnya Putra Petir Harus Melawan. Untuk bisa menyimak semua tulisan Pak DIS mengenai mobil listrik silahkan mengunjugi klipblog (kumpulan tulisan Pak DIS) yang dibuat oleh salah satu Dahlanisti juga di alamat : http://dahlaniskan.wordpress.com/. Terimakasih Pak DIS. Panjang umur dan sehat selalu.
Tetap optimis dan istiqomah.
Maju terus anak bangsa. Jayalah Indonesiaku.
Tulisan terbaru tentang hasil uji coba mobil listrik silahkan klik disini.
Silahkan Kontak saya.
Untuk bisa saling sapa, curhat pengembangan diri, berdiskusi atau mengundang saya dalam acara pelatihan/kajian/seminar bisa melayangkan email ke: muhsinbudiono@gmail.com.
Semoga manfaat.
Tetap istiqomah.
Muhsin
Demi Tempat Duduk, Siswa SD di Brebes Masuk Jam 3 Pagi !!
Untuk mendapatkan kursi duduk pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2012, siswa SD di Brebes rela berangkat jam 3 pagi. Padahal sekolahan belum dibuka.
Gambar sebelah kiri : Berian tersenyum senang mendapatkan kursi depan meski berangkat jam 3 pagi. (gambar lainnya di artikel ini cuma ilustrasi/bukan foto-foto murid SD di Brebes).
Mungkin inilah cara unik dan fenomenal yang dilakukan hanya oleh para siswa baru di SD Negeri Pasar Batang 4, Brebes. Setiap tahun ajaran baru tiba, para siswa menyambutnya dengan antusias serta rela berangkat ke sekolah sejak dinihari hanya untuk memperebutkan kursi yang diinginkan.
Alkisah, ada seorang jongos yang sudah beberapa kali terlambat datang ke kantor. Walhasil dia dipanggil sang atasan untuk menghadap ke ruangannya. Pada atasan yang pandai memotivasi, biasanya “teguran” yang dilayangkan pada sang Jongos menggunakan bahasa komunikasi assertive. Komunikasi assertive merupakan komunikasi yang berdiri pada titik tengah antara komunikasi pasif dan agresif dimana komunikasi ini mengedepankan cara pandang mengemukakan pendapat dan perasaan tanpa memaksakan kehendak serta tidak melanggar hak-hak orang lain. Kira-kira teguran yang bernuansa assertive itu seperti ini :
Entah kenapa saya sungguh tertarik dengan bidang teknologi automation system semenjak pertama kali diimplementasikan pada Terminal BBM di lokasi kerja saya di Surabaya. Ini barangkali karena automation system menjawab hampir seluruh permasalahan yang muncul di lapangan. Ia memudahkan pekerjaan, membuat protokol dan informasi kerja yang jelas, meningkatkan efektifitas-efisiensi, memperketat sekuritas serta meminimalisir human error. Well, masih banyak manfaat lain dari automation system yang tidak bisa satu-persatu disebut disini.
Tenang saja, disini saya tidak akan menjelaskan tentang teknologi automation system. Tulisan kali ini adalah kisah tentang seorang Jongos yang menerapkan salah satu prinsip automation system, maka dari itu judulnya menjadi human automation.
“Sukses memiliki satu formula sederhana : Kerjakan dengan sebaik-baiknya, dan orang lain mungkin menyukainya. (Sam Ewing)”
Bayangkan Anda sedang mengikuti lomba lari tingkat nasional atau barangkali lomba makan krupuk tingkat RT dilingkungan Anda tinggal. Dalam lomba tersebut tekad yang muncul adalah bagaimana bisa lebih cepat mencapai garis finish atau lebih rakus melahap sebuah krupuk berlumur kecap dibanding dengan peserta lain yang mengikuti perlombaan. Dalam perlombaan, semangat yang ada adalah bagaimana Anda bisa lebih cepat, lebih lahap, lebih tepat, lebih teliti, dsb. Sebut saja lomba lari, lomba renang, lomba balap sepeda, lomba panjat dinding, lomba memancing, dsb. Jadi untuk suatu perlombaan kata kuncinya adalah : Pencapaian prestasi tertinggi, tercepat dan terbaik.
You must be logged in to post a comment.