Seringkali seseorang yang bekerja sebagai Jongos memiliki paradigma yang kurang benar (baca: keliru) terhadap terminologi ‘Karyawan’. Karyawan biasanya diartikan sederhana sebagai orang gajian belaka, yaitu orang yang menerima gaji/upah sebagai imbalan karena ia telah memberikan tenaga, pikiran ataupun keterampilan yang dimilikinya.
Anda tahu, paradigma (mindset) adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi kehidupan. Stephen Covey pernah berseloroh : “Jika engkau hanya menginginkan perubahan kecil dalam hidupmu, ubahlah perilakumu. Jika engkau menginginkan perubahan dahsyat dalam hidupmu, ubahlah paradigmamu”. Sejatinya ia benar. Karyawan yang hanya menganggap dirinya sebagai orang gajian maka akan sulit mengaktualisasikan diri meskipun telah dibekali banyak pengetahuan dan keterampilan. Sambil koreksi diri, dulu saya sering mengatakan, “Kalau mau kaya ya harus jadi pengusaha”, nah ternyata ini juga termasuk kalimat yang kurang benar. Sebab biarpun jadi pengusaha dan jungkir-balik siang malam tapi mindset yang dimiliki masih ‘mindset non pengusaha’ maka hasilnya akan jalan ditempat atau sulit berkembang.
Ini kisah di tempat kerja saya. Kemarin saya berbincang-bincang dengan seorang petugas Cleaning Services yang perawakannya lumayan tambun alias subur. Hampir setiap hari saya memperhatikan kalau ada yang kurang beres dari penampilannya. Yang kurang beres itu apa ya? Kok kurang kerjaan banget sih mas, sampai harus memperhatikan penampilan seseorang. Dasar . . . (+_+)
Sejak kemarin sore hingga malam ini, suara motor dengan knalpot bodong hasil modifikasi berteriak meraung-raung di jalanan depan kantor saya. Mudah diduga kalau pemiliknya adalah para remaja tanggung dari kampung. Rambut alay, kaos lusuh, kulit gosong dan alas kaki seadanya adalah ciri-cirinya. Saya berani taruhan kalau isi dompet mereka tidak lebih dari 50 ribu rupiah. Continue reading
Kawan-kawan semua,
Melalui email, hari ini saya mendapat kabar kelahiran anak pertama dari rekan kerja saya di Surabaya. Sebenarnya putri pertama kawan saya ini lahir di hari kamis (27.12.2012) tapi kabar-kabarinya baru hari ini. Alhamdulilah, cukup senang mendengarnya. Lahir dengan berat 3.3 kg dan panjang 49 cm dan diberi nama Hafidza Khaira Lubna Arsin. Nama yang cukup keren dan islami.
Sedikit mengomentari nama ini, untuk tiga kata yang awal sepertinya sudah cukup mafhum dan tidak membuat alis saya berkenyit. Tapi untuk kata yang terakhir itu lho, kesannya kok agak aneh ya. Mungkin sedikit maksa. ^_^.Tebakan saya itu gabungan nama dari Abinya. Cukup kreatif meskipun artinya tidak ada. Mungkin kalau diganti jadi “Arta” artinya jadi harta/uang (dalam bahasa jawa). Tapi bagaimanapun untuk seorang anak perempuan nama ini cukup oke, daripada nama Abinya tidak digabung/disingkat sama sekali. Barangkali ada anak perempuan nama belakangnya diambil dari nama Bapaknya langsung : Sasongko, Budiono, Cahyono, Kustari, Suwandi, dsb. Kesannya agak aneh. Tapi penilaian itu terserah Anda, Silahkan dinilai sendiri ^_^. Continue reading
Kawan-kawan semua,
Sebagai seorang kakak yang baik hati dan sebagai seorang pekerja yang mencintai tempatnya bekerja, saat ini saya ingin berbagi info penting di bulan Oktober 2012. Asal tahu saja kalau blog ini hanya “memajang” sesuatu yang penting dan kalaupun ternyata bagi Anda apa yang dipajang di blog ini tidaklah penting maka saya berpesan agar Anda tidak perlu sampai mual-mual lantas beristighfar 33 kali. Namun, apapun pendapat yang muncul saya haqqul yakin kalau yang benar-benar penting bagi Anda dalam blog ini adalah foto saya yang cukup manis setengah unyu. He..he.
Lantas, info pentingnya apa Mas?
Buat kamu-kamu yang saat ini masih berprofesi sebagai Pengacara (Pengangguran banyak acara) atau lagi berstatus ‘galauers’ sebab ingin mencari tempat berkarya yang lebih baik, maka inilah info pentingnya :
Kawan-kawan semua,
Selepas “melayani” konsultasi dengan tiga orang mahasiswa di sebuah masjid kampus, sebelum membaca doa kafaratul majelis salah seorang mahasiswa didepan saya mengajukan pertanyaan diluar dugaan. Mas, apakah seorang Trainer harus berani menatap mata seseorang yang bertanya dihadapannya?.
“Kenapa kok nanya gitu Dek?”, saya pun balas bertanya.
“Karena dalam diskusi kita tadi saat ada pertanyaan saya perhatikan mas jarang berkedip dan selalu menatap mata saya” jawabnya.
“O, tatapan saya bikin takut ya? Atau jangan-jangan mata mas ada belek-nya? (belek : kotoran mata).
Sejenak kami tertawa. Setelahnya baru saya tahu kalau rupanya mereka tidak terbiasa menatap lawan bicara pada saat berbicara di depan forum.
Saat itu karena ada agenda di tempat lain maka saya putuskan untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui tulisan di blog saja. Sebab insya Allah menjelaskan melalui tulisan dapat lebih jelas dan terstruktur ketimbang melalui lisan secara langsung.
Untuk sementara inilah tulisan yang bisa saya persembahkan :
Kawan-kawan semua,
Ini cerita tentang kegalauan hati saya. Beberapa hari yang lalu saya membeli hand phone (HP) baru untuk menggantikan HP sebelumnya yang bermasalah. Ini adalah HP low end dengan harga yang sangat terjangkau namun berfitur cukup memukau. Orang bilang “Fitur bintang lima harga kaki lima”. Harganya kira-kira setara dengan 70 bungkus nasi goreng di bakul gerobak pinggir jalan. Edan, masak HP dibandingin nasi goreng. Yah, maklumlah, itu pembanding yang tiba-tiba terlintas dipikiran saya saat menulis artikel ini. Tapi, apapun pendapat Anda saya haqqul yakin kalau Anda belum pernah membeli nasi goreng sebanyak itu dalam sehari pada satu orang penjual.
Ini adalah sebuah kisah menyentuh. Bagi Anda yang mudah sekali terharu disarankan agar jangan menyiapkan sapu tangan atau tissue untuk persiapan menyeka air mata.
Dan cerita inipun dimulai,
Suatu pagi yang cerah seorang anak kecil bernama Syamil melihat seekor anak kucing yang sedang tidur di trotoar di seberang jalan. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba Syamil memutuskan menyeberangi jalan yang cukup ramai tersebut untuk menghampirinya.
Kawan-kawan semua,
Alkisah, ada seorang kenalan saya yang mengeluh karena memiliki atasan yang menurutnya tidak kompeten dalam memegang jabatan sebagai Supervisor. Kenalan saya ini umurnya masih 24 tahun, sementara atasannya berumur 49. Selidik punya selidik ternyata atasannya adalah mantan orang lapangan yang selama 20 tahun lebih terbiasa jungkir balik mengatasi permasalahan-permasalahan dilapangan ketimbang urusan administrasi dan sistem perkantoran.
You must be logged in to post a comment.