Belajar Ikhlas
Bagi sebagian orang, ikhlas merupakan kegiatan atau aktifitas amaliah yang sulit untuk dilakukan, namun bagi sebagian besar lainnya ikhlas adalah suatu hal yang mudah dan sederhana untuk diamalkan. Adapun mengapa kita harus senantiasa ikhlas? Benarkah ikhlas itu merupakan suatu amalan yang sulit? Sungguhkah ikhlas merupakan kunci menjadi hamba Allah yang luar biasa? Tulisan singkat ini semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan diatas. Continue reading
Dalam hidup, terkadang –atau bahkan sering- kita jumpai kesulitan demi kesulitan datang silih berganti dengan kemudahan. Seakan-akan keduanya menjadi fitrah yang mewarnai perjalanan manusia mengarungi indahnya bahtera kehidupan sampai ajal datang menjemput. Bila Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan kesulitan atau kesempitan maka yakinlah terhadap satu hal : bahwa Allah tidak bertujuan menyengsarakan hamba-Nya. Kesempitan, bala’ dan musibah dititipkan Allah pada kita adalah untuk menguji kesabaran dan kesungguhan ibadah seorang hamba. Menggunakan kata ‘dititipkan’ sebab memang suatu saat ia akan diambil kembali untuk digantikan dengan sesuatu yang sudah Allah rencanakan untuk kita. Lantas, mengapa sabar dan kesungguhan ibadah yang diuji? Karena bagi Allah ibadah seorang hamba dikala berada dalam kesempitan seharusnya sama pula dengan ubudiyah hamba tatkala berada dalam kelapangan. Dihadapan Allah ketaatan hamba dalam keadaan dan kondisi yang tidak ia sukai seyogyanya tidak berbeda dengan ubudiyah hamba dalam perkara yang ia sukai.
“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”
Pada saat membaca Qur’anul Kariim surat Al Qamar ayat ke 10 diatas, mungkin kita sempat berpikir mengapa saat itu Nabi Nuh Alaihis salam menyatakan termasuk orang yang ‘dikalahkan’ padahal Nabi Nuh tidak pernah berperang secara fisik dengan kaumnya?. Wallahu a’lam, tampaknya saat itu Nabi Nuh merasa telah dikalahkan sebab kezaliman-kezaliman umatnya yang melampaui batas, sehingga dengannya Nabi Nuh melakukan introspeksi. Dari hasil introspeksi tersebut Beliau memilih berdoa pada Allah azza wa jalla untuk ‘dimenangkan’ dari kezaliman dan kefasikan kaumnya. Walhasil, atas pengaduan tersebut kaum Nabi Nuh ditenggelamkan air bah maha kolosal hingga setinggi gunung. Continue reading
“Dimanakah Allah ?”, tanya seorang Ibu penjual warung nasi kepada pelanggan
setianya yang baru saja menunaikan sholat Dhuhur di Masjid sebelah warung nasi.
Bergeming memegang sendok sambil memandangi sepiring nasi ayam penyet dihadapannya, pemuda ini balik bertanya : “Kenapa Ibu menanyakan hal itu?”.
Siapa yang tidak mengenal kata sabar dan siapakah yang tak tahu kata syukur?. Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia dalam hidupnya tidak luput dari ujian. Kecenderungan ujian tersebut selalu bermuara pada kesusahan ataupun nikmat yang bisa datang silih berganti tanpa memandang usia, jenis kelamin, agama, ras, golongan maupun tingkat ketakwaan. Dua sifat atau dua jenis ujian ini adalah bentuk yang senantiasa hadir dalam dinamika peradaban dan garis perubahan budaya apapun yang berlaku ditengah manusia yang hidup dan berkembang saat ini.
Di antara euforia kegembiraan massif merayakan kemenangan juara sepakbola sejagat, di saat fragmen pengusutan kasus video koitus selebriti mencapai suguhan klimaksnya, di tengah kebanggaan (sekaligus kecemasan) para orang tua melepas sang buah hati di sekolahnya yang baru, di sekitar geregetan kolosal akan penuntasan mafia pajak, dan di sela-sela blow up penganiayaan wartawan pengungkap ‘rekening gendut petinggi korps baju coklat’, sebenarnya saya berniat menahan diri untuk menulis artikel ini. Namun kesedihan sekuensial akibat rentetan meledaknya LPG di masyarakat yang terjadi belakangan ini, pun sekaligus penyudutan posisi masyarakat sebagai pihak tersalahkan (terang-terangan maupun tidak) menjadi pertimbangan tersendiri untuk menulis artikel tentang hal ini.
You must be logged in to post a comment.