Road to 2023
Belajar Islam

Muslim dan Keadaannya


 
 DUA KEADAAN

Dalam hidup, terkadang –atau bahkan sering- kita jumpai kesulitan demi kesulitan datang silih berganti dengan kemudahan. Seakan-akan keduanya menjadi fitrah yang mewarnai perjalanan manusia mengarungi indahnya bahtera kehidupan sampai ajal datang menjemput. Bila Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan kesulitan atau kesempitan maka yakinlah terhadap satu hal : bahwa Allah tidak bertujuan menyengsarakan hamba-Nya. Kesempitan, bala’ dan musibah dititipkan Allah pada kita adalah untuk menguji kesabaran dan kesungguhan ibadah seorang hamba. Menggunakan kata ‘dititipkan’ sebab memang suatu saat ia akan diambil kembali untuk digantikan dengan sesuatu yang sudah Allah rencanakan untuk kita. Lantas, mengapa sabar dan kesungguhan ibadah yang diuji? Karena bagi Allah ibadah seorang hamba dikala berada dalam kesempitan seharusnya sama pula dengan ubudiyah hamba tatkala berada dalam kelapangan. Dihadapan Allah ketaatan hamba dalam keadaan dan kondisi yang tidak ia sukai seyogyanya tidak berbeda dengan ubudiyah hamba dalam perkara yang ia sukai.

Kita, hamba Allah, mayoritas jamak hanya menghadirkan dengan baik ubudiyah dalam hal-hal yang disukai saja dan cenderung bakhil untuk mempersembahkan ketaatan dalam  kondisi yang tidak ia sukai. Inilah yang menyebabkan mengapa kedudukan seorang hamba disisi Allah itu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan ubudiyahnya kepada Ar-Rahman.

Simaklah bahwa berwudhu dengan air dingin dalam suasana musim yang amat panas adalah ibadah. Melakukan sholat malam dengan kondisi fisik yang sehat dan prima termasuk ibadah. Melontarkan senyum manis terbaik dihadapan istri cantik yang bersolek menyambut suami pulang dari bekerja adalah ibadah. Bersedekah banyak dengan ikhlas tatkala rizki datang berlimpah ruah adalah ibadah. Meninggalkan maksiat disaat nafsu tidak begejolak adalah juga kategori ibadah. Pun demikian halnya pula berwudhu dengan air super dingin pada saat kondisi musim yang sangat dingin adalah ibadah. Berdiri untuk sholat dipenghujung malam saat kondisi fisik dalam keadaan payah dan lemah karena sakit ialah termasuk ibadah. Memberikan senyum manis sepulang bekerja kepada istri yang bermandi peluh keringat karena seharian merawat buah hati tercinta juga merupakan ibadah. Bersedekah ketika kondisi keuangan sedang ‘seret’ adalah juga termasuk ibadah. Meninggalkan maksiat di saat nafsu sedang memuncak hebat dan tidak ada manusia yang melihat adalah juga termasuk ibadah. Kita lihat bahwa kedua-dua hal diatas sama-sama merupakan ibadah namun demikian terdapat beda tingkatan yang amat besar antara dua macam ibadah tersebut karena keadaan pada saat melaksanakannya.

Barangsiapa diantara kita yang mampu menghamba pada Allah dalam dua keadaan sebagaimana diatas dengan bersungguh-sungguh menegakkannya dikala benci dan cinta, disaat lapang maupun sempit, diwaktu sakit maupun sehat, ketika susah maupun senang, maka ia akan memperoleh keuntungan besar berupa firman Allah :

Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).
An Nisaa’ [4] : 45

Kecukupan yang sempurna diperoleh dengan ubudiyah yang sempurna pula. Ketidakcukupan dan sifat merasa kurang, hadir didalam hati sebab kurangnya ketaatan yang dimiliki seorang hamba. Maka barangsiapa yang dikaruniai oleh kelapangan dan kecukupan hendaknya ia beristighfar dan memuji Allah dengan sebaik-baiknya pujian.

Bila Allah telah menjadi pelindung dan penolong bagi seorang hamba maka semuanya menjadi cukup. Semua menjadi cukup sebab tidak ada lagi hal lain yang lebih penting dan lebih utama untuk diminta ketika Allah berkenan menjadi pelindung dan penolong kita.

Cukuplah Allah sebagai pelindung dan cukuplah Allah sebagai Zat yang mencukupi.

Wallahu’alam bishowab.

“Betapa mengagumkan setiap urusan orang mukmin, sesungguhnya setiap urusannya senantiasa mendatangkan kebaikan, dan tidak ada seorangpun yang bisa melakukannya kecuali orang mukmin, apabila ia tertimpa kesenangan maka ia bersyukur dan itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesulitan ia bersabar dan itu pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

 

muhsinbudiono

Advertisements

About muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Trainer dan Penulis Buku. Pakar Followership pertama di Indonesia. Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di sebuah Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.6 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: