Road to 2023
Belajar Islam

Benarkah Sabar itu Susah?


Siapa yang tidak mengenal kata sabar dan siapakah yang tak tahu kata syukur?. Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia dalam hidupnya tidak luput dari ujian. Kecenderungan ujian tersebut selalu bermuara pada kesusahan ataupun nikmat yang bisa datang silih berganti tanpa memandang usia, jenis kelamin, agama, ras, golongan maupun tingkat ketakwaan. Dua sifat atau dua jenis ujian ini adalah bentuk yang senantiasa hadir dalam dinamika peradaban dan garis perubahan budaya apapun yang berlaku ditengah manusia yang hidup dan berkembang saat ini.

Yang berdampinganMenyikapi kedua jenis ujian ini setidaknya hati dan jiwa ini perlu menerima lagi menanggapinya dengan baik dan benar. Benar dalam menerimanya serta baik dalam menanggapinya, yaitu bersabar apabila menerima kesusahan dan bersyukur apabila dilimpahkan kenikmatan.

Bersabar itu lebih berat rasanya dikarenakan hati dan jiwa harus melalui ‘terowongan-terowongan’ kesulitan, ketidaknyamanan, keresahan, kesakitan, tekanan dan sebagainya. Stabilitas emosi, ketenangan pikiran dan kemantapan jiwa menjadi terusik dan redup. Bahagia dan atmosfer kenyamanan lenyap, raib entah kemana. Disisi lain bersyukur terlihat lebih gampang dan nikmat karena saat itu hati dan jiwa anak adam dalam keadaan stabil dan tenang. Dalam keadaan tertentu bahkan dapat terlihat terangkat sebab tidak ada keresahan, tekanan maupun derita yang melintas. Berdasarkan nalar logika diatas tentunya diluar sana banyak manusia yang mestinya memiliki sikap syukur daripada bersabar. Benarkah demikian ?

Teringat akan ayat Allah yang mengatakan bahwa “Sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur” (QS. As Saba’ : 13), maka pada hakekatnya Allah Azza wa jalla sedang memberi kabar sekaligus mewanti-wanti pada kita semua bahwa orang-orang yang benar-benar bersyukur itu jumlah bilangannya sangatlah sedikit. Mengapa sedikit ? Karena orang yang benar-benar besyukur dengan menempuh jalan syukur yang juga benar adalah sangat sedikit. Sebab  syukur yang benar ialah syukur yang diucapkan oleh lisan, yang dibenarkan dalam hati dan diwujudkan dalam amal/perbuatan. Sering diantara kita yang spontan mengucap ‘Alhamdulilah’ ketika dihampiri kesenangan atau disampaikan padanya berita suka cita kegembiraan. Terlebih lagi bila kabar kesenangan yang hinggap di gendang telinganya adalah kabar terkait langsung dengan diri sendiri. Senyampang lisan dan bibir ini basah oleh ucapan hamdalah. Mengucap hamdalah harus sejalan dengan qalbu yang merasakan/membenarkan rasa syukur tersebut adalah dari karunia dan kasih sayang Allah. Bukan dari hal lain atau semata-mata karena ikhtiar pribadi. Disini terselip kandungan pemurnian tauhid yang menjaga kita dari sebuah dosa besar tanpa ampunan : virus kesyirikan. Tidak berhenti sebatas ucapan dan pembenaran dalam hati, sikap syukur juga harus dibarengi dengan menggunakan karunia yang diberikan di jalan Allah. Memanfaatkan nikmat yang dianugerahkan dalam koridor syar’I dan kebaikan.

Bila diberi nikmat kesehatan, maka kesehatan itu harus digunakan untuk melakukan segudang aktifitas kebaikan. Bukan aktifitas kemaksiatan apalagi sampai melaksanakan ritual-ritual setan. Sikap syukur atas kesehatan ditunjukkan dengan pemanfaatan anugerah sehat itu di jalan yang dicintai Allah.

Jika dikaruniai nikmat umur panjang, maka sikap syukur atas karunia umur tersebut adalah sebuah pertanyaan apakah umur panjang ini telah menjadi barokah bagi si empunya umur?  Sebab sia-sia umur yang panjang namun tidak barokah. Umur panjang yang habis hanya untuk bersenang-senang memperturutkan hawa nafsu dan kenikmatan sesaat. Hidup bergelimang dosa dan pengkhianatan pada Allah. Bersyukur atas umur panjang berarti selalu ber-muhasabah dan berhati-hati dalam menjalani hidup agar jatah umur yang diberikan tidak berlalu begitu saja tanpa manfaat yang terpetik (intensifikasi umur).

Kalau digerojok harta, walhasil harta tersebut perlu dibelanjakan dijalan Allah. Dibelanjakan untuk menafkahi anak yatim, mendirikan yayasan islam, membangun sekolah islam, menolong fakir miskin, membangun masjid, menghidupkan dakwah di sekolah dan diperkantoran, untuk jihad fisabilillah demi kemaslahatan umat muslim seluruhnya. Jangan takut miskin dalam hal ini. Bagaimana bisa seorang mukmin takut miskin, padahal yang menjaminnya adalah Zat yang Maha Kaya?.

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”.

(QS. At Taghabun [64] : 17)

Demikian pula dengan segala bentuk nikmat dan karunia Allah lainnya pada kita. Kesemuanya perlu dimanfaatkan di jalan Allah demi meraih ridho-Nya untuk kemaslahatan umat dan tegaknya panji-panji islam.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14] : 7)

Melalui implementasi syukur yang benar dan yang dicintai Allah maka akan ditambahkan lagi nikmat/karunia tersebut untuk mengganti nikmat sebelumnya yang telah dikorbankan di jalan Allah sebelumnya.

Sampai disini setidaknya cukup jelas apakah sabar itu lebih berat daripada syukur. Ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dalam bersyukur terdapat ’tugas’ dan amanah yang menyertai. Ada kerja dan ada tanggungjawabnya yakni menggunakan dan mengorbankan segala nikmat yang Allah karuniakan itu dijalan Allah. Ada juga kerja tambahan, yaitu menahan dan menjaga. Menahan agar perasaan gembira tidak terlalu mencuat (tampil berlebihan) hingga menyebabkan penyimpangan perilaku islami dan terjadinya kesenjangan sosial. Sementara menjaga adalah memastikan nikmat yang diberikan tidak digunakan untuk aktifitas kemaksiatan maupun menjadi terbengkalai karena dibiarkan tertimbun menumpuk begitu saja dalam gudang simpanan.

Dalam bersabar, tidak ada kerja tambahan maupun tanggungjawab tambahan selain dari menahan perasaan. Tidak ada tuntutan dan bahaya akan penyalahgunaan nikmat Allah. Apa yang dibutuhkan hanya menjaga dan mendidik hati agar dapat menerima ketentuan Allah itu dan ber-khusnudzon pada Allah. Sebab rukun sabar adalah menahan diri dari perasaan galau, menahan jiwa dari kejengkelan terhadap takdir yang menimpa, mencegah lisan mengeluh dan menjaga anggota badan dari dzalim terhadap diri sendiri seperti menampar pipi, menjambak rambut (sebab histeris), merobek baju, dan sejenisnya.

Inilah hikmah dari firman Allah yang mengatakan bahwa sedikit sekali dari kita sebagai hamba yang bersyukur. Sebab syukur itu sendiri bukan perkara yang mudah. Terdapat kerja dan tanggungjawab tambahan didalamnya. Sehingga menjadi sebab bahwa perkara bersabar adalah lebih ringan daripada bersyukur. Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Wallahu a’lam bi showab.

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan khusus dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

2 thoughts on “Benarkah Sabar itu Susah?

  1. Alhamdulilah..,
    sangat mencerahkan sekali
    Syukur itu lebih berat ketimbang sabar
    Teruskan menulisnya yang banyak, baik dan manfaat.
    Barakallahu fikum

    Nuh

    Like

    Posted by Nuh | 31 December 2010, 05:54

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
4.7 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: