Road to 2023
Nulis Lepas

Manusia Data Vs Manusia Daya


Kawan-kawan semua,

muhsinbudionoIni nasihat yang saya berikan pada sebuah seminar motivasi penutup akhir tahun di Surabaya. Isinya tentang perbedaan antara manusia daya dan manusia data. Artikel ini lebih condong saya tujukan pada rekan-rekan saya yang berprofesi sebagai pendidik. Semoga bisa menghantarkan anak didiknya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, meski sistem pendidikan kita saat ini cenderung memproduksi manusia data. Semoga manfaat.

Jangan selalu menjadi manusia data, namun jadilah manusia daya. Sejarah mencatat bahwa ilmuwan besar Einsten pernah ditanya : ada berapa kaki (sekitar 30 cm) dalam satu mil. Einsten lalu menjawab, ”Saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta (data) yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan standar?”.

Dari sini, Einsten mengajarkan kita suatu pelajaran berharga. Ia merasa bahwa lebih penting menggunakan otak kita untuk berpikir dan menggagas sesuatu daripada menggunakannya sebagai gudang fakta (data). Sayangnya dalam sistem pendidikan kita saat ini, para pelajar dan mahasiswa cenderung dituntut menggunakan otaknya mayoritas untuk menghapal dan mengetahui data-data yang ada (yang sebenarnya tidaklah penting).

muhsinbudionoKemampuan berpikir untuk memahami dan mengembangkan sesuatu seakan-akan dikerdilkan. Keterampilan menggagas dan melahirkan solusi menjadi terkebiri hingga terbukti bahwa saat ini perguruan tinggi kita menjadi mandul (krisis) akan ide-ide besar (terutama dalam bidang teknologi tepat guna) yang secara solutif seharusnya mampu mensejahterakan rakyat. Wacana lain mengisahkan bahwa suatu ketika Henry Ford penah bertikai dengan Chicago Tribune. Tribune mencemarkan nama Ford dengan menyebutnya Ford Ignoramus (orang yang tidak tahu apa-apa), dan Ford lalu berkata, ”Buktikan.”
Tribune mengajukan beberapa pertanyaan sepele seperti : ”Kapan Perang Revolusioner pecah?”, ”Siapa Benedict Arnold?”, dan pertanyaan lain yang mayoritas tidak dapat dijawab oleh Ford yang kurang mendapat pendidikan formal. Akhirnya ia sangat jengkel dan mengatakan, ”Saya tidak tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi dalam waktu lima menit saya bisa mendapatkan orang yang mampu menjawabnya.”
Henry Ford tidak begitu tertarik untuk memenuhi pikirannya dengan informasi. Ia yakin dan tahu bahwa kemampuan untuk mengetahui cara mendapatkan informasi lebih penting daripada menggunakan pikiran sebagai garasi untuk fakta (data).

Berapakah harga seorang manusia data?

Ini terjadi dalam ruang tamu rumah saya -ketika saya serius berkutat di depan laptop untuk mengerjakan finishing buku saya yang pertama- saya mendapati kakak saya tengah asyik didepan monitor PC mencoba aplikasi program Trivia machine. Ini semacam program games ketangkasan seperti kuis “Who wants to be a millionaire” yang memberikan banyak pertanyaan seputar pengetahuan dan wawasan dari seluruh dunia. Bila menjawab pertanyaan dengan benar kita akan mendapat score dan berhak melaju ke level berikutnya (Tiap level terdiri dari beberapa pertanyaan). Sesekali waktu bila Kakak saya kesulitan menjawab, ia lantas bertanya pada saya dan mencoba mengajak bermain. Pada awalnya saya tidak begitu mempedulikan sebab khawatir konsentrasi saya akan menulis buku bakal buyar. Tapi setelah beberapa pertanyaan saya menjadi jengkel dan sedikit bersungut (mungkin mirip seorang gadis yang tengah datang bulan). Akhirnya saya memutuskan “hijrah” ke dalam kamar tidur untuk melanjutkan mengetik disana. Sejenak kemudian saya merenung seandainya ada orang mampu menjawab semua pertanyaan yang ada dalam program tersebut tentunya ia adalah orang yang pintar dan dicari banyak orang.

Esok harinya rekan kerja di kantor menjawab renungan saya tersebut dengan mengatakan kalau orang penghapal data seperti diatas sangat tidak bernilai di kantor ini atau dikantor manapun.

muhsinbudiono”Ah, yang benar, Pak?”, kata saya sangsi. Sejenak kemudian ia menjelaskan bahwa jika orang tersebut bekerja disini, maka perusahaan ini akan membayarnya tidak lebih dari 1 juta rupiah. ”Heh, cuma 1 juta rupiah per bulan.”, batin saya protes, saya harap ia salah ucap.

”Bukan, bukan per bulan. Juga bukan perminggu. Tapi untuk seumur hidupnya !”, balas rekan saya ini. Saya makin terperanjat. Untungnya ia cepat menjelaskan bahwa ’si Ahli Data’ itu hanya mampu menghapal dan cerdas dalam hal memori belaka. Ia sulit untuk berpikir solutif. Ia hanya ensiklopedi berjalan. Dan untuk membeli 1 set ensiklopedi yang bagus dibutuhkan tidak lebih dari 1 juta rupiah. Apalagi kalau memanfaatkan ensiklopedi online yang bisa didownload gratis tanpa biaya sepeserpun dari internet. Bisa-bisa ‘si Ahli data’ tersebut harganya bisa menjadi nol rupiah.
Kemudian rekan saya ini berkoar, “Yang diinginkan sekeliling kita ini –termasuk keinginan perusahaan ini-, adalah orang yang mampu memecahkan masalah. Memikirkan gagasan dan memberi solusi konkret. Kita memerlukan orang yang mampu bermimpi dan mengembangkan mimpi tersebut menjadi berdaya dalam aplikasi praktis di dunia nyata. Kita membutuhkan ”manusia daya”. Manusia daya dapat efektif menghasilkan karya dan materi (profit), manusia data tidak.

Tetap istiqomah,

muhsin budiono

Advertisements

About muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Trainer dan Penulis Buku. Pakar Followership pertama di Indonesia. Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di sebuah Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.7 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: