Road to 2023

followership indonesia

This tag is associated with 6 posts

Dua Kali Kemudahan


“Setiap orang punya ‘jatah gagalnya’ masing-masing. Habiskan jatah gagalmu semuda mungkin agar dimasa tua kegagalan tak lagi menyertai”. Ini kalimat dari kawan saya yang semenjak kecil sudah menjumpai banyak kesulitan demi kesulitan. Ia lahir dari keluarga miskin di sebuah desa kecil yang sering kesulitan mendapatkan air bersih. Sejak SMA ia harus berdikari membiayai kebutuhan sekolahnya sendiri ditambah lagi 4 orang adiknya yang masih kecil-kecil.

Lantas bagaimana kondisinya sekarang?. Sama, masih saja susah. Meski sudah punya perusahaan sendiri tapi sewaktu tak sengaja berjumpa dengannya di sebuah acara resepsi nikah, ia mengeluhkan besarnya pajak yang membebani bisnisnya. Sampai nunggak ratusan juta. “Pajak bukan konsep agama samawi. Bikin rakyat sengsara!”, omelnya. Ada juga masalah ditipu klien, anak buah yang nelikung, investasi yang nyandet, BPKB mobil digadai saudara, antrian tagihan bank, genteng rumah ambrol dimakan rayap, dll. Baru dengar ceritanya saja saya jadi ikutan mumet. Pening harus bantu solusi apa.

Terus terang saya hanya bisa mendoakan. Berharap ia bisa tetap tegar, ikhlas dan sabar menyelesaikan persoalan-persoalan yang mendera diatas. Ia pribadi yang kuat dan selalu bisa berpikir sehat dalam suasana genting sekalipun. Meski begitu, saya pikir perjuangannya akan lebih mudah, kalau saja ia mau memutuskan untuk berhenti merokok, mulai menjauhi riba dan memperbaiki sholat. Barangkali nasihat ini memang berat, sulit dan nampak tak berhubungan dengan permasalahan-permasalahan yang dialami selama ini. Tapi bukankah tak ada ruginya bila dicoba terlebih dahulu. Kesulitan yang muncul sebab meninggalkan kemudahan yang menyengsarakan, justru akan mendatangkan kemudahan demi kemudahan.

Sejak keluar dari cangkang telurnya, burung hantu sudah menderita kesulitan sebab tak bisa menggerakkan bola matanya. By design, mata yang dimiliki burung hantu bukan berbentuk spherical ball seperti mata kita. “Tubular eyes” yang dimiliki burung hantu hanya bisa menatap lurus ke depan. Tapi dibalik kesulitan sebab kondisi mata yang statis tersebut ada kondisi lain yang membuatnya berbeda dengan burung-burung lain. Burung hantu dianugrahi anatomi khusus berupa leher yang dilengkapi pembuluh darah dengan contractile reservoir dan supporting vascular network yang memungkinkan kepalanya berputar hingga 270° tanpa menghambat aliran darah ke otak. Well, it’s a myth that owls can rotate their head 360°. Its can actually turn their necks 135° in either direction. Nah, dari sini angka 270° itu muncul. 

Bukan cuma itu, burung hantu juga dilengkapi dengan tiga lapis kelopak mata. Satu untuk tidur, satu untuk berkedip, dan satu lagi untuk membersihkan matanya. Jadi meski burung hantu memiliki satu kesulitan, bersamanya ada dua kemudahan: Leher yang fleksibel dan kelopak mata yang berlapis-lapis. Sebenarnya kalau daftarnya mau ditambah lagi juga masih ada. Pada mata yang tak bisa berputar itu ada 2 kemudahan lainnya lagi yakni kemampuan melihat dalam kegelapan dan pandangan jarak jauh (far-sighted) yang membantunya menentukan posisi mangsa dari kejauhan sekalipun.

Hewan malam lain yang juga terlahir membawa kesulitan adalah kelelawar. Didaerah lain ada yang menyebut kalong atau kampret. Kelelawar lahir dalam kondisi mempunyai kaki kecil nan lemah. Saking rapuhnya, kaki kelelawar pun tak bisa menopang tubuhnya sendiri untuk berdiri.
Namun begitu, rupa-rupanya kelelawar oleh Allah Ta’ala dikaruniai special muscle pada kakinya yang membuat mereka nyaman bergelantungan dalam keadaan terbalik. 
Melengkapi keadaan up-side down tersebut Kelelawar pun diberi sayap yang kuat dengan desain anatomi yang juga unik. Bentuk sayapnya memungkinkan kelelawar dari posisi terbalik bisa langsung terbang begitu mudahnya dengan cara menjatuhkan dirinya dari atas ketinggian.
Jadi meski memiliki satu kesulitan, bersamanya Allah titipkan dua kemudahan. Yakni kemampuan bergelantung terbalik, dan desain sayap yang unik.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 

(Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan)
Ayat dalam surat Al Insyirah diatas kiranya menunjukkan pada kita bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan yang mengiringi seolah berjalan berurutan. Secara bahasa, kata Al-‘usri menggunakan redaksi huruf alif lam. Ini berarti kesulitan yang dimaksud dalam kedua ayat tersebut adalah sama, yakni satu kesulitan yang setara. Sedangkan kata Yusron ditulis tanpa menggunakan imbuhan alif lam dimana sengaja menunjukkan bahwa kemudahan dalam ayat berikutnya adalah tidak setara/beda dengan kemudahan yang dimaksud dalam ayat sebelumnya. 

Dengan demikian terjemahan yang lebih tepat dari ayat diatas menjadi begini:

“Karena sesungguhnya bersama satu kesulitan ada sebuah kemudahan. Sungguh, bersama satu kesulitan (yang sama) ada sebuah kemudahan (yang lain lagi/tak serupa).”

Bila kepada hewan saja Allah Azza wa jalla karuniakan dua kemudahan dalam setiap kesulitan, maka lebih-lebih kita sebagai manusia jauh lebih pantas lagi untuk meyakini bahwa Allah juga bakal menyertai setiap masalah kita dengan dua kemudahan/solusi.

Semoga berkenan.
Wallahu ta’ala a’lam.


Jakarta, 23 Januari 2019

Muhsin Budiono

Survey Followership


FOLLOWERSHIP : PRINSIP PENTING YANG SERING TERLUPAKAN
Followership merupakan pengetahuan sekaligus skill ketrampilan yang di Indonesia masih terdengar cukup asing. Hal ini dikarenakan stigma mayoritas kita yang masih menganggap Leadership (Kepemimpinan) adalah hal yang paling penting dipelajari dalam pengembangan diri dan menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang dimasa depan. Padahal ibarat dua sisi mata uang, leadership dan followership merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja.
Robert E. Kelley (Salah satu Pakar Leadership) bahkan pernah mengungkapkan bahwa dalam keseharian kebanyakan dari kita lebih sering berperan menjadi follower ketimbang sebagai leader. Bahkan ketika kita memiliki bawahan, pada kenyataannya kita masih memiliki leader juga (baik secara formal maupun informal). Tidak ada seseorangpun yang murni berperan sebagai leaders.  
Barbara Kellerman (Pengajar Leadership di Harvard University) pernah berujar bahwa semua orang bisa mempelajari bagaimana menjadi pemimpin/leader yang baik yakni dengan cara menjadi pengikut/follower yang baik. 

Diakui atau tidak, setiap orang memiliki sisi followership dalam setiap kehidupannya. Misalkan seorang manager yang memiliki anak buah, tetap merupakan seorang bawahan terhadap atasannya. Bahkan secara ekstrim, seorang business owner yang kelihatannya tidak memiliki sisi kepengikutan ternyata juga adalah seorang yang sedikit banyak harus “mengikuti” keinginan-keinginan pasar.
Ira Chaleff (Pakar Followership Amerika) mengatakan “Followership is an art”.  Followership adalah seni. Ia begitu penting bagi dunia kepemimpinan dan tidak dapat dipisahkan dari leadership. Followership adalah suatu fondasi untuk lebih baik lagi dalam memahami leadership. 

If you want to be a great leader, you must first become a good follower.

Di Indonesia, istilah followership masih belum familiar terdengar atau dipahami oleh banyak orang. Oleh sebab itu, kami dari Indonesia Followership Learning Community (INFOLCO) mengadakan survey tentang awareness masyarakat terhadap Followership. Kami mohon bantuan Anda untuk meluangkan waktu mengisi kuesioner singkat di link berikut ini https://goo.gl/forms/z6eQziCqTsWCJQYj1

Terimakasih telah berkenan meluangkan waktu  Anda yang berharga. Data pribadi yang Anda input tidak akan dipublikasikan dan kami jamin kerahasiaannya. Partisipasi Anda sangat bermanfaat bagi pengembangan Followership di Indonesia. 
Salam hangat, 

Prasetyo Adi S. (08561395548)

Indonesia Followership Learning Community (INFOLCO). 

in collaboration with Muhsin Budiono (Followership Practitioner-certified by Ira Chaleff).

Mereka yang Kehilangan Kesempatan


Petugas SPBUIni sore hari yang sejuk. Perempuan manis berseragam merah putih itu tersenyum sebentar lalu bertanya pada saya, “Premium ya Pak?”.  Sambil mesem saya jawab sekenanya, “Bukan Mbak, saya orang. Bukan Premium”. Ha..ha. Terus terang saya paling sebel kalau pas di SPBU mau ngisi BBM motor terus petugasnya bilang begitu. Seolah-olah kita diminta untuk membeli Premium. Secara memang seperti itu. Ini ilmu marketing, Bung. Operator yang menuang BBM dari dispenser ke tangki kendaraan itu kan sejatinya lagi jualan. Bukan cuma “juru ngecor” minyak. Orang yang berjualan logikanya menawarkan lebih dulu barang yang kualitasnya tinggi. Mestinya kalimatnya diganti jadi : “Beli Pertamax ya Pak?”. Sehingga konsumen menjadi “tertarik” atau lebih mantap membeli Pertamax.

Saya tidak melarang Anda untuk membeli Premium, dan saya juga tidak mengatakan kalau Premium itu barang jelek. Tapi secara kualitas memang Pertamax lebih ciamik  ketimbang Premium. Dan Premium adalah barang bersubsidi. Non Keekonomian. Ada resiko tersendiri kalau kita membeli barang subsidi. Silakan baca artikel saya sebelumnya tentang BBM subsidi di link berikut. (klik sini).

Continue reading

Anak muda, Keragu-raguan dan Keputusasaan


Abstract big speech bubbleKemarin ada pesan singkat masuk di Smartphone saya. Pengirimnya seorang remaja putri di Bandung. Isinya begini: “Mas muhsin, apa bedanya anak muda jaman sekarang sama anak muda jaman dulu?.”

Alhamdulillah,  mojang Bandung ini manggil saya “Mas” bukan “Pak”. Berarti saya dianggap masih muda. Berarti dia cerdas dan matanya tidak bermasalah. ^_^
Terus terang saya tidak mengenal baik anak ini, hanya pada kesempatan sebelumnya ia pernah mengajak saya berdiskusi tentang anak muda yang galau namun merindukan prestasi. Dan sama seperti kemarin, diskusi sebelumnya berlangsung lewat WhatsApp. Kebayang susahnya kan. Daripada jadi panjang-lebar saya putuskan untuk  menjawab secara singkat : “Kamu lagi suntuk gara-gara UN ya Dek? Sebenarnya nggak ada bedanya. Cuma yang jelas anak muda jaman dahulu ya sekarang ini sudah pada tuwir (tua) semua.” jawab saya asal.

Continue reading

Masjid dan Anak Kita


masjidSaya beruntung tinggal cukup dekat dengan masjid yang “ramah” anak. Maksud saya yang ramah adalah pengurus masjid dan orang-orang yang memang sehari-harinya rutin sholat berjamaah disitu. Ini baru saya sadari ketika anak lelaki saya yang berumur lima tahunan tertidur di karpet masjid saat sholat shubuh berlangsung. Kalau diajak shubuhan di masjid biasanya anak saya memang begitu: ikutan sholat jamaah dari takbiratul ihram sampai salam (sambil terkantuk-kantuk tentunya), atau ndelosor tidur di karpet tepat disebelah saya. Sepanjang tidurnya tidak ngorok atau kakinya tidak mengganggu jamah lain biasanya ya saya biarkan saja. Masalah muncul manakala Imam salam dan semua jamaah hening terlarut dalam khusyuknya dzikir ba’da sholat, tiba-tiba saat menyentuh karpet telapak tangan saya terasa basah. “Waduh!”, spontan saya njingkat. Semua mata jamaah memandang heran. Sambil nyengir saya bilang, “anak saya ngompol.”

Continue reading

Selamat Datang di Situs Saya


 

This slideshow requires JavaScript.

Selamat datang di blog sederhana saya.

Salam kenal, nama saya Muhsin Budiono. Biasa dipanggil ‘muhsin’ atau ‘budiono’. Bila ingin lebih akrab saya memiliki panggilan lain yang lebih keren tapi jarang dipakai: Dion. Saya seorang penulis buku dan pemerhati dalam bidang yang di Indonesia sedang berkembang: Followership. Sejak tahun 2009 perlahan tapi pasti saya mulai jatuh hati pada followership.

Sejak di bangku SMA saya senang sekali berdiskusi dan berbagi ilmu seputar pengembangan diri. Pernah mendirikan lembaga motivasi dan pengembangan pelajar bertajuk “High Motivation Indonesia” serta Sanggar belajar dan bermain Anak di Desa Gebang–Sidoarjo. Kerap diundang sebagai pembicara dalam acara kajian, pelatihan maupun seminar di berbagai sekolah, kampus dan perusahaan. Baru-baru ini mendapat kehormatan untuk membumikan followership di forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS) 2016 sebagai pembicara.

Sementara ini asyik bekerja berkarya di PT. Pertamina (Persero) dan sedang berjuang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita menjadi International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Disamping juga tengah menghimpun biaya untuk bisa melanjutkan kuliah, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah. 🙂

Mohon doa dari Anda agar cita-cita diatas bisa tercapai dan semoga saya menjadi orang baik penuh manfaat serta sukses di dunia maupun diluar dunia.

Terimakasih atas kunjungannya.

 

muhsin-budiono

Pemerhati Followership Pertama di Indonesia

Member of International Leadership Association (ILA)

 

Buku karya muhsin budiono :

  1. Jadi Trainer Itu Gampang (2009. Penerbit: LMT Trustco Jakarta)

2. The Jongos Way : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (2013. Penerbit: Elex Media Komputindo)

3. Berani Berjuang : Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (muhsin budiono & Pengurus SPPSN, 2015. Penerbit: Elex Media Komputindo)

4. Tangguh Bersama : Jepretan Lensa dan Catatan Sederhana Pekerja Terminal BBM tentang Bencana Banjir Bandang di Kota Bima (muhsin budiono & Tim Relawan TBBM Bima – 2017. Penerbit: Elex Media Komputindo).

—————————————————————————————————————–

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
3.6 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: