Teman-teman,
Kemarin saya dapat email dari rekan sekantor tentang kunjungan Pak Habibie ke kantor Manajemen Garuda Indonesia. Saya harus akui kalau email tersebut sungguh menginspirasi meski saya membacanya dengan tjara seksama dan dalam tempoe jang sesingkat-singkatnja (jadi mirip teks proklamasi nih) . Maklum waktu itu saya baca emailnya pas jam sibuk-sibuknya orang pada kerja, jadi mbacanya ngebut. Gas pol rem blong.
Tulisan ini merupakan catatan dari salah seorang karyawan Garuda Indonesia, namanya Capt. Novianto Herupratomo. Saya tidak kenal apalagi pernah berjumpa dengan beliau, tapi dari namanya saya yakin ia orang indonesia asli. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja bisa dinikmati tulisan beliau yang cukup renyah dibaca sekaligus menyentuh kalbu berikut ini :
Rekan-rekan semua,
Barangkali memang sudah ndak laku, atau sudah banyak Trainer baru yang lebih muda dari saya. Setelah mengantongi 102 jam terbang dalam hal mengisi materi maka di tahun 2011 yang baru berakhir ini saya lebih banyak introspeksi dan merenung. Tahun 2011 kemarin adalah tahun dimana saya “sepi panggilan”. Sebagai “lelaki panggilan” (julukan untuk profesi Trainer dimana saya sering diundang/dipanggil lewat SMS atau telpon langsung ke HaPe) untuk mengisi sebuah acara pelatihan atau materi tentunya kesepian ini cukup membuat hati terasa galau. Rasanya ada bagian diri ini yang hilang. Di tahun 2011 kemarin saya ‘hanya’ menerima 8 panggilan/undangan (6 undangan untuk mengisi materi pelatihan dan 2 undangan untuk konseling pribadi). Dari 8 undangan tersebut hanya 5 undangan yang bisa saya hadiri. 3 undangan lainnya terpaksa ditolak secara halus karena diwaktu bersamaan saya sedang dinas diluar kota. Namun demikian saya tetap mengucap Alhamdulilah dan mensyukuri nikmat ini. Sebab kalau ndak bersyukur khawatirnya nanti malah di-bogem Malaikat yang lagi lewat. Bisa mati berdiri saya.
Well, memang tahun kemarin sepertinya saya kurang bisa membagi waktu dengan baik sehingga perhatian memasok makanan hati & jiwa melalui kegiatan seorang trainer menjadi minim. Di tahun 2012 ini saya mencoba terobosan lain untuk bisa menyentuh “klien” saya melalui forum tanya jawab melaui email. Walhasil diakhir tahun kemarin saya woro-woro lebih intens saat mengisi materi di ITS maupun di UNAIR untuk tanya jawab lewat email tersebut. Hasilnya? di awal januari ini ada sudah ada 1 orang mahasiswa yang bertanya. Tulisan berikut adalah tampilan perdana atas pertanyaan yang muncul dari ‘adik-adik’ saya yang ingin berbagi pikiran atau sekedar menyapa.
Teman-teman,
Hari ini saya diminta tolong oleh atasan saya untuk merevisi surat izin layak muat BBM ke Tongkang. Redaksionalnya ‘minta tolong’, padahal sejatinya dia tidak perlu minta tolong. Tinggal perintah saja : jongos pasti langsung action. Dasar atasan saya ini baik hati dan tidak sombong. Saking terlalu baiknya bahasa yang dipakai pun selalu santun. Atasan yang model begini ini yang permintaannya cenderung sulit untuk tidak dipenuhi oleh bawahan. Continue reading
Sekiranya ada seseorang yang kurang kerjaan lantas mengajukan pertanyaan : puasa bulan ini masih kurang berapa hari lagi?, rasa-rasanya kita akan mudah menjawabnya. Tidak perlu melihat kalender atau bertanya pada seorang kawan apalagi sampai browsing di internet. Barangkali sudah mafhum kalau kurang seminggu menjelang idul fitri seperti ini maka naluri dan kemampuan setiap muslim untuk mengenali perubahan musim dan pergantian waktu seolah-olah meningkat drastis menyerupai insting birahi serangga di musim kawin. Adapun setelah menjawab pertanyaan diatas, biasanya beberapa diantara kita berseloroh akan cepatnya waktu bergulir : Nggak terasa Ramadhan kan berganti syawal. Idul fitri sebentar lagi. Kata ulama Prancis : Le temps passé si vite (waktu berlalu begitu cepat). Barangkali banyak yang nyengir karena ujian lapar dan haus di siang bolong bakalan usai. Senang-gembira, sebab hari kemenangan sudah didepan mata. Sementara itu sebagian sahabat air matanya meleleh membanjiri pipi sebab sedih akan ditinggal sang tamu agung. Dalam gambaran seperti diatas, kita termasuk yang bersedih atau yang bergembira? Di penghujung Ramadhan kali ini pertanyaan tersebut haruslah dijawab. Sebab indikator optimisme menjadi manusia baru yang kembali fitri pasca Ramadhan sedikit banyak dapat terukur dari penyikapan atas hal ini.
Semakincerahpemandangankedepan.
MakinYakinKamiMenujuWorldClassCompany
Pertaminaenergiuntuknegeri.
BiarpunCumaJongosSayaTurutBanggaAtasPencapaianIni.
ArtinyaPerusahaanIniCenderungTampilSebagaiPerusahaanYangSangatMemperhatikanPekerjanyaDalamBerbagiInformasiMaupunSharingPengetahuan.
SemogaKedepannyaBisaLebihBaikLagi.
Proudtobepartofit
muhsin-budiono
Alhamdulilah.
Inilah salah satu bukti semangat terbarukan kita.
Semangat anak bangsa mengusung transformasi di semua lini.
Energi kebaikan yang selalu terbarukan.
Proud to be part of it.
– R. M
”Dan demi shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (Terj. QS. At Takwir [81] : 18)
Waktu, adalah madrasah maya bagi tiap insan. Wadah pembentukan diri. Ia adalah garis edar hidup untuk kita tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, dari lahir hingga berpulang ke hadirat-Nya. Ia adalah harta paling berharga yang dimiliki semua orang. Sumber daya atau modal utama yang terus melaju dan tak akan kembali. Ia tak dapat diperbarui dan bagi saya pribadi ia merupakan substansi gaib nomer dua setelah Tuhan. Memanfaatkan waktu menjadi sedemikian penting dalam hidup ini. Bahkan Allah sering mengikat janji dan firman-Nya dengan keberadaan waktu. Demi masa, demi waktu dhuha, demi malam, demi matahari dan cahayanya di pagi hari, demi fajar, demi langit yang datang pada malam hari, demi shubuh, demi hari kiamat, demi bintang ketika terbenam, demi umurmu, adalah merupakan kalimat-kalimat yang bisa kita temui dalam Qur’an.
Alhamdulillah…
Plong sekali rasanya. Sebagai laki-laki tulen sampai kapanpun saya tidak akan pernah bisa merasakan rasanya melahirkan anak. Pasti lega dan senang luarbiasa sekali ketika melihat jabang bayi merah keluar dan meramaikan dunia dengan tangisan pertamanya. Rasa sakit dan letih ketika mengandung hingga saat meregang nyawa berjuang melahirkan anak memang tidak akan bisa saya rasakan dan memang tidak sebanding ketika kesemuanya tersebut saya ibaratkan sama dengan menulis buku. Namun demikian, bagi penulis amatir seperti saya ya begitulah rasanya perjuangan menulis dan menyelesaikan sebuah buku. Buku ini barangkali sangat sederhana dan bisa jadi sangat jauh dari harapan Anda. Tapi daripada cuma bisa ngomong dan berangan-angan menulis buku, terselesaikannya buku ini semoga semakin mendorong saya untuk lebih rajin menulis dan menyelesaikan buku-buku berikutnya.
Silahkan download buku saya disini : Jadi Trainer Itu Gampang
Jalan hidup tak bisa ditebak. Sriyono, seorang mantan miliarder, kini berjualan siomay keliling. Namun, berkat penampilannya yang eksentrik, predikat miliarder itu tampaknya bakal kembali disandangnya.
Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.
Terus terang, saya bingung mau beri judul apa sama postingan kali ini. Agak susah karena harus menyinggung soal ‘tempat pembuangan’ dan adegan mringis melepas beban. Bagaimanapun, sebuah postingan idealnya memiliki judul.
Gambar berikut mungkin membuat trenyuh sekaligus menahan senyum siapa saja yang melihatnya. Sebab WC biasanya ada di dalam toilet atau kamar mandi dan orang gila yang benar-benar gila sekalipun tidak akan terlalu gila untuk membuat toilet seluas satu hektar. Kalaupun ada toilet yang luasnya sehektar kiranya tiap-tiap closet pastinya akan disekat-sekat menjadi bagian-bagian kecil terdiri dari banyak WC. Namun WC kali ini malah luas sekali, dan tanpa pembagian sekat satupun.
Bisa jadi toilet umum ini sebuah tempat berkumpul bahagia yang melambangkan kebersamaan pemakainya. Hanya saja sungguh disayangkan sebab ada saja orang yang keterlaluan dan -barangkali- ndak punya perasaan atau tepo seliro, tega memberikan “berkah” milik pribadi pada kawannya sesama pemakai WC. Aduuuh…
muhsin budiono
You must be logged in to post a comment.