Road to 2023
Followership

Catatan Penting untuk Citilink


Ibu RT hatinya gelisah,

menunggu Pak RT pulang dari Siskamling.

Kami ucapkan selamat berpisah,

terimakasih telah memilih Citilink.


Dear Kawan-kawan Jongoszers yang senantiasa semangat mengupgrade diri ditengah padatnya aktifitas menjemput rizki. Semoga tulisan ini menemui Anda dalam keadaan sehat dan berlimpah sukacita.

CitilinkKalimat yang dicetak miring diatas adalah bait pantun yang saya dengar di salah satu penerbangan menggunakan maskapai Citilink. Dikarenakan tuntutan aktifitas alhamdulillah saya termasuk orang yang cukup sering bepergian dari satu kota ke kota lain. Dari situ saya jadi punya kebiasaan baru yang barangkali terkesan kurang kerjaan, yakni mengamati pelayanan maskapai penerbangan. Pengamatannya tentu secara holistik, bukan cuma mengamati pramugarinya saja. Bisa bintitan dan menambah pundi dosa kalau yang diamati hanya paras cantik atau laku enerjik pramugarinya saja.

Sebagai pribadi yang tertarik pada bidang followership maka yang saya maksud adalah keseluruhan pelayanan maskapai tersebut. Mulai dari check in counter, layanan kabin, menu yang disajikan, inflight magazine hingga bagaimana mereka menyapa penumpang (baik pada saat naik maupun turun pesawat). Semuanya menarik untuk diamati. Sebab tiap maskapai punya “ciri khasnya” masing-masing.

Di Citilink salah satu yang menarik perhatian saya adalah penggunaan pantun yang diucapkan langsung oleh awak kabin mereka pada saat sebelum take off maupun sesudah landing. Di kesempatan lain saya juga pernah mendapati pantun seperti ini:

Manisnya coklat, belum lengkap tanpa secangkir kopi,

Penumpang yang terhormat, kami ucapkan selamat menikmati penerbangan ini.

 **************Pantun

Hati gundah hati gelisah,

Menanti pujaan hati berambut keriting.

Kami ucapkan selamat berpisah,

Terimakasih telah terbang bersama Citilink.

Saya pribadi menganggap penggunaan pantun tersebut termasuk hal yang kreatif dan wajib diapresiasi, namun demikian implementasinya perlu hati-hati. Mengapa demikian?. Sebab kata per kata yang dipilih dalam penggunaan pantun tersebut tanpa disadari dapat mempengaruhi pendengarnya atau berpotensi membajak pikiran dan mempengaruhi alam bawah sadar kita sebagai penumpang.

Anda yang pernah belajar teknik pemrograman otak atau membaca buku karya Malcolm Gladwell yang berjudul “Blink : The power of thinking without thinking” saya yakin bisa dengan mudah menerka kemana arah tulisan ini. Adalah John A. Bargh seorang psikolog sosial terkenal dari Yale University yang juga mendirikan Laboratorium Automaticity in Cognition, Motivation, and Evaluation (ACME). Penelitian-penelitian Bargh berfokus pada proses otomatisasi dan ketidaksadaran sebagai metode untuk lebih memahami perilaku sosial, serta topik filosofis lain seperti kehendak bebas yang dimiliki manusia. Sebagian besar riset Bargh menyelidiki apakah perilaku yang dianggap berada di bawah kontrol kehendak dapat dihasilkan dari interpretasi otomatis dan reaksi terhadap rangsangan eksternal seperti halnya kata-kata.

Bargh sangat terkenal dengan penelitian bahwa priming dapat mempengaruhi tindakan. So, what is priming?. Sepanjang yang saya pahami priming itu kurang lebih pengertiannya begini : priming refers to the incidental activation of knowledge structures, such as trait concepts and stereotypes, by the current situational context. Yah, namanya juga kurang lebih. Kalau kurang silahkan Anda tambahkan sendiri, kalau lebih silahkan kurangi sendiri. He..he. Priming merupakan efek memori tersirat/implisit sebagai hasil eksposur dari pengaruh rangsangan yang menunjukkan respon pada rangsangan berikutnya. Hal ini bisa terjadi setelah adanya pengulangan stimulus persepsi, semantik, atau konseptual. Misalnya, jika seseorang terlebih dahulu diminta membaca daftar kata yang didalamnya terdapat beberapa kata seperti “Putih, Kapas, Halus, Awan, Lembut” dan kemudian diminta untuk mengisi soal berupa kata yang dimulai dengan “KAP_ _”, maka probabilitas orang tersebut akan menjawab “KAPAS” adalah lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak diberikan priming. Orang yang tidak diminta membaca daftar kata  lebih berpeluang menjawab “Kapak”, “Kapal”, atau “Kapan”.

Nah, salah satu yang paling terkenal dari penelitian Bargh yakni pembuktian bahwa membaca kata-kata yang terkait dengan elderly stereotype/elderliness (misal: “Pensiun”, “Bingo”, “Pikun”, “Keriput”) menyebabkan subjek penelitian berjalan lebih lambat saat keluar dari ruangan penelitian dibandingkan dengan subjek yang membaca kata-kata yang tidak terkait dengan elderliness. Ini tentunya hal yang menarik. Semakin menarik lagi ketika saya menemukan tulisan yang luarbiasa bagus dari Mas Mardigu Wowiek Prasantyo (seorang entrepreneur sukses yang juga seorang penulis, pengamat terorisme, dan psychology & hypnotherapy expert) di situs pribadinya salah satu “tokoh Pinspirator menulis” saya yakni Mas Brilli Agung. Berikut saya cuplik tulisan Beliau yang saya yakin akan lebih memudahkan pemahaman Anda atas apa yang saya tulis di awal artikel ini.

Bayangkan anda saya berikan secarik kertas. Kertas tersebut berisi 5 buah kata acak. Anda disarankan untuk membentuk kalimat dengan menggunakan 4 kata tersedia. 

  1. dia merah khawatir pakaian mengenakan
  2. bola layu dilapangan anak-anak main
  3. jambu keriput pohon berbuah mulai
  4. lelah datang bali dari tamasya
  5. sepatu buang rusak yang tua
  6. pasien dokter sakit datang pulang
  7. yang pemandangan indah gunung kesepian
  8. gumpalan tertiup awan angin memutih

Mudah dipahami, bukan? Namun tidak pada kenyataannya. Sehabis mengisi uji tulis tersebut percayalah anda akan berjalan pulang lebih lambat dibandingkan ketika datang.

Dengan uji ini saya mempengaruhi selftalk dan perilaku anda. Bagaimana caranya? Coba perhatikan lagi daftar diatas. Disitu saya menebar kata-kata tertertu, khawatir, layu, memutih, keriput, sakit, kesepian. Benar, kata-kata tersebut tidak dipakai didalam anda membuat kalimat. Dalam membuat kalimat anda menggunakan conscious anda, sementara sub conscious mencatat semua.

Tulisan ini membuat komputer besar di kepala anda berfikir bahwa anda menjadi orang yang lanjut usia atau orang yang sedang sakit, rentan, rapuh. Bagian ini tidak memberitahu bagian otak yang lain tentang informasi yang tiba-tiba dirasakan. Otak menyimak pembahasan seakan sedang sakit yang mendalam. Ketika anda menyelesaikan tugas diatas dan beranjak pulang anda tiba-tiba berperilaku seperti orang sedang sakit. Anda berjalan pelan-pelan.

John Bargh melakukan ekperimen yang banyak ditulis di berbagai buku seperti hal ini, dimana sekelompok mahasiswa di bagi 2. masing-masing mengisi kertas uji seperti diatas yang mereka kerjakan kurang dari 5 menit. Kelompok pertama ia memberikan kata “kasar”, “ganggu”, “serang”, “berani”, “marah”. Pada kelompok kedua diberikan kata-kata “pertimbangan”, “sabar”, “menghargai”, “kasih”, “sopan”, “hormat”.

Selesai mengisi kertas uji mereka diperintahkan mengumpulkan kertas tersebut di ujung hallway atau gang yang ber jarak 40 meter. Ada kamera tersembunyi mengikuti gerak mereka hingga ke ruangan tempat menyerahkan hasil uji. Dimana di ruang tersebut semua orang sibuk dan tidak mengetahui ada yang hadir karena memang mereka bagian administrasi sekolah yang tidak diinformasikan adanya test ini.

Pada rekaman video dalam perjalanan sepanjang hallway, kelompok pertama sudah menunjukan tindakan yang kasar, gerak tubuh yang aktif. Begitu sampai tempat penyerahan kertas uji dan tidak ada yang perduli rata-rata tidak sampai 5 menit mereka sudah mulai agresif seperti mengumpat atau marah.

Pada kelompok kedua bahkan terdapat data yang diluar perkiraan, gerakan mereka di hallway santai dan hingga hampir 10 menit MENUNGGU ternyata 82% peserta tidak beranjak diam dan tidak menyela sama sekali!.

pramugari citilink

Sampai disini saya ingin kembali ke judul awal dan pembahasan kita mengenai Citilink dan salam pantunnya. Atas dasar jabaran teori diatas itulah mengapa saya memberi catatan khusus agar baiknya para awak kabin Citilink lebih berhati-hati dalam memilih kata pada saat membuat pantun untuk dibacakan ke para penumpang. Sebagai ilustrasi pantun Citilink yang saya tulis di pembukaan artikel ini setidaknya mengandung 5 kata yang akan membuat pikiran ruwet dan hati Anda merasa sempit: “hati gelisah”, “menunggu”, “siskamling”, “berpisah”, dan “memilih”.

Kata “berpisah” dan “hati gelisah” agaknya tidak perlu saya terangkan, karena maknanya cukup jelas. Sama-sama tidak menyenangkan perasaan dan membuat bad mood. Kata “siskamling” juga dekat dengan aktifitas melelahkan menguras fisik dimana kita harus betah melek, berpotensi ketemu dengan maling atau makhluk ghaib, serta harus melawan kantuk dan angin malam yang tidak baik bagi kesehatan badan. Ikut andil dalam siskamling bukan hal yang mudah, maka dari itu hargailah saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai satpam atau security di kampung/perumahan tempat kita tinggal.

Lantas kata “menunggu” asosiasinya jelas bukan merujuk pada kegiatan yang menyenangkan. Siapa sih yang mau menunggu berlama-lama?. Apalagi menunggu datangnya lamaran dari kekasih pujaan hati. Adapun kata “memilih” juga identik dengan kegiatan yang menyita waktu dan membutuhkan kesabaran lahir batin. Memilih jodoh barangkali salah satu contohnya. Dalam hal ini banyak anak manusia frustasi dan tak sedikit yang sakit hati/menyesal sebab terlambat ataupun terlalu cepat memutuskan pilihan. Bagi saya pribadi kegiatan menemani (baca: menunggui) istri memilih sepatu olahraga di toko online saja sudah cukup membuat kepala pening. Itu karena pada saat  proses memilih tiap kali ada sepatu yang sreg dihati ia selalu minta pendapat saya. Giliran ia senang model dan warnanya saya tidak cocok dengan harganya. Giliran saya cocok dengan harganya ia tidak senang model dan warnanya. Pas sudah sama-sama cocok harganya, cocok model dan warnanya eh ternyata stoknya habis. Giliran stok sudah ada eh size-nya besar-besar semua. Ukurannya ndak sesuai. Pening kan. +_+

Sampai disini mungkin Anda yang demen banget sama Citilink akan menganggap saya lebay atau berlebihan dalam menilai. Yah, itu terserah Anda. Yang jelas saya pribadi tidak akan pernah meremehkan kekuatan sebuah kata. Apalagi rangkaian kata berkesan serupa pantun yang disampaikan diketinggian 35ribu kaki diatas permukaan laut. Because words can inspire. And words can destroy. Choose yours well.

 


@menarabidakara-Jakarta

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan khusus dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
4.6 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: