Road to 2023
Nulis Lepas

Waspadai Pikiran Kita


Dear Jongoszers

Semoga tulisan ini menemui Anda dalam keadaan sehat dan senantiasa semangat.

Kira-kira sebulan yang lalu saya bertemu dengan seseorang yang saya anggap cukup sukses dalam hidup ini. Pribadinya santun, penampilannya sederhana, punya usaha beromset ratusan juta yang bebas dari riba, anak-anaknya penurut, keluarganya terlihat sakinah, sholat 5 waktunya di Masjid, lulusan universitas ternama di Jawa timur, fasih bahasa Arab, hafalan Qur’annya banyak, dan seabrek kelebihan lain yang cukup banyak bila dikemukakan disini.

Kalau bertemu orang kategori sukses sperti diatas biasanya saya meminta pinjaman lunak, eh bukan- saya meminta nasihat dan doa agar bisa ketularan sukses juga. ^.^ Mmm, saya pikir ini penting untuk disinggung, sebab diluarsana banyak jongos yang kalau ketemu orang sukses ujung-ujungnya biasanya minta utangan/pinjam uang. ×_× Kalau ndak berhutang ya minta kerjaan/lowongan kerja. Atau langsung nawarkan barang dagangan, asuransi or MLM. Atau curhat tentang kerjaan yang terpuruk dan usaha yang seringkali gagal. Baiknya ya jangan seperti itu. Sebab ada waktu dan caranya tersendiri untuk mengemukakan hal-hal tersebut. Kecuali memang orang sukses itu yang meminta/menanyakannya secara khusus.

Nah, kembali ke nasihatnya. Saat itu saya mendapat beberapa nasihat dan satu diantaranya saya kemukakan disini. Sebab menurut saya ini yang paling penting. Nasihatnya sederhana: Perhatikan pikiranmu. Pikiran yang didayagunakan dengan  maksimal dan positif akan menentukan kebaikan hidup harian dan dimasa depan. Demikian pula sebaliknya. Ia lalu menambahkan kalau kekayaan, uang, bisnis warisan ortu, jaringan luas, kawan yang banyak dan usaha yang keras bukan faktor utama penentu kesuksesan.

Saya mengiyakan hal ini, sebab diluarsana banyak orang yang sudah kerja keras belasan tahun tapi hidupnya tetap sama saja. Atau banyak orang yang kawannya banyak/jaringannya luas namun tak kunjung sukses. Ada juga orang yang mendapat warisan besar dari orangtuanya tapi tak lama kemudian ia jatuh miskin. Atau kisah anak muda yang diserahi kepercayaan untuk mengelola usaha turunan/bisnis keluarga tapi justru ditangannya bisnis itu menjadi terpuruk.

PIKIRAN ITU SEPERTI TANAH

Ada yang bilang kalau “Medan Perang Terbesar” terletak dipikiran kita. Ini tidak berlebihan sebab pikiran itu memang sangat kuat dan dapat berpengaruh pada cara kita menyikapi masalah dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Pernah mendengar pepatah seperti ini?.

Menabur dalam PIKIRAN akan menuai TINDAKAN. Menabur TINDAKAN akan menuai KEBIASAAN. Menabur KEBIASAAN akan menuai KARAKTER.

Kalau sudah pernah mendengarnya berarti Anda beruntung. Pikiran kita ini ibarat tanah. Ia akan menjadi media penumbuh atas benih yang kita tanam. Bahkan ada jenis benih tertentu yang bisa tumbuh hanya dengan bila diletakkan saja diatas tanah. Tanah tidak pernah mempersoalkan jenis benih apa yang hendak kita tanam. Ekstrimnya lagi kalaupun benih yang kita tanam tidak tumbuh biasanya yang malah muncul adalah rumput atau tumbuhan liar lainnya.

Ini hampir sama dengan pikiran kita. Apapun yang kita tanamkan dalam pikiran (entah hal yang baik atau buruk) maka pikiran kita akan cenderung menerima, merespon dan menumbuhkannya. Bahkan tanpa sengaja menanamnya pun “benih-benih” liar yang merusak pikiran bisa saja muncul kalau kita tidak menyadarinya. Sebab sumbernya berasal dari eksternal dan acapkali tidak terlihat. Terkait “benih liar” ini nantinya berhubungan dengan alam bawah sadar. In syaa Allah pada tulisan berikutnya akan saya bahas. Kali ini kita bahas yang sumbernya internal dulu: diri kita sendiri.

Disadari atau tidak kita seringkali menyengaja untuk menanam benih dipikiran berupa perkataan pesimis atau buruk tentang diri sendiri.

Merasa atau tidak, seringkali kita mengatakan hal-hal negatif tentang diri kita sendiri semisal:

• Hari ini bakalan berat sekali,

• Hidup ini penuh masalah,

• Saya terbelakang dan tidak berilmu,

• Saya tidak memiliki lingkungan/sarfas yang mendukung,

• Usaha ini tidak akan berhasil,

• Sakit ini sulit untuk sembuh,

• Saya generasi produktif yang terbebani (terbebani kemiskinan orangtua dan biaya sekolah adik-adik saya barangkali), ^_^

• Masa depan saya suram, dan lain-lain. Bakalan banyak kalau mau dicari-cari.

Nah, hal-hal negatif yang kita ucapkan tersebut akan direspon oleh pikiran kita dalam bentuk sikap dan tindakan yang pada gilirannya akan menghasilkan sesuatu yang sama seperti yang kita tanamkan dalam pikiran.
Maka dari itu, biasakan menanamkan hal-hal yang positif di benak kita. Lantas, apakah dengan menanamkan hal positif lantas diri kita akan menjadi pribadi yang luarbiasa?. Oh, tentu saja. ‘Tentu saja TIDAK’ maksud saya. Anda jangan termakan ucapan manis para motivator diluarsana yang dengan gampangnya mengatakan pikiran yang positif akan mengubah hidup menjadi lebih baik atau luarbiasa. Tidak sesederhana itu. Perlu ada usaha ekstra didalamnya.

Pikiran positif menghasilkan hati yang nyaman memang benar. Tapi kalau tiap hari Anda dirundung tagihan utang, cicilan kendaraan/kredit rumah dan uang di rekening selalu habis sebelum tiba tanggal gajian maka meski pikiran kita selalu positif namun kenyamanan itu akan terasa semu.

Kemampuan memelihara pikiran yang positif memang tidak langsung membuat Anda menjadi kaya atau sukses, namun akan menjadi modal awal untuk berpikir kreatif dan selalu melihat peluang dikondisi yang sulit sekalipun. Berpikir positif juga akan membuat air muka menjadi cerah dan terlihat lebih antusias sehingga siapapun yang bermitra dengan Anda akan merasa nyaman.

BAGAIMANA CARANYA MEMELIHARA PIKIRAN POSITIF?

Seringkali buku-buku self development atau para Trainer motivasi memberikan arahan untuk kita selalu mengulang-ulang kalimat positif tiap harinya. Kalimat itu boleh jadi seperti ini:

• Saya sangat beruntung,

• Hari ini bakalan menarik.

• Saya mampu mengatasi masalah ini,

• Masa depan cerah menanti!,

• Hari ini banyak keberuntungan menghampiri,

• Saya mensyukuri hidup dan apa-apa yang saya capai hari ini,

• Saya akan berjuang dan berusaha terus !

• Tuhan akan membuka dan menunjukkan jalan.

Dengan mengulang tiap hari harapannya akan terpola sugesti yang baik. Setiap bangun tidur, sebelum tidur, atau menuliskan di post note yang ditempel dicermin supaya bisa dibaca tiap hari merupakan salah satu pilhan. Ini saya pikir tidak ada salahnya dan bagi beberapa orang biasanya cukup manjur. Hanya saja dari dulu saya bertanya-tanya: Bagaimana supaya tulisan-tulisan di cermin itu tiap hari bisa dilihat dan meresap kedalam jiwa?. Nah, saya pikir jawabannya sederhana sederhana sekali: Jadikan rutinitas harian. Tidak harus tulisan dicermin, yang penting kita hafal dengan apa yang kita tulis dan tahu betul memaknainya. 

Apakah harus dihafal?. Sebaiknya memang iya. Sebab dengannya kita tak perlu repot lagi menggunakan media post note, cermin, dan sejenisnya. Apakah ini hal yang mudah?. In syaa Allah akan terasa mudah, kalau penanaman kalimat-kalimat positif tersbut kita domplengkan pada hal rutin yang kita lakukan. Inilah salah satu faedah kenapa setelah sholat 5 waktu kita dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa sejenak. Sebab disitulah “kesempatan” menanamkan kalimat-kalimat positif pada diri sendiri. Tentunya dzikir dan doa-doa yang dibaca sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Kalau ada waktu luang cobalah Anda telaah redaksional dalam kalimat-kalimat doa atau dzikir yang sesuai ittiba’ Nabi. In syaa Allah kita akan dapati banyak kalimat positif untuk mensugesti diri sendiri. Contoh lainnya adalah bacaan dzikir pagi-petang yang diajarkan Rasul yang rutin dibaca sebelum matahari terbit dan saat sore menjelang. Bayangkan berapa banyak kalimat positif bisa kita tanamkan tiap harinya hanya dengan merutinkan kebiasaan diatas?. 

Semoga kita semua bisa menjaga dan me-manage pikiran yang kita miliki sebaik mungkin agar kebaikan dan keberkahan hidup senantiasa menghampiri. Aamiin.


@Zevantem

Advertisements

About muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Trainer dan Penulis Buku. Pakar Followership pertama di Indonesia. Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di sebuah Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.6 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: