Road to 2023

Lain-lain

This category contains 1 post

Jongkok dan separuh bugil : terlalu atau terpaksa?


Terus terang, saya bingung mau beri judul apa sama postingan kali ini. Agak susah karena harus  menyinggung soal ‘tempat pembuangan’ dan adegan mringis melepas beban. Bagaimanapun, sebuah postingan idealnya memiliki judul.

Gambar berikut mungkin membuat trenyuh sekaligus menahan senyum siapa saja yang melihatnya. Sebab WC biasanya ada di dalam toilet atau kamar mandi dan orang gila yang benar-benar gila sekalipun tidak akan terlalu gila untuk membuat toilet seluas satu hektar. Kalaupun ada toilet yang luasnya sehektar kiranya tiap-tiap closet pastinya akan disekat-sekat menjadi bagian-bagian kecil terdiri dari banyak WC. Namun WC kali ini malah luas sekali, dan tanpa pembagian sekat satupun.

Bisa jadi toilet umum ini sebuah tempat berkumpul bahagia yang melambangkan kebersamaan pemakainya. Hanya saja sungguh disayangkan sebab ada saja orang yang keterlaluan dan -barangkali- ndak punya perasaan atau tepo seliro, tega memberikan “berkah” milik pribadi pada kawannya sesama pemakai WC.   Aduuuh…

muhsin budiono

Continue reading

Puasa Sebulan Tanpa Lebaran


Bulan puasa datang terlalu cepat di PLN. Mulai kemarin, 1 Mei 2011, orang-orang PLN sudah bertekad puasa sebulan penuh: puasa SPPD (surat perintah perjalanan dinas). Selama Mei ini tidak akan ada biaya perjalanan dinas. Orang-orang PLN ingin membuktikan bahwa upaya efisiensi juga harus menyentuh hingga hal-hal yang kecil. Orang-orang PLN juga bertekad bahwa SPPD tidak boleh lagi menjadi bagian dari sumber mata pencaharian tambahan. SPPD bukanlah perjalanan gratis untuk tujuan yang kurang penting. SPPD bukanlah sumber pemborosan perusahaan.

Tekad berpuasa itu sudah bulat. Itu diterapkan untuk membentuk suasana baru dan tekad baru. Maklum, SPPD sudah begitu besarnya di PLN. Sebulan rata-rata terdapat 28.000 orang PLN yang melakukan perjalanan dinas. Lengkap dengan tiket, hotel, dan uang saku.

Tentu banyak juga yang tidak setuju diberlakukannya “puasa SPPD”. Ada yang menggunakan alasan ilmiah, ada juga yang sekadar emosional. Bahkan, ada yang mengatakan ini bahaya: puasa SPPD ini akan membuat korupsi berkembang karena pada Mei tidak ada pengawasan. Pokoknya bermacam-macam alasan yang dikemukakan. Intinya, ada yang keberatan Mei ditetapkan sebagai bulan tanpa SPPD. Untunglah, mayoritas menyatakan bangga bahwa PLN berani mencoba berbuat radikal dalam memperbaiki dirinya.

Banyak hikmah yang akan didapat dari “puasa SPPD” sebulan penuh ini. Penggunaan teknologi telewicara akan meningkat. Selama ini PLN sudah menyewa mahal teknologi telewicara, tapi jarang sekali dimanfaatkan. Banyak juga persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan e-mail. Tapi, cara modern dan murah itu masih belum sepenuhnya menjadi budaya.

Orang-orang PLN juga menyadari, di perusahaan ini sudah terlalu banyak rapat. Undangan rapat terbesar dilakukan PLN pusat. Bukan hanya banyak, tapi juga kurang hemat. Bahkan, sering tidak masuk akal. Rapatnya dua jam, tapi SPPD-nya bisa dua hari. Itu terjadi karena saat menentukan jam rapat tidak mempertimbangkan efisiensi SPPD. Misalnya, mengundang rapat pada jam 09.00. Peserta yang berasal dari luar Jakarta, mau tidak mau, harus sudah datang sehari sebelumnya. Ada juga persoalan “siapa” mengundang “siapa”. Terlalu banyak pejabat yang mengundang pejabat lainnya.

Memang agak gila juga penetapan “puasa SPPD” ini. Misalnya, bagaimana kalau terjadi bencana, katakanlah ada tower yang roboh? Masak, sih, tidak ada SPPD? Khusus untuk yang satu itu direksi berdebat panjang. Semula ada keinginan agar “untuk hal-hal yang emergency akan ada pengecualian”. Tapi, pendapat itu lemah karena di negeri ini terlalu gampang menetapkan yang kurang emergency menjadi sangat emergency. Lalu, ada pikiran bahwa “untuk hal-hal yang luar biasa boleh minta dispensasi”.

Itu pun diangap lemah karena akan menimbulkan administrasi birokrasi yang ruwet. Maka, akhirnya ditetapkan: tidak ada pengecualian, tidak ada dispensasi, tidak ada toleransi. Semua itu dianggap godaan yang harus dilawan. Sekali pemimpin tidak tahan akan godaan, maka godaan-godaan berikutnya akan menyusul. Bahkan, kemudian, terhadap godaan yang kecil pun tidak akan tahan.

“Tahan godaan” itulah yang menjiwai sikap “puasa SPPD” secara konsisten. Tentu ada korbannya. Salah satu korban itu adalah saya sendiri. Beberapa bulan lalu, jauh sebelum keputusan “puasa SPPD” ini ditetapkan, saya sudah menyetujui diadakannya konferensi internasional meteran listrik di Bali pada Mei. Acara itu adalah acara tahunan dan tuan rumahnya berganti-ganti. Tahun ini Indonesia yang menjadi tuan rumah.

Tentu harus ada orang PLN yang pergi ke Bali. Termasuk harus ada orang PLN yang menjadi panitianya. Itulah godaan setan paling nyata yang langsung menimpa saya. Adalah salah saya sendiri mengapa menyetujui acara itu. Adalah salah saya sendiri mengapa saya tidak minta jauh-jauh hari agar acara itu digeser sebulan. Adalah salah saya sendiri mengapa tidak memindah acara itu di Jakarta.

Tapi, nasi sudah menjadi sushi. Acara itu sudah terlalu dekat sehingga tidak mungkin diapa-apakan. Maka, dalam rapat direksi di Pangandaran akhir April lalu saya menyatakan bahwa saya harus bertanggung jawab atas kelemahan saya itu. Semua biaya orang PLN yang berangkat ke acara itu akan saya tanggung secara pribadi.

Ternyata masih ada kejadian lain yang juga membawa korban. Direktur Operasi Indonesia Timur Vickner Sinaga mengemukakan bahwa pertengahan Mei ini ada proyek yang akan jadi yang harus disertifikasi. Itu juga buah simalakama. Tidak disertifikasi berarti pemanfaatkan proyek tertunda. Disertifikasi berarti harus mengundang orang jasa sertifikasi ke lokasi yang berarti harus ada SPPD.

Mau tidak mau, simalakama membawa korban juga. Orang Minang memang bisa menyelesaikan problem buah yang satu itu dengan cerdas. Kalau dimakan mati ibu dan tidak dimakan mati ayah, orang Minang memilih untuk menjual saja buah itu: tidak ada yang perlu mati, bahkan bisa mendapatkan uang. Namun, dalam kasus sertifikasi ini harus ada yang mati. Pak Vickner harus menanggung secara pribadi biaya mendatangkan orang jasa sertifikasi itu ke lokasi. Kebetulan Pak Vickner punya restoran masakan Batak yang sangat maju di Balikpapan. Anggap saja ini zakatnya!

Adilkah Vickner harus menanggung ‘dosa’ itu? Menurut saya, adil. Sebab, proyek itu mestinya sudah selesai bulan-bulan sebelumnya. Kalau saja proyek itu tidak terlambat, tentu penyertifikasiannya bisa dilakukan pada April.

Hikmah lain yang ingin didapatkan dari “puasa SPPD” adalah seberapa sudah majunya proses perubahan manajemen di PLN. Manajemen yang baik tentu yang bisa mengatasi persoalan ketika persoalan itu muncul. Seberapa pun besarnya persoalan itu. Manajemen yang baik adalah yang juga baik sejak dari perencanaannya. Bulan tanpa SPPD ini diputuskan tiga bulan sebelumnya. Kalau saja sejak saat itu semua jenjang manajemen melakukan proses manajemen yang baik tentu antisipasinya sudah dilakukan dengan baik.

Maka, dengan datangnya bulan puasa SPPD ini, saya mengucapkan selamat berpuasa kepada seluruh jajaran PLN dan anak perusahannya. Inilah puasa yang benar-benar puasa karena setelah sebulan penuh berpuasa nanti tidak akan datang yang namanya hari raya! Mohon maaf lahir batin!.

Dahlan Iskan
PLN CEO

Musik dan Nyanyian : Bukan Untuk Saya


Setiap muslim harus menghargai akidah dan keyakinan saudaranya sesama muslim dengan baik. Karena boleh jadi seorang muslim memiliki akidah yang sama namun sejatinya berbeda. Yang satu memiliki akidah yang lurus dan sesuai manhaj salafus shalih sedangkan satunya lagi tidak. Berikut saya tampilkan tulisan dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengenai dalil-dalil yang menunjukkan pengharaman secara jelas (sharih) terhadap berbagai macam alat hiburan dan musik. Sekedar menambah wawasan , Anda juga bisa membaca tulisan saya yang berjudul ‘Dua Yang Takkan Pernah Bersatu‘ untuk menambah kemantapan pemahaman dan berhati-hati terhadap perkara ini. Barakallahu fikum.

Wallahu a’lam bishshawab

muhsin budiono

Continue reading

Musik dan Nyanyian : Bukan Untuk Saya ( 2 -habis)


(Sambungan)

6. Hadits Abu Umamah Al Bahili
Hadits ini dikemukakan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga oleh At Tirmidzi bahwa Rasulullah telah bersabda. “Ada sekelompok dari umatku yang begadang dengan suguhan makanan dan minuman serta hiburan dan permainan, kemudian esok harinya mereka menjadi kera dan babi, lalu dikirimkan angin terhadap orang-orang yang hidup di antara mereka, kemudian angin itu menghamburkan mereka sebagaimana telah menghamburkan orang-orang sebelum kalian lantaran mereka telah menghalalkan khamr, menabuh rebana, dan mengambil budak-budak wanita untuk menyanyi.”
Di dalam sanad hadits ini terdapat Farqad As Sabakhi yang termasuk pembesar kaum Shalih, namun demikian ia tidaklah kuat dalam hal hadits. At Tirmidzi mengatakan : “Yahya bin Asa’id melemahkannya naumn ada juga rawi-rawi yang mengambil riwayat darinya.”

Continue reading

Untukmu wahai Remaja Muslim


Kami persembahkan  nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.

Continue reading

PLN Tidak Mau Lagi Jadi Ban Belakang (2 -habis-)


Dalam waktu kurang dari satu tahun Pak Dahlan berani membawa karyawan ke presiden. Apa latar belakangnya?

Bukan saya yang membawa mereka, tapi Presiden mengundang karyawan-karyawan PLN sebagai penghargaan atas kerja keras PLN menyelesaikan krisis listrik. Saya bisa merasakan kebahagiaan Bapak Presiden ketika PLN bisa menyelesaikan krisis listrik dalam waktu yang singkat. Saya bisa memahami betapa sudah lama Bapak Presiden menjadi bulan-bulanan opini di masyarakat dari seluruh Indonesia karena tidak pernah kunjung bisa mengatasi persoalan krisis listrik. Bapak Presiden sendiri bilang bahwa setiap kali bertemu bupati, walikota dan gubernur di seluruh Indonesia selalu mendapat keluhan soal lisrik. Beliau juga mengatakan setiap hari menerima ribuan SMS yang mengadukan soal listrik. Ibu Any Bambang Yudhoyono memberitahu saya bahwa kini banjir SMS dari Medan sudah berhenti. Karyawan PLN senang dan bangga dengan undangan Bapak Presiden ini. Hampir semua dari mereka untuk pertama kalinya masuk istana.

Apa kriteria bagi mereka yang diajak ke Istana itu?

Undangan minum teh  bersama Presiden di Istana Negara ini tentu istimewa. Karena itu hanya yang paling menonjol yang kami bawa. Itupun sebagai perwakilan saja karena yang menonjol terlalu banyak. Sebagian dari mereka sudah kami hadirkan  ketika kami mengundang Presiden ke Mataram untuk syukuran telah selesainya krisis listrik. Penghargaan Presiden itu pada dasarnya untuk semua karyawan PLN. Hanya karena jumlah karyawan PLN 50.000 orang tentu Istana tidak bisa menampung orang sebanyak itu. Kami sendiri pernah menerima penghargaan dari Komisi VII DPR karena usaha yang serius mengatasi permasalahan listrik. Penghargaan ini penting karena biasanya hanya caci-maki yang muncul dari DPR.

Pengembangan listrik pra-bayar berkembang pesat dan mendapat respons yang luas. Apa langkah selanjutnya?

Kami memang melakukan usaha yang sungguh-sungguh menggalakkan listrik pra-bayar. Ini bermula dari hasil analisa mengenai keluhan pelanggan listrik selama ini. Ada 20 keluhan yang sering dikomplainkan ke PLN. Mengatasi 20 macam keluhan tentu tidak mudah. Kami mencari jalan terobosan. Ketemulah bahwa 14 dari 20 macam keluhan itu bisa diselesaikan dengan satu langkah: pra-bayar. Misalnya keluhan pembacaan meter yang kurang akurat, kedatangan petugas PLN yang kurang ramah, pemutusan listrik yang terlalu keras karena telat bayar dan seterusnya. Dengan pra-bayar PLN tidak perlu lagi memutuskan listrik karena pada dasarnya kalau pelanggan telat bayar pelangan sendiri yang memutuskannya. Bahkan sistem pra-bayar bisa menghindarkan pencurian listrik karena meternya tidak bisa diutak-atik. Ke depan sistem pra-bayar akan terus ditingkatkan berlipat-lipat. Kalau tahun 2010 pra-bayar dipergunakan untuk 1 juta pelanggan, tahun 2011 bertambah lima juta lagi. Kami tidak bisa langsung menggantikannya semua karena menunggu kesiapan pabrikan meter dalam negeri. Kepada para pabrikan kami sudah kemukakan agar beralih memproduksi meter pra-bayar. Mereka perlu waktu setahun. Karena itu tahun 2010 kami batasi 1 juta. Di mana-mana orang meminta dipasang sistem prabayar tapi kami baru bisa melayani lebih banyak di tahun 2011. Pada saatnya nanti kami tidak melayani listrik yang bukan prabayar. Sistem pembelian strumnya akan terus disempurnakan. Sekarang di banyak ATM memang sudah bisa dibeli, tapi tahun 2011 ini akan diperluas ke sistem kartu gesek nomor. Kini kian banyak bank yang bergabung ke PLN karena pembayaran listrik ini menyangkut uang Rp 100 triliun setahun.

Bisakah dijelaskan mengenai gerakan sehari satu juta sambungan? Mengapa pak Dahlan berani melakukan itu disaat krisis listrik baru saja teratasi?

Setelah kami sukses mengatasi krisis listrik dalam waktu enam bulan, orang-orang PLN begitu percaya diri bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih besar dalam waktu yang pendek. Mengatasi krisis listrik adalah pekerjaan terbesar dan sangat sulit. Tapi teman-teman PLN mampu. Tantangan yang besar harus terus diberikan. Dan ternyata kali ini pun juga mampu. Gerakan sehari sejuta sambungan berhasil mencapai target, benar-benar menyambung 1 juta lebih sedikit.

Apa latar belakangnya?

Kami sudah punya inventarisasi persoalan-persoalan besar di PLN. Pertama krisis listrik. Kedua krisis pelayanan. Ketiga efisiensi. Ribuan persoalan yang ada sekarang ini hanyalah anak-cucu dari tiga persoalan tersebut. Tiga persoalan itu harus selesai dalam 18 bulan. Tiap enam bulan harus menyelesaikan satu persoalan besar. Enam bulan pertama menyelesaikan krisis listrik. Enam bulan kedua meningkatkan pelayanan. Enam bulan ketiga yang dimulai Januari bulan depan menyelesaikan efisiensi. Gerakan sehari sejuta sambungan adalah gebrakan untuk memulai peningkatan pelayanan. Dengan gerakan ini maka persoalan calo, lamanya menunggu sambungan, menggunungnya daftar tunggu, panjangnya birokrasi dan seterusnya dibongkar habis. Gerakan sehari sejuta sambungan ini akan menjadi titik-tolak model pelayanan listrik ke depan. Memang dengan gerakan sehari sejuta sambungan ini banyak pihak yang selama ini bisa ngobyek menjadi kehilangan obyekan. Tapi teman-teman PLN puas karena mendapat pujian di mana-mana. Harga diri teman-teman PLN naik. Kalau dulu ada yang mulai tidak berani mengenakan seragam PLN kini mulai dengan bangga memperkenalkan diri sebagai karyawan PLN. Mereka bangga mulai dipuji oleh mertua, tetangga, rekan BUMN lain dan bahkan dipuji Presiden SBY.

Dalam beberapa kali bertemu di bandara pak Dahlan kelihatan sendirian bahkan check-in sendiri.

Kalau di bandara Surabaya saya melakukan check-in sendiri karena Surabaya kan rumah saya. Memang sering ada yang menegur, lho kok check-in sendiri. Biasanya saya jawab dengan senyuman saja. Di Jakarta biasanya dicheck-inkan bagian protokol karena takut telat. Saya memang tidak biasa didampingi ajudan. Masih risi. Mungkin karena saya dari swasta yang biasa semua urusan begituan dikerjakan sendiri. Ajudan saya senang karena dengan tidak diperlukannya pekerjaan ini bisa kembali ke PLN Semarang, bekerja di sana, karena isterinya tinggal di Semarang.

Bagaimana menjaga kesehatan mengingat baru tiga tahun lalu menjalani operasi transplantasi hati?

Saya disiplin minum obat. Sehari saya harus dua kali minum obat. Sebenarnya itu bukan obat. Itu hanya synchronizer, obat untuk menyerasikan tubuh saya dengan hati baru saya yang pada dasarnya milik orang lain itu. Saya juga disiplin tidak makan apa-pun dua jam sebelum minum obat itu dan satu jam setelah minum obat tersebut. Selebihnya saya merasa fit. Minggu lalu saya ke Halmahera, Morotai, Ternate, Tidore, Ambon dan Poso hanya dalam waktu dua malam, ternyata baik-baik saja. Demikian juga minggu sebelumnya saya ke Sorong, Fakfak, Kaimana, Manokwari, Jayapura hanya dalam waktu dua hari, juga tidak ada masalah. Semoga terus begitu. Tapi untuk mengatasi persoalan listrik ini saya memang sudah bertekad mempertaruhkan apa pun termasuk badan saya. Saya sangat percaya kalau listrik beres, ekonomi Indonesia akan sangat maju. Beberapa teman saya meninggal dunia kurang dari tiga tahun setelah transplant hanya karena teledor dalam menjaga diri. Bukan karena kerja keras.

Sejumlah orang mulai menyebut gaya kepemimpinan Pak Dahlan dipengaruhi oleh latar belakang sebagai wartawan. Apakah betul?

Wartawan mengajarkan kepada saya untuk berpikir logis, mampu mesimplifikasi persoalan besar, mampu membedakan mana yang penting dan kurang penting, terbiasa mendahulukan yang terpenting dan berbuat untuk kepentingan umum. Tapi saya kan sudah lama berhenti sebagai wartawan. Lebih dari sepuluh tahun terakhir saya kan sudah lebih banyak sebagai orang bisnis. Bisnis mengajarkan saya banyak hal: kecepatan mengambil keputusan, menghitung resiko, memperhitungkan hilangnya kesempatan, dan menepati janji yang diucapkan. Saya kira latar belakang wartawan dan orang bisnis ikut menentukan. Tapi mungkin bapak saya yang mengajarkan kesederhanaan dan sikap egaliter.

Tentu juga sangat berpengaruh dalam hal cara berkomunikasi dengan karyawan yang begitu besar di seluruh Indonesia.

Tentu. Setiap bulan saya menulis CEO-Note. Seluruh karyawan PLN bisa membacanya. Di situ saya kemukakan mengenai apa saja yang seharusnya dilakukan bersama. Saya menghindari gaya khotbah atau pidato. Saya lebih banyak menggunakan gaya bercerita sebagaimana wartawan menulis reportase. Banyak juga yang isinya mengenai prestasi seorang karyawan atau pimpinan yang bisa diteladani. Saya monitor pembaca CEO-Note ini sangat luas. Karyawan PLN di daerah-daerah terpencil seperti Sibolga membacanya. Bahkan juga karyawan di PLN Tual atau Saumlaki, pulau kecil di dekat Australia itu. Dengan cara ini jalan pikiran CEO langsung bisa diikuti sampai lapisan terbawah. Kadang saya menulis CEO Note dua kali atau tiga kali sebulan. CEO Note telah menjadi bacaan yang tidak diwajibkan tapi meluas. Bahkan seorang kepala unit mengajukan ide membangun PLTA di Wamena karena tergerak setelah membaca CEO Note. Saya sendiri menjadi terdorong untuk terus menulis CEO Note karena kalau sedikit terlambat sudah banyak SMS atau email: mengapa CEO Note terbaru belum muncul? Saya akhirnya asyik juga di PLN ini. (Selesai).

Dahlan Iskan

CEO PLN

PLN Tidak Mau Lagi Jadi Ban Belakang (bagian 1)


Sekitar 5.000 manajer marketing memenuhi hall mewah terbesar di Jakarta itu. Mereka datang dari berbagai perusahaan dan berbagai kota. Inilah puncak pesta tahunan masyarakat marketing Indonesia yang paling bergengsi. Tepuk tangan bergemuruh ketika penobatan siapa saja yang tahun 2010 ini paling layak mendapat gelar sebagai “Tokoh Marketing Tahun Ini” (Marketer of the Year Indonesia 2010).

Enam orang CEO dari enam sektor usaha dipanggil ke atas pentas yang megah. Merekalah tokoh marketing tahun ini di masing-masing bidang usaha. Nama saya, CEO PLN, dipanggil di urutan kelima, sebagai Tokoh Marketing Tahun Ini bidang usaha pertambangan/energi. Yang dipanggil pertama adalah CEO BNI, Gatot Suwondo (Financial Services), CEO Toyota Astra, Johnny Darmawan (Otomotif, Transportasi, Logistic), CEO Kopi Kapal Api Soedomo (Consumer),  CEO Nexian Martono J Kusumo (Komunikasi, IT dan Media) dan terakhir Walikota Solo, Joko Widodo (Government).

Ketika berada di atas panggung bersama lima CEO Nasional itu saya tentu terlihat yang paling santai: pakai hem biasa dan sepatu kets. Saya memang tidak mengharapkan apa-apa ketika datang ke acara itu. Penghargaan seperti ini, menurut saya terlalu awal diberikan kepada PLN.

Setelah masing-masing menerima piagam dan piala, suasana justru menjadi hening dan tegang. Terutama ketika Chairul Tanjung, CEO Trans Corp yang tahun lalu menjadi Marketer of The Year Indonesia, tampil ke depan mikrofon. Sebagai ketua dewan juri, Chairul Tanjung akan mengumumkan siapa di antara enam CEO penerima penghargaan tersebut yang akan terpilih sebagai Marketer of the Year Indonesia 2010.

Saya nothing to lose. Tidak pernah dalam hati kecil saya berbuat sesuatu untuk mendapatkan penghargaan seperti itu. Apalagi prestasi PLN adalah prestasi seluruh karyawannya di seluruh Indonesia. Siapa pun di antara kami berenam yang akan terpilih, silahkan saja. Saya justru berpikir tidak baik kalau PLN menerima penghargaan itu. Terlalu dini. Beban masih sangat besar.

Tepuk tangan bergemuruh ketika juaranya juara diumumkan. Dan itu adalah CEO PLN. Beberapa karyawan PLN yang hadir di situ melonjak. Direktur PLN Vickner Sinaga tidak ikut melonjak. Dia mengaku tertegun di kursinya sambil menitikkan air mata. “Kerja keras kita mulai diakui masyarakat,” gumamnya. GM Disjaya, Pak Willy yang membawa beberapa anak buahnya besorak. Sudah lama tim PLN Jakarta hanya jadi pecundang. Kini mulai merangsek ke tengah bahkan ke atas panggung. Pak Suaedi, dari PLN Pusat, merasa merinding. Tanpa sadar dia berucap kepada diri sendiri: “Dalam acara-acara besar seperti ini peran orang PLN biasanya hanya dimarah-marahi, disuruh jaga genset cadangan dan ditempatkan di bawah pohon di pojok  halaman belakang. Tidak lebih dari itu. Hari ini PLN naik ke atas panggung!”.

Tentu saya diminta menyampaikan acceptance speech. Di atas panggung  yang megah dan bergemuruh itulah saya sampaikan bahwa PLN tidak mau lagi menjadi ban belakang!

Mengapa ban belakang itu cepat gundul?

Karena tidak pernah berhasil mengejar ban depan!

Sudah pernah saya sampaikan di CEO Note yang lalu, bahwa PLN ini selalu ketinggalan dari masyarakatnya. Terutama masyarakat ekonomi. Akibatnya PLN dalam posisi terus menerus mengejar meningkatnya beban puncak. Itu pun tidak pernah terkejar! Sampai PLN gundul!

Posisi yang terus-menerus mengejar inilah yang kini sedang kita ubah. Agar kita tidak terus-menerus termehek-mehek.

PLN belum menjadi ban depan sekarang ini. Tapi sudah menjadi sampul depan majalah Marketeers. Majalah itu juga memuat wawancara dengan saya yang cukup panjang. Agar wawancara ini juga menjadi sikap bersama, berikut ini saya kutipkan hasil wawancara dari majalah yang bisa dibeli di toko-toko majalah itu:

Anda begitu sering berkunjung ke daerah. Sudah berapa banyak daerah yang Anda kunjungi?

Menjelang satu tahun masa jabatan saya sebagai Dirut PLN ini, semua propinsi sudah saya kunjungi, kecuali satu: Bengkulu. Ini akan saya kunjungi minggu depan. Dengan demikian sebelum satu tahun sudah tidak ada wilayah yang belum saya kunjungi. Minggu lalu saya marathon ke Halmahera, Morotai, Ternate, Tidore, Ambon dan Poso hanya dalam dua malam. Bagi saya ini tidak berat karena wiayah-wilayah itu juga sudah banyak yang saya kunjungi. Yakni ketika saya mendirikan koran-koran di hampir seluruh pelosok Indonesia.

Bagaimana gambaran keadaan listrik di daerah-daerah itu?

Seluruh pelosok tanah air itu persoalannya sama: krisis listrik. Di banyak daerah krisisnya sungguh luar biasa. Di Aceh dari keperluan 60 MW hanya tersedia kurang dari seperempatnya. Di Medan rakyat sudah sangat marah. Di Tanjungpinang sampai-sampai kepala cabang PLN setempat dijemur oleh masyarakat. Mereka mengira kalau kepala cabangnya dijemur akan mengeluarkan listrik ha ha. Di Palu hampir tidak ada harapan persoalan listrik bisa dipecahkan. Di Ambon sama saja. Di Lombok krisisnya seperti pasien makan obat: mati lampu sehari dua kali setiap hari.

Pelajaran apa yang bisa didapat di daerah-daerah itu?

Saya rasa benar pendapat bahwa terjadi ketidak adilan dalam pembangunan di negara ini. Bahkan masih ada beberapa ibukota kabupaten listrik hanya menyala enam jam dalam sehari. Umumnya itu memang kabupaten pemekaran yang status dulunya hanya kecamatan. Misalnya Maluku Barat Daya, dan Buru Selatan. Kurang lebih ada 8 ibukota kabupaten yang listriknya belum 24 jam sehari. Bahkan di Jayapura masih ada 11 kabupaten yang belum ada listriknya. Untuk ibukota kabupaten yang baru menyala 6 jam sehari, sebagian kami selesaikan sebagai hadiah tahun baru 2011. Sebagian lagi baru akan bisa diselesaikan bulan April nanti. Sedang 11 kabupaten yang belum ada listriknya sama sekali, malam menjelang Natal nanti sudah akan ada listrik menyala di sana, meski sangat terbatas dulu. Ternyata saya terlalu jauh melhatnya. Di Pulau Bawean, Jatim, sendiri listriknya belum 24 jam. Padahal ini kota “internasional” karena penduduknya selalu wora-wiri ke Singapura. Mulai malam tahun baru nanti, Bawean akan 24 jam.

Apakah ditemukan contoh menarik yang bisa jadi inspirasi di suatu daerah?

Ada, banyak. Di Wamena akal sehat sungguh tidak jalan. Di sana ada sumber listrik tenaga air yang gratis, tapi PLN menyediakan listrik diesel yang harus mendatangkan BBM. Bisa dibayangkan bagaimana harus setiap hari mengangkut BBM yang sangat banyak dengan pesawat. Maka saya tekadkan bahwa mulai Januari 2011, dengan gerak cepat sekali, sudah harus dibangun pembangkit listrik tenaga air di Wamena. Wamena harus bebas dari diesel 100%. Diesel akan kami haramkan masuk Wamena. Demikian juga di Banjarmasin. Daerah penghasil batubara yang luar biasa itu PLN justru punya diesel dengan kapasitas lebih 100 MW! Padahal membangkitkan listrik dengan diesel, di Banjarmasin, harganya empat kali lipat. Beberapa hal yang tidak masuk akal sehat seperti ini akan kami luruskan. Akal sehat harus ditegakkan. Akal sehat jangan dibunuh!

Orang tahu PLN tidak punya uang. Tapi Anda membuat program begitu banyak dengan tenggat waktu begitu pendek. Seperti program bebas pemadaman bergilir yang harus berhasil dalam waktu enam bulan. Apakah ini tidak mencerminkan asal dari Surabaya yang lebih menggandalkan bondho nekad (bonek)?

Memang sebagai orang luar semula saya mengira orang-orang PLN itu sudah 100% bobrok semua. Tapi setelah saya masuk ke PLN saya ternyata menemukan banyak sekali orang PLN yang menginginkan PLN itu maju. Golongan yang ingin maju ini ternyata menempati posisi mayoritas. Hanya saja selama ini mereka tidak mampu mengaktualisasikan diri mereka. Saya juga menemukan kenyataan bahwa orang-orang PLN itu cerdas-cerdas, pinter-pinter dan mengetahui semua persoalan yang menyebabkan PLN tidak maju. Kenyataan inilah yang membuat saya percaya diri untuk menetapkan program-program besar dengan waktu yang pendek. Saya yakin mereka akan mampu asal diberi kepercayaan. Dan ternyata mampu. Saya bangga sekali pada teman-teman di PLN. Kalau di Jawa Pos dulu banyak program besar bisa dilakukan dalam waktu pendek tapi prosesnya agak ngawur. Di PLN, program-program itu bisa berjalan dengan proses yang lebih sistematis. PLN itu punya hampir 20 doktor dan 600 master. Umumnya berlatar belakang teknologi sehingga cara berpikirnya amat logis dan analitis.

Tapi dari mana dapat uangnya?

Ha ha….ini memang pertanyaan banyak orang. Dari mana tiba-tiba punya uang? Terus terang beberapa uang PLN yang dulunya dipakai bridging proyek-proyek besar kami tarik cepat. Direktur keuangan PLN kini amat rajin menginventarisasikan di mana saja uang PLN terpakai. Lalu ada satu proyek besar yang kami tunda karena saya lihat sama sekali tidak urgent. Proyek ini akan memakan uang PLN hampir 1,5 triliun. Satu proyek besar lagi saya mundurkan karena juga tidak mendesak. Ini bisa melonggarkan cashflow tahun ini Rp 1,2 triliun. Lebih baik uang itu untuk mengatasi krisis listrik, memperbaiki layanan masyarakat. Proyek yang memerlukan dana PLN Rp 1,5 triliun itu bagian lokal dari nilai proyeknya yang Rp 15 triliun yang akan didanai dari pinjaman asing. Proyek ini ada di Jawa dan untuk menambah listrik di Jawa. Padahal kalau manajemennya baik, listrik di Jawa sampai tahun 2015 sudah cukup tersedia. Proyek ini sebenarnya sudah ditenderkan dan pemenangnya sudah ada. Tapi saya batalkan. Saya tidak peduli. Saya lebih memikirkan masyarakat luar Jawa yang sudah puluhan tahun berteriak kekurangan listrik. Pemenang proyek dari luar negeri itu terus merayu saya untuk meneruskan proyek ini. Saya bergeming. Sebagian dana lagi untuk membeli trafo. Baik trafo Interbus Transformer (IBT) maupun trafo distribusi. Dengan trafo IBT listrik Jakarta akan lebih aman. Untuk apa punya proyek itu kalau tidak punya trafo. Trafo-trafo IBT itu sekarang sudah berdatangan. Saya lega. Jakarta aman. Kalau trafo itu tidak dibeli dan terjadi ledakan seperti di Cawang tahun lalu, Jakarta akan padam selama delapan bulan. Lalu kami membeli 8.000 trafo distribusi untuk Jawa. Kalau dulu listrik mati di Jakarta atau di Jawa akibat trafo rusak dan tidak ada gantinya, kini tidak begitu lagi. Kepala-kepala cabang PLN seluruh Jawa sudah kami beritahu: berapa pun anda minta trafo akan kami beri. Tidak terbatas. Asal lampu jangan mati-mati. Kalau dulu banyak kepala cabang yang marah-marah mengapa PLN tidak bisa menyediakan trafo, kini kami yang marah-marah kepada kepala cabang mengapa tidak mengambil jatah trafonya?

Apa target pelayanan itu?

Target kami tidak muluk-muluk. Pelayanan menjadi baik. Masak kalah dengan Malaysia. Kami tidak membuat target agar menjadi kelas dunia. Target kami sederhana: kalahkan Malaysia! Dalam waktu dekat! Begitu sederhananya target itu sehingga pimpinan PLN Jatim merumuskannya dengan bahasa Jawa Timuran begini: Listrik ojo byar-pet, yen pet, cepet! Listrik jangan mati-mati. Kalau pun suatu saat mati, agar cepet hidup lagi. Listrik memang tidak mungkin tidak mati. Masyarakat tahu itu. Yang penting jangan sering-sering mati. Kalau mati harus cepat hidup lagi. Sebelum ikan di dalam kulkas busuk, atau sebelum ikan koi di dalam kolam mati! Di Jawa, ini harus sudah terjadi mulai 1 Januari depan ini.

Apakah itu bisa dicapai?

Saya sangat yakin bisa. Teman-teman di Jawa kini sedang sangat bergairah melakukannya. Antusiasme mewabah ke mana-mana. Kami memang punya doktrin bahwa hidup tanpa antusias lebih baik mati saja. Berbagai cara mereka temukan. Ada yang menemukan cara memonitor trafo dengan kamera. Ada yang menemukan bahwa paralon ternyata bisa dipakai untuk membungkus kabel yang berdekatan dengan pohon-pohon. Ada yang memanfaatkan ahli petir satu-satunya di Indonesia untuk memetakan di kawasan mana petir yang paling banyak dan yang paling mematikan. Khususnya mematikan listrik. Ada ribuan kiat dan cara yang ditemukan para pelaksana di lapangan. Kami memberikan kebebasan untuk langsung menerapkannya. Tidak perlu minta persetujuan, pengesahan apalagi petunjuk. Just do it! Beberapa penemuan kiat yang istimewa kami beri penghargaan dan kami ajak ikut rapat direksi. Mulai Januari nanti, tiap minggu lima kepala cabang akan ikut rapat direksi. Yakni kepala cabang yang daerahnya sudah berhasil mengalahkan Malaysia.

Tapi Pak Dahlan sempat menangis di DPR, apa maksudnya?

Waktu itu saya benar-benar tidak tahan menghadapi dilema ini: tunduk pada prosedur yang bisa menyengsarakan rakyat Palu dan Mataram, atau menabrak prosedur tapi krisis listrik di dua daerah itu segera teratasi. Saya putuskan saya tabrak prosedur. Kalau harus masuk penjara akan saya jalani. Yang saya tabrak adalah prosedur. Bukan memakan uangnya. Sejak itu teman-teman di PLN memperbaiki prosedur-prosedur yang selama ini rumit. Kini kami menyederhanakan prosedur-prosedur itu.

Pihak eksternal PLN kan belum tentu mendukung apa yang Anda kerjakan. Tapi Anda tidak pernah teriak-teriak di luar. Mengapa?

Saya bukan orang yang cengeng. Misalnya pernah kami menghadapi kesulitan batubara. Ini tidak masuk akal. Ini juga pembunuhan akal sehat. Bagaimana Negara begini kaya batubara PLN sulit dapat batubara. Batubara bisa menerangi Hongkong mengapa tidak bisa menerangi negeri sendiri. Maka saya langsung saja minta direksi untuk melakukan impor batubara. Biar sekalian lucu. Akhirnya kita dapat batubara tanpa harus impor. Demikian juga ketika kami sangat memerlukan gas. Kami sudah kemukakan setiap kami mendapat tambahan 100 mmcfd gas, PLN akan lebih hemat Rp 6 triliun setahun. Bukan kami mendapat tambahan gas, malah gas kami dikurangi. OK. Kami tahu memang tidak akan ada gas. Kami tidak akan merengek-rengek. Tidak akan cengeng. Kami akan tempuh jalan lain. Misalnya gas untuk PLTG-PLTG Tambaklorok Semarang itu. Mestinya kita dapat gas dari lapangan Kepodang milik Petronas di lepas pantai Semarang. Ini akan menghemat sekitar Rp 1 triliun setahun. Petronas sudah setuju menjual gas ke PLN. PLN sudah setuju membelinya. Harganya juga sudah disepakati. Tapi ternyata transaksi ini tidak bisa terjadi. Terkendala dengan persoalan yang sangat sepele yang di luar jangakauan PLN: siapa yang memasang pipanya. Sampai sekarang persoalan ini belum selesai. OK. Kami tiak cengeng. Kini PLTG-PLTG Tambaklorok yang amat mahal dan menguras uang rakyat itu akan kami matikan saja. Listrik untuk Semarang kami pasok dari PLTU Rembang. Karena itu PLTU Rembang yang hampir jadi akan kami masukkan ke Semarang melalui sistem 150 kV. Tidak perlu lewat sistem 500 kV trans Jawa. Kekurangan sedikit untuk Semarang akan kami tambah dari memasang trafo IBT baru di Ungaran. Maka PLTG-PLTG di Tambaklorok itu hanya akan jadi back up pasif saja. Soal kalau suatu saat nanti pemerintah sudah memutuskan siapa yang akan membangun pipa gas ke Semarang, kami tidak bisa ditekan lagi harganya. Kami sudah bisa jual mahal. (bersambung ke bagian 2).

Perkosaan Massal


Aduh. Mohon maaf. Sebenarnya saya berniat untuk tidak menampilkan gambar-gambar ‘seronok’ atau yang sejenisnya. Karena blog ini bukan termasuk blog porno ataupun blog khusus dewasa. Disamping itu saya cukup miris dan kasihan melihat adegan pemerkosaan gangbang seperti ini. Sedih sekali rasanya. Namun demikian karena terdorong rasa penasaran yang meledak-ledak dari insan beriman seperti Anda, saya terpaksa meng-upload gambar-gambar tersebut dengan harapan agar Anda sedikit terpuaskan. Selebihnya saya sarankan agar Anda banyak ber-istighfar dan menjalani hidup ini dengan baik setelah melihat foto-foto dibawah ini. Selamat menikmati hidup.

Dibawah inilah foto-foto perkosaan massal :

Continue reading

MBNQA : Malcolm Baldrige National Quality Awards (2-habis-)


Evolusi Baldrige Award dalam Pencapaian Tujuannya

Kriteria penghargaan Baldridge merupakan aturan utama dalam pencapaian tujuan yang dibuat oleh Kongres. Kriteria ini telah dirancang untuk membantu organisasi mengembangkan daya kompetisi mereka, yang difokuskan pada 2 buah tujuan, yaitu men-deliver peningkatan nilai kepada pelanggan dan meningkatkan performansi organisasi secara keseluruhan. Kriteria tersebut sekarang diterima secara luas, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh dunia, sebagai sebuah standar performansi terbaik.

Program penghargaan Baldridge merupakan sebuah usaha sukses pemerintah dan tim sektor privat. Sebuah hubungan kooperatif antar keduanya ini terjalin karena penghargaan Board of Examiners. Setiap tahunnya, lebih dari 300 ahli dari industri, institusi pendidikan, pemerintah dalam setiap level, dan sukarelawan dari organisasi non profit, menghabiskan waktu untuk melihat semua aplikasi pendaftar, mengatur tempat kedatangan, dan menyiapkan feedback tentang kekuatan dan kesempatan yang masih mungkin ditingkatkan bagi tiap pendaftar.

Setelah melalui berbagai tahap seleksi, para pemenang penghargaan Baldridge ditarik komitmennya untuk memberikan dukungan bagi perusahaan atau organisasi lain. Dukungan itu berupa usaha mereka untuk memberi pengajaran dan informasi mengenai keuntungan dari sistem Baldridge Award dan kriterianya.

Malcolm_Baldridge

Malcolm_Baldridge

Continue reading

MBNQA : Malcolm Baldrige National Quality Awards (1)


Kalau Anda adalah seorang pelaku atau pengamat korporasi, rasa-rasanya sangat kebangetan kalau tidak mengenal kepanjangan dari MBNQA. Bukan berarti sok kebarat-baratan atau berkiblat pada negara kapitalis yang seringkali tidak adil dalam menerapkan kebijakan luarnegerinya, saya pikir ada manfaatnya juga kalau kita mengenal sedikit tentang penghargaan bergengsi pada dunia korporasi bertajuk Malcolm baldrige award. Bagaimanapun juga hidup di era globalisasi yang telah menancapkan kuku-kuku tajamnya di seluruh relung kehidupan kita semakin membuka mata dan hati ini bahwa sebuah dunia multi market penuh kompetisi telah hadir. Tuntutan pasar yang semakin meningkat menuntut semua pihak menghasilkan produk atau jasa yang terbaik dalam memenangkan persaingan. Ini berarti secara langsung mendorong organisasi manapun di belahan dunia ini untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas produk atau jasa yang mereka hasilkan. Manajemen kualitas dipandang sebagai alat yang sangat berguna dalam peningkatan kualitas tersebut. Manajemen kualitas merupakan senjata yang ampuh bagi perusahaan dalam usaha perluasan bisnisnya. Singkat kata : manajemen kualitas adalah kunci dari kemakmuran dan merupakan kekuatan jangka panjang sebuah organisasi bahkan sebuah negara.

Continue reading

Road to International Islamic Followership Trainer

18 June 2023
Seorang muslim terlalu besar untuk memiliki cita-cita yang kecil. Jangan menyerah. Tetap istiqomah. Where there is a will there is a way.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me on Twitter