Hari Besar Idul Fitri, yang banyak dinanti kaum Muslim sebagai hari kemenangan, menang dalam Arti menahan Nafsu, Menahan Diri dalam tempaan selama ramadhan, hingga akhirnya saat hari itu tiba, Kaum muslim merayakan tradisi untuk bermaaf-maafan, dan sebagian orang di Indonesa terbiasa dengan mengucap Minal ‘Aidin wal Faizin, yang diiringi dengan tambahan kalimat Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
Sebelumnya mari kita lihat Arti sebenarnya dari Minal ‘aidin wal faizin, yang terdiri dari Huruf Hijaiyah seperti berikut:
Mim-nun-alif-lam-‘ain-alif-hamyah-dal-ya-nun-wawu-aliflam-fa-alif-hamyah-ya-za-ya-nun.
Sehingga jika ditranselerasikan kedalam Bahasa Indonesia Menjadi:
1. Min, Yang memiliki arti “termasuk”.
2. Al-aidin, Artinya”orang-orang yang kembali”
3. Wal, Artinya “dan”
4. Al-faizin, Artinya “ menang”.
Jika dimaknai secara harfiah dari Minal ‘Aidin wal Faizin dalam bahasa indonesia, menjadi:
“Termasuk dari orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang”.
dan bukan berarti Mohon maaf Lahir dan Bathin, melainkan ditambahkannya kalimat tersebut untuk menyertai bahasa Arab Minal ‘Aidin Wal faizin.
Continue reading
Permasalahan Melafadzkan Niat Puasa Ramadhan sesungguhnya sudah jelas sebagaimana Imam An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”[Rowdhotuth Tholibin, 1/268 ] Semakin keliru lagi jika niat ini dibaca bareng-bareng selepas shalat tarawih.
Al-Ustadz Hammad Abu Muawiah
Niat adalah rukun berpuasa sebagaimana pada seluruh ibadah. Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu (syah atau tidaknya) tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab)
Niat dalam ibadah, baik wudhu, shalat, puasa dan selainnya tidak perlu dilafazhkan.
Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Mengucapkan niat (secara jahr) tidak diwajibkan dan tidak pula disunnahkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa: 22/218-219).
Dan dalam (22/236-237) beliau berkata, “Niat adalah maksud dan kehendak, sedangkan maksud dan kehendak tempatnya adalah di hati, bukan di lidah, berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun dia berniat dengan hatinya (tanpa memantapkannya dengan ucapan, pen.), Maka niatnya syah menurut Empat Imam dan menurut seluruh imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang belakangan.” Maka sekedar bangunnya seseorang di akhir malam untuk makan sahur -padahal dia tidak biasa bangun di akhir malam-, itu sudah menunjukkan dia mempunyai maksud dan kehendak -dan itulah niat- untuk berpuasa.
Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.
Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء
“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)
Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya. Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena tidak pernah diajarkan oleh beliau.
Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, berikut disampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.
Dalam sebuah kunjungan ke suatu daerah miskin seorang Presiden bertanya kepada seorang Ibu tua penjual kue.
“Sudah berapa lama jualan kue, Bu?”, tanya Presiden,
“Sudah hampir 30 tahun, Pak”, jawab Ibu penjual kue.
“Terus anak ibu mana? Kenapa tidak ada yang bantu?”, tanya presiden lagi.
“Anak saya ada empat, yang pertama di KPK, kedua di Polda, anak ketiga di Kejaksaan, dan yang keempat di DPR. Jadi mereka sibuk sekali, Pak.”, jawab sang ibu penjual kue itu.
Kawan-kawan semua,
Saya mendapatkan cerita ini dari seorang sahabat. Katanya kisah dalam cerita ini ditujukan tidak hanya untuk mereka yang bergender laki-laki saja, tapi juga bisa untuk renungan buat mereka yang mengaku kaum hawa. Setelah bercerita, ia menasehati kalau mereka-mereka yang merasa tidak puas dengan pasangan hidupnya saat ini bisa melakukan introspeksi melalui kisah ini. Daripada penasaran berikut kisah dari “Toko Istri” tersebut :
Kawan-kawan semua, hari ini saya tidak sengaja membaca salah satu artikel dari Pak Andrie Wongso, motivator lulusan SDTT (Sekolah Dasar tidak Tamat) yang luarbiasa. Pak Andrie punya slogan yang menurut saya sangat keren : Sukses adalah hak saya. Kisah hidup Beliau juga sanggup menginspirasi siapa saja yang ingin sukses dan menjadi motivator bagi diri sendiri maupun orang lain. Supaya apa yang saya baca bermanfaat lebih luas lagi saya posting saja di blog ini. Ambil yang baik-baik saja ya. Yang menurut Anda tidak baik silahkan dikesampingkan. Selamat membaca.
You must be logged in to post a comment.