Road to 2023
Nulis Lepas

GURU BESAR ‘MAHAKAM’


mahakamBeberapa hari lalu (27/3/2015) sejumlah Profesor dan tokoh masyarakat mendatangi Kantor Kementerian ESDM untuk menyampaikan petisi terkait pengelolaan Blok Mahakam di Kaltim. Pak Menteri langsung melontarkan pernyataan, “Pada level Menteri, Pemerintah mengarahkan bahwa Pertamina mendapat pengelolaan Mahakam sepenuhnya setelah kontrak berakhir.”

Selang satu jam kemudian media online rame-rame menulis : “Didatangi Para Guru Besar, Menteri ESDM menyerahkan Mahakam sepenuhnya ke Pertamina”. Dari kabar itu saya mencatat setidaknya ada 2 hal penting yang menarik untuk dibahas. Pertama, sevalid apa pernyataan yang disampaikan menteri ESDM terkait penyerahan Mahakam ke Pertamina?. Kedua, hikmah apa yang dapat kita petik dari “turun gunung”-nya para guru besar dari berbagai universitas se-Indonesia mengajukan petisi Mahakam ke Kementerian?

.

PENUTUR BAHASA LISAN

Noam Chomsky (pakar linguistik sekaligus guru besar MIT) mengajari kita bahwa ibarat gunung es di tengah lautan, bahasa lisan adalah pucuk gunung es yang tampak di permukaan. Tuturan lisan hanya menyampaikan sekelumit dari kenyataan yang tersimpan dalam diri seseorang. Namun dari tuturan lisan itu kita bisa mengenali kenyataan/pengalaman apa yang kira-kira tersimpan di bawah permukaan. Dari memperhatikan bahasa lisan, Chomsky memelopori lahirnya tata bahasa transformasional generatif. Melalui tata bahasa itu ia juga sukses menunjukkan standar ganda kebijakan-kebijakan yang dipidatokan presiden maupun para politisi AS.

ListenApa hubungannya dengan Pak Menteri?. Begini, memahami ‘bahasa tutur’ adalah penting. Sebab setiap cerita (baca : peristiwa) selalu dituturkan melalui point of view (PoV) tertentu yang mewakili pandangan dunia narator. Contohnya dongeng Cinderella, kekuatan ceritanya tidak akan sama dengan yang kita kenal jika dituturkan dari PoV seorang Ibu tiri. Lewat dua narator berbeda, peristiwa yang sama akan melahirkan dua kekuatan cerita yang berbeda.

Disinilah kekuatan karakter seorang tokoh penutur lisan berperan aktif. Berperan dalam hal apa? Dalam menggunakan bahasanya untuk menghindarkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang tidak ia inginkan. Orang mengatakan ya belum tentu karena ia setuju. Mungkin ia mengatakan ya karena memang tidak bisa menolak. Atau ada yang dikhawatirkan bila ia menolak. Atau ia mendapat tekanan pihak lain?. Atau setali tiga uang : bilang ‘ya’ dan ‘tidak’ efeknya sama.

Jadi bukan hal istimewa jika selevel menteri koordinator mengatakan setuju atas petisi para guru besar. Sebab toh keputusannya tidak mutlak. Masih ada sosok pengambil keputusan yang lebih tinggi dan lebih powerful untuk memutuskan. Para guru besar, tokoh masyarakat, aktivis kedaulatan energi, dan simpul–simpul pejuang kemandirian energi di seluruh nusantara diminta agar tetap waspada. Sebelum ada teken resmi hitam diatas putih dari Presiden maka perjuangan belum selesai.

.

ASOSIASI PROFESOR INDONESIA

Sebuah wadah perkumpulan guru besar bertajuk Asosiasi Profesor Indonesia (API) pada 23/03/2015 lalu mengeluarkan pernyataan sikap terkait Pengelolaan Sumber Daya Mineral. Pernyataan itu ditandatangani ketua berikut puluhan anggota API lantas dikirimkan langsung ke meja Presiden di istana negara. Ada 4 poin yang diajukan. Poin paling mencolok yakni mendesak Pemerintah serahkan pengelolaan Blok Mahakam sepenuhnya kepada Pertamina.

Dalam pola pikir sekuler, para profesor di API dan guru besar yang terbang ke Kementerian mestinya bisa meminta imbalan ‘dana perjuangan’ ke Pertamina, sebab mereka secara nyata telah berperan aktif membela/mendukung kelangsungan bisnis (National Oil Company) NOC tersebut di masa mendatang. Untungnya kita semua tahu bahwa para guru besar diatas berjuang bukan untuk materi atau kepentingan pribadi lainnya, mereka bergerak atas idealisme dan pemikiran ikhlas yang menginginkan hadirnya kesejahteraan yang adil & merata bagi bangsa ini.

“To win this war we need a commander in chief, not a professor standing at the lectern”, kalimat barusan terlontar dari bibir sensualnya Sarah Palin, mantan Miss Alaska yang juga cawapres pendamping John McCain saat pilpres AS 2008. Palin tampaknya benar, namun bagaimana jika profesor yang dimaksud tidak hanya mahir ceramah?. Mereka juga melakukan aksi nyata dengan membuat petisi, deklarasi, pernyataan sikap dan bahkan (bila perlu) ikut turun ke jalan bersama masyarakat akar rumput?. Benar-benar turun gunung.

blok-mahakam

Setidaknya ada 3 hikmah yang dapat kita petik dari “turun gunung”-nya para guru besar. Pertama, Mahakam adalah kondisi kekinian yang urgent dan berpotensi besar menguntungkan Pertamina, Bangsa dan Negara. Akar masalahnya jelas : masih bimbangnya Pemerintah memutuskan secara tegas status Mahakam setelah berakhirnya kontrak kerjasama di tahun 2017. Padahal keputusan itu sangat penting agar transfer knowledge, nasib pekerja, dan tetek bengek lainnya dapat berlangsung smooth tanpa gejolak atau hambatan yang dapat menyebabkan menurunnya hasil produksi.

Eramuslim.com -salah satu situs islam terpercaya dan menjadi rujukan- namun diblokir KemenKominfo, kemarin (01/04/2015) memberitakan bahwa Pertamina terancam bangkrut dan dikuasai asing. Apa pasal? Sebab selama ini Pertamina dikendalikan oleh sindikat dan mafia yang berdiri dibalik kekuasaan Pemerintah. Mereka mengendalikan impor, ekspor, belanja modal dan investasi yang kesemuanya dijadikan sebagai ajang “begal” mendapatkan jatah dalam belanja Pertamina.

Disamping itu keuntungan dan pendapatan Pertamina harus disetorkan kepada pemerintah sebagai penerimaan negara, sehingga Perusahaan tidak dapat mengembangkan usahanya secara efektif. Pertamina diperas dengan berbagai macam pajak, bunga, biaya siluman, dll sehingga biaya yang ditanggung perusahaan sangat tinggi. Biaya lifting, refinary dan transportasi (LRT) Perusahan mencapai 24 USD per barel, pajak 15 % dan beban bunga 10 % menjadikannya sebagai perusahaan dengan biaya paling mahal sedunia. Dengan utang lebih dari 280 triliun rupiah, Pertamina dalam keadaan sekarat. Melunasi utang dengan laba operasi rasanya akan sulit. Laporan keuangan per Januari-Februari 2015 menunjukkan kerugian sekitar US$ 65juta.

Pilihan lainnya : menutup utang dengan utang baru. Namun opsi ini sangat berisiko. Ingat krisis utang Pertamina tahun 1974?. Kala itu konsorsium Bank AS sampai mengeluarkan statement kalau Pertamina tidak mampu melunasi utang jangka pendek senilai US$40Juta. Kita percaya bahwa manajemen Pertamina sudah menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan. Efisiensi dan peningkatan kinerja disegala lini telah dilakukan. Mengelola Mahakam bisa menjadi opsi terbaik dari sekian opsi yang ada. Investasi blok Mahakam sangatlah sehat dan menjanjikan. Wood Mackenzie (2013) menghitung bahwa Internal Rate of Return (IRR) Mahakam sebesar 28%. Sementara IRR wilayah kerja migas lain yang hanya berkisar 12%.

Mahakam adalah ‘daging’ nyaris tanpa lemak. Mahakam tidak hanya mampu membiayai dirinya sendiri (self-financing), tetapi menjanjikan bonanza keuntungan bagi Pertamina dan Negara sekaligus. Pertamina akan mampu lebih dini untuk membiayai investasi-investasi strategisnya sendiri, tanpa perlu menggali lubang hutang lebih dalam.

SpeakKedua, adanya kepedulian kaum intelektual atas apa yang dirasa sebagai ‘tugas nasional’. Sejak jaman dahulu kaum intelektual selalu mengambil peran atas porsinya sendiri. Kesadaran akan ‘tugas nasional’ telah menginspirasi ilmuwan sekelas Russel-Einstein untuk mendukung propaganda pembatasan senjata nuklir di tahum 1955. Dalam buku The Rape of Nanking, Iris Chang menerangkan bahwa setelah era world war II berakhir para professor terhormat di Jepang bergabung dengan pasukan sayap kanan untuk membantu propaganda pemerintah atas peristiwa holocaust yang dirahasiakan. Demikian pula di jaman pergerakan nasional Indonesia, para kaum terdidik (intelektual) kitalah yang menjadi motor penggerak menggalang kekuatan internal bangsa untuk merdeka. Setiap ilmuwan yang memiliki kepedulian besar atas nasib bangsanya di masa mendatang memiliki apa yang disebut ‘tugas nasional’.

Ketiga, melegitimasi pergerakan mahasiswa untuk lebih keras memperjuangkan berbagai masalah kebangsaan. Dalam tataran dimensi moral, mahasiswa yang ‘normal’ akan merasa bersalah kalau sampai para pengajar mereka melakukan aksi nyata sementara ia pribadi sibuk dibalik bangku kuliah atau malas-malasan di kamar kos. Tak heran kalau beberapa waktu lalu (27/03/2015) ribuan mahasiswa di berbagai daerah pelosok negeri yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Indonesia melakukan aksi memberi SP1 (Surat Peringatan Pertama) dan rapor merah kepada kepemimpinan Jokowi-JK. Salah satu tuntutan mereka adalah akuisisi 100% saham Mahakam.

aksi.

HARGA SEBUAH PERJUANGAN

Russel dan Einstein sama-sama dikenal sebagai intelektual hebat. Genius dibidang sains dan meraih penghargaan nobel. Keduanya sepakat bahwa bahaya eksploitasi nuklir tengah mengancam umat manusia. Namun mereka memilih jalan yang berbeda untuk meresponnya. Einstein hidup dengan nyaman di Princeton dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk riset seraya sesekali menyampaikan orasi ilmiah, sementara Russel memilih demonstrasi di jalan. Ingin tahu hasilnya? Russel banyak menerima cacian dan kutukan sementara Einstein dipuja setinggi langit. Namun setidaknya selama dasawarsa 1950-an dan 1960-an Russel menjadi inspirasi kaum muda dan menjadi figur publik hingga saat wafatnya di tahun 1970. Usia Russel juga lebih panjang. Russel meninggal umur 97 tahun sedangkan Einstein “hanya” berumur 76 tahun.

Apakah hal diatas mengejutkan Anda? Bagi sebagian besar masyarakat tentu saja itu adalah kabar yang mengejutkan. Namun tidak demikian bagi para guru besar yang telah menandatangani petisi Mahakam. Bagi mereka kabar nasib Russel-Einstein yang bertolak belakang adalah hal mafhum. Itu harga yang harus dibayar oleh seseorang yang gigih memperjuangkan kemanusiaan serta kelangsungan hidup yang baik untuk ratusan tahun kedepan.

Selamat Prof., Anda semua berada di jalur dan pilihan yang benar.

 

 

-muhsin budiono

Advertisements

About muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Trainer dan Penulis Buku. Pakar Followership pertama di Indonesia. Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di sebuah Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.6 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: