Road to 2023
Nulis Lepas

Mengenal Omjay : Guru Tangguh Berhati Cahaya


Mengenal Omjay : Guru Tangguh Berhati Cahaya.

Omjay6Ada artikel menarik di Guraru.com buat kita yang gemar menulis maupun yang memang berprofesi sebagai penulis. Guraru merupakan kependekan Guru Era Baru, sebuah situs hasil inisiatif Acer Group Indonesia untuk meningkatkan IT-literacy atau melek TI pada para guru dimanapun mereka berada. Banyak guru-guru se-Indonesia yang bersilaturahim di forum ini. Disini saya tidak bermaksud mengulas isi dari artikel tersebut, sebab bisa Anda baca sendiri disini. Saya tertarik untuk mengulas penulisnya yang juga seorang guru dan penulis buku yang produktif berkarya. Nama beliau adalah Wijaya Kusumah. Tapi lebih senang kalau disapa dengan panggilan yang lebih “gaul dan keren” : Omjay. Dalam beberapa kali komunikasi secara pribadi (meski cuma via email dan SMS) saya lebih memilih kata “Ustadz Omjay” untuk menyapa Beliau. Kenapa harus “Ustadz Omjay”?. Sebab Beliau bukan guru sembarang guru, melainkan Guru tangguh berhati cahaya.

Sesuai dengan buku-buku yang pernah ditulisnya, Ustadz Omjay seiring dan sekata dalam sosok pribadi kehidupan nyata. Apa yang dituliskannya senantiasa dilakoninya terlebih dahulu. Inilah salah satu “beban indah” bila kita memilih untuk menjadi penulis buku. Saya mengenal Ustadz Omjay dari blog, dan langsung terkagum-kagum begitu membaca profil dan sepak pojok..eh sepak terjang Beliau dalam pendidikan dan dunia tulis-menulis. Apalagi ketika saya SMS, langsung mendapat respon tanpa saya harus menunggu lama. Padahal Beliau saat itu belum mengenal saya. Inilah ciri orang besar yang memang siap dengan kebesaran namanya : Mudah untuk dihubungi. Ya, gampang sekali untuk bisa berkomunikasi, berdiskusi atau cuma sekedar menyapa beliau. Nomer HP dan alamat email Omjay bebas dilihat siapa saja yang berselancar di internet. Maaf, kalau sebelumnya disinggung soal “orang besar” maka itu bukan berarti saya hendak menyinggung badan Omjay yang ukurannya memang juga besar. Subur bin Tahes. Mohon jangan salah persepsi ya. (^_^)

Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang Omjay dan seabrek prestasinya silahkan saja berkunjung ke blog Beliau. Atau klik disini : Blog Omjay. Oh iya, omong-omong tentang Omjay, dari sudut pandang saya pribadi, kalau membicarakan sosok Omjay pikiran ini melayang pada film-film Kungfu Mandarin yang sering saya lihat semasa remaja dahulu. Biasanya dibintangi oleh aktor laga Jackie Chan, Sammo Hung, Bruce Lee, dll. Lho kok bisa sih? Apa hubungannya Omjay dengan film Kungfu?. Bukan berarti saya menyamakan Omjay dengan Sammo Hung (meskipun banyak kemiripannya..he..he) hanya saja dalam film kungfu kita akan mendapati jalan cerita yang hampir sama/mirip. Kebanyakan kisah pendekar Kungfu bermotif balas dendam sebab perguruannya ataupun gurunya dilecehkan/dihina/dihancurkan oleh pendekar lain. Bahkan tak jarang pendekar sakti yang menjadi musuh pendekar lakon utamanya usianya sudah tua atau seangkatan dengan umur Sang Guru.

Sebagai perumpamaan mari kita simak kisah film Kungfu yang pemeran utamanya adalah Pendekar Emprit. Pendekar Emprit mengasuh perguruan Kungfu bersama gurunya. Ia memiliki guru terhormat, bijaksana nan sakti yang mengajarinya Kungfu tingkat tinggi. Sebut saja namanya Suhu Tong-tong. Suatu hari Suhu Tong kedatangan teman lamanya (satu perguruan) yang rupanya adalah seorang pendekar jahat dari negeri seberang. Namanya Pendekar Maruto Klopo. Dimasa silam persahabatan mereka tidaklah akur sebab Guru (Master) mereka lebih sayang dan peduli pada Suhu Tong ketimbang Maruto. Ketika kecemburuan memuncak dan meledak di ubun-ubun Pendekar Maruto tega meracuni Sang Master hingga tewas dan mencuri kitab sakti perguruan mereka.

Setelah lama tidak berjumpa, Pendekar Maruto mengajak duel Suhu Tong. Dendam lama bersemi kembali. Jalan cerita selanjutnya bisa ditebak : Suhu Tong kalah dan terluka parah. Beruntung murid-muridnya segera membawa kabur Sang Suhu dan melarikannya ke negeri seberang. Ini kisah klasik di mayoritas film Kungfu, kadang saya sempat bertanya sendiri : Kok bisa ya musuh (baca : orang jahat) dari pemeran utamanya punya kesaktian yang luarbiasa?. Rupanya tidak hanya dalam film, di kehidupan nyata sekalipun kita banyak menemukan orang jahat yang memiliki “kesaktian” luarbiasa. Para koruptor, politisi busuk, birokrat zalim, penegak hukum yang bobrok, hingga pengusaha hitam biasanya memiliki “kesaktian” luarbiasa berupa energi yang membuncah, semangat yang istiqomah, gendutnya rekening bank, jaringan luas, backing-an aparat, dukungan media massa, dan lain-lain.

kungfuKembali ke cerita awal, melihat gurunya terluka, Pendekar Emprit tidak tinggal diam dan menyerang. Maksud hati hendak memeluk gunung, sayang gunungnya kegedean. Maksud hati ingin mengalahkan Maruto, sayang kalah jauh kesaktian. Pendekar Emprit kalah dan terluka, iapun berhasil kabur dan mencari Suhu Tong. Pendekar Maruto sengaja memberinya kesempatan untuk tetap hidup guna membalas kelak.Walhasil perguruan Kungfu Suhu Tong diambil alih dan dikuasai oleh Pendekar Maruto.

Bertemu di negeri seberang rupanya Suhu Tong tidak mampu mengajarkan ilmu apa-apa lagi pada Pendekar Emprit, ia menyuruh muridnya yang berbakat itu untuk merantau dan mencari guru lain agar bisa memperdalam ilmu Kungfu untuk mengalahkan Pendekar Maruto. Suhu Tong memutuskan untuk tidak lagi mengajar Kungfu namun membuka klinik kecil pengobatan tradisonal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kabarnya klinik tersebut diberi nama “Tong Feng”.

Selang beberapa tahun kemudian dalam perantauannya Pendekar Emprit telah bertransformasi menjadi pendekar tangguh berhati cahaya..eh..pendekar tangguh sakti mandraguna. Melebihi gurunya terdahulu. Ia sukses berguru pada seorang pertapa tua yang bermukim  di puncak sebuah Gunung angker. Tidak hanya itu, dalam perjalanan menemui Pendekar Maruto ia tidak sengaja memakan kodok sakti yang ditemui di hutan. Maka bertambahlah kesaktiannya. Singkat kata dengan bersusah payah pada akhirnya Pendekar Emprit mampu mengalahkan Pendekar Maruto.

Kungfu2Kembali pada sosok Omjay. Kenapa saya harus menceritakan film Kungfu yang saya sutradarai sendiri diatas?. Inilah pesan pentingnya, selama menjalani hidup ini seringkali kita melihat banyak guru (baik di Sekolah Dasar, SMP maupun SMA) atau bahkan para dosen perguruan tinggi yang memilih untuk menjadi guru biasa-biasa saja. Cerminan mereka adalah Suhu Tong.

Suhu Tong sebenarnya adalah guru yang baik. Ia telah mengajarkan seluruh ilmunya pada Pendekar Emprit kemudian ikhlas merelakannya menimba ilmu di tempat lain. Hei, bukankah seperti itu pula yang dilakukan guru-guru kita?. Yang demikian tidaklah salah. Hanya saja saya teringat pesan salah seorang guru di SMA dulu saat acara pelepasan kelulusan : “Betapa bangganya menjadi pembelajar. Betapa nikmat menjadi seorang murid. Seorang murid bisa menjadi apa saja dikemudian hari (Jadi arsitek, dokter, insinyur, pengusaha, dsb), namun seorang guru tetap menjadi guru. Mengajar di sekolah setiap hari untuk menghantarkan murid-murid pada gerbang kelulusan setiap tahunnya. Sungguh profesi yang mulia”.

Secara pribadi saya tidak sependapat dengan nasehat diatas. Siapapun yang menyetujui kalimat bijak tentang “Seorang guru sampai kapanpun tetaplah seorang guru”, maka bisa dipastikan ia sudah terkena syndrom Suhu Tong. Suhu Tong melepas begitu saja murid kesayangannya untuk merantau, menambah wawasan, memperluas jejaring dan mencari ilmu. Sedangkan dirinya sendiri tidak berusaha untuk menambah wawasan dan memperdalam ilmu. Ia merasa dirinya “cukup”, sebab pernah menguasai ilmu Kungfu yang sakti (meski berhasil dikalahkan Pendekar lain). Dengan melepas muridnya ia merasa usai sudah tugas dan kewajiban sebagai seorang guru. Padahal sejatinya tidak demikian.

Guru yang bijak dan cerdas adalah guru yang sukses menghantarkan muridnya untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu meraih cita-citanya. Namun bukan itu saja, ia juga memiliki kewajiban untuk juga bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik juga tiap tahunnya. Tiap menghantarkan kelulusan murid-muridnya. Kebanyakkan guru-guru kita merasa sulit (baca : tidak mau) bertransformasi dan terjebak dalam zona nyaman. Akibatnya? Seumur hidupnya atau hingga pensiun ia akan tetap menjadi guru. Tetap seorang guru. Guru yang tetap. Tetap ilmunya, tetap cara mengajarnya, tetap segitu-gitu aja prestasinya, tetap penghasilannya, tetap rejekinya dan tetap sempit jejaringnya. Yang tidak tetap cuma satu : wajahnya. Tambah tua.

Nah, alhamdulilahnya, disini saya melihat sosok Omjay adalah seorang guru yang jauh dari cerminan Suhu Tong. Beliau memang sampai sekarang adalah seorang guru. Guru merupakan profesi utamanya dan panggilan hati yang suci. Namun disisi lain Omjay mampu bertransformasi laksana murid-muridnya yang telah lulus menjadi pribadi yang lebih baik. Perhatikanlah, Omjay bertransformasi menjadi penulis buku, berfungsi ganda sebagai pakar PTK, seorang Konsultan Pendidikan, Seorang Blogger, Trainer, Pengasuh Rubrik radio, Pembicara Seminar, Dosen, dan banyak lagi lainnya. Omjay juga menghasilkan berbagai prestasi yang tidak mustahil diraih oleh guru yang biasa-biasa saja. Menjadi inspirasi dan teladan bagi ribuan guru di Indonesia. Secara fisik Omjay adalah Suhu Tong (seorang guru), namun jiwa dan semangatnya adalah Pendekar Emprit (selalu berkembang dan bertransformasi menjadi lebih baik). Siapa mau jadi seperti Omjay?. Kalau Anda mengatakan tidak mau maka kerugian telah hadir di depan mata. Omjay mengajarkan banyak hal pada saya dan banyak manfaat serta teladan yang bisa kita raih dari Beliau. Terimakasih Omjay. Semoga panjang umur dan sehat selalu.

Tetap istiqomah,

Salam blogger persahabatan,

muhsin-budiono

Foto-foto Omjay :

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan khusus dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
4.9 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

Advertisements
%d bloggers like this: