Dalam hidup, terkadang –atau bahkan sering- kita jumpai kesulitan demi kesulitan datang silih berganti dengan kemudahan. Seakan-akan keduanya menjadi fitrah yang mewarnai perjalanan manusia mengarungi indahnya bahtera kehidupan sampai ajal datang menjemput. Bila Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan kesulitan atau kesempitan maka yakinlah terhadap satu hal : bahwa Allah tidak bertujuan menyengsarakan hamba-Nya. Kesempitan, bala’ dan musibah dititipkan Allah pada kita adalah untuk menguji kesabaran dan kesungguhan ibadah seorang hamba. Menggunakan kata ‘dititipkan’ sebab memang suatu saat ia akan diambil kembali untuk digantikan dengan sesuatu yang sudah Allah rencanakan untuk kita. Lantas, mengapa sabar dan kesungguhan ibadah yang diuji? Karena bagi Allah ibadah seorang hamba dikala berada dalam kesempitan seharusnya sama pula dengan ubudiyah hamba tatkala berada dalam kelapangan. Dihadapan Allah ketaatan hamba dalam keadaan dan kondisi yang tidak ia sukai seyogyanya tidak berbeda dengan ubudiyah hamba dalam perkara yang ia sukai.
You must be logged in to post a comment.