Road to 2023
Nulis Lepas

Penjilat di Tempat Kerja


“Saya hampir dipecat gara-gara rekan sekantor yang penjilat”.
Demikian bunyi curhatan salah seorang karyawan sebuah perusahaan yang masuk ke handphone saya.
Usut punya usut ternyata duduk perkaranya sepele. Pekerjaan tim yg selesai tepat waktu dan hasilnya bagus selalu diklaim sebagai ide dan keberhasilan sang penjilat.

“Yang dapat pujian dari Pak Bos, dia. Yang deket sama Atasan, dia. Yang diminta maju presentasi juga dia. Apa-apa serba dia deh, Mas. Usaha dan kerja keras saya seakan-akan tidak terlihat. Padahal saya yang mendesain dan mengerjakan proyek tersebut sampai lembur-lembur!”, keluhnya.

Yah itu kan versi Anda. Versi Pak Bos tidak seperti itu. Karena karyawan yang komunikasinya baik dan kerjanya terlihat bagus ya wajar saja bila disukai atasan (baca: deket sama manajemen). Jangan langsung ngegas dan menuduhnya sebagai penjilat. Boleh jadi kita sendirilah yang kurang cakap “merebut” perhatian Atasan. Kurang komunikatif, kurang energik, cenderung diam pas rapat/meeting, kurang terbuka ke atasan, kurang respek ke Senior, kurang agresif menjelaskan ide-ide kita, malu menyampaikan terobosan-terobosan yang sudah kita kerjakan, atau kita minim prestasi diluar jobdesk yang digariskan?.
Karena karyawan yang cuma fokus ke pemenuhan KPI (Key Performance Indicator) dan kerja sebatas jobdesk cenderung tampil sebagai pribadi yang kurang asyik dan minim kejutan. Pribadi yang biasa-biasa saja. Maka wajar kalau Pak Bos kurang memperhatikan dan menganggap diri kita sosok biasa-biasa saja.

Anda bilang dunia kerja itu sadis dan keras. Bukan, karakter Andalah yang lembek kayak lemper dan ongol-ongol.
Dunia kerja dimanapun akan seperti itu.
Bahkan dunia entrepreneur pun juga sebelas dua belas. Selalu ada persaingan dan kompetisi. Yang terkadang sehat maupun kurang sehat.

Padahal kata Simon Sinek hidup bukanlah kompetisi. Life isn’t a competition. It’s a game. It’s not about winning or losing. It’s about all the fun we can have before it ends.

Sewaktu mengambil sertifikasi followership internasional di Belgia pada tahun 2017 yang lalu, saya diajarkan yang namanya courageos followership oleh pakarnya langsung yakni Ira Chaleff.
Diantara entitas courageous followership ada yg namanya courage to take moral action, dan courage to challenge.
Kita dituntut berani untuk bicara ke atasan. Speaking up in the workplace. Stand up to your Boss. Dimana kedua hal ini ada ilmunya dan bisa diajarkan serta dipelajari. Tidak semerta-merta langsung bisa diterapkan kendati Anda memiliki pendidikan formal yang tinggi.

Nah, disinilah bedanya antara karyawan penjilat dengan yang bukan penjilat.
Anda dikatakan Penjilat apabila Anda mengetahui Atasan Anda membuat kebijakan yg salah/kurang efektif ataupun memerintahkan sesuatu yg merugikan Perusahaan tapi Anda MEMILIH DIAM.
Tidak men-challenge atau mengingatkan atasan tersebut. ABS. Asal Bapak Senang.

Tapi gimana ya Mas, kalau saya ndak diam justru nanti bisa dipecat. Atau dipindah keluar pulau yang terpencil dan jauh dari keluarga. Memang speak up to the hierarchy dan stand up to our leader ini harus dipelajari dan dilatih Perlu menumbuhkan kesadaran dankeberanian terlebih dahulu. Ia akan terbentuk sebagai cerminan corporate culture yang baik. If your employees aren’t speaking up, blame company culture. Maka dari itu pemberian materi followership, khususnya courageous followers menjadi penting bagi seluruh karyawan dan korporasi.

Memang bukan perkara yang mudah untuk membuat karyawan berani mngkritisi atau berkata terbuka dihadapan pimpinannya. Contohnya di dunia medis. In a hospital hierarchy, speaking up is hard to do. Empowering junior doctors and others to speak up when they have concerns is essential to improving patient safety. They must learn how to challenging authority and speaking up in the operating room -for example. Begitupula dengan dunia aviasi dan pelayaran. Perlu effort yang serius dengan memberikan wacana courageous followers agar terbentuk budaya yang memberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan menghargai suara tiap karyawan.

Nah, sementara begitu ulasan singkat saya terkait penjilat kali ini. Semoga sekarang sudah cukup jelas bedanya antara penjilat dan yang bukan penjilat.

Semoga berkenan.
Salam Followership.

Muhsin Budiono

#indonesiadaruratfollowership
#followershipindonesia

#followership

#followershipnow

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
3.3 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: