“Dalam hidup ini sejatinya tidak ada pencapaian/karir yang datar.
If we are not going up, we are certainly going down.”
Setiap disodorkan peristiwa akibat ketidakberesan kepengurusan negara ini sering rasanya kita berpikir tengah berada pada situasi yang rasanya tak mungkin dibenahi. Berita-berita korupsi, teror bom, narkoba, kisruh UNAS, jembatan anjlok, sandal jepit, rumah sakit mahal, Ahmadiyah, pembalakan hutan, bencana alam, cicak-buaya, reshuffle Kabinet, bank Century, Nazarrudin, mafia Gayus, demo BBM, sampai dengan kebiasaan curhat Pak Presiden merupakan sodokan informasi sekuensial yang membuat konsentrasi kita pecah. Isu demi isu sukses membikin kita konsisten sempoyongan, ibarat kena pukulan Wing-Chun tiap hari. Bagi wong cilik yang merindukan perbaikan kualitas hidup, keluhan Presiden yang mengatakan ia ribuan kali difitnah dan diancam celaka hanya menegaskan pada satu hal : beliau nenikmati menjual penderitaannya sendiri. Agak menyedihkan bahwa dengan momentum emas di tangannya untuk membuat perubahan, Pak EsBeye lebih memilih mengeluh daripada menyalakan api harapan di dada rakyat jelata yang rindu akan perubahan. Tunggu dulu, barangkali beliau memang telah menyalakan api harapan dengan menciptakan seabrek puisi dan lagu melankolis.
Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.
Cikal Bakal Hari Valentine
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Masih segar dalam ingatan saya ketika 10 bulan yang lalu membaca artikel tulisan Hazairin Sitepu (CEO Radar Bogor Group berjudul “Dua Jam Bersama Pak Dahlan Iskan” yang di dalamnya terdapat sindiran terhadap Dirut Pertamina (Bu Karen) yang terlambat menghadiri janji ketemuan dengan Pak Dahlan Iskan. Pak DIS (sapaan akrab Pak Dahlan) akhirnya membatalkan pertemuan dengan Bu Karen sebab setengah jam berikutnya Beliau memiliki agenda lain yang harus dipenuhi, yakni bertemu dengan Menteri ESDM.
“Wah, barangkali ini termasuk pencitraan negatif terhadap nama baik CEO Pertamina”, gumam saya dalam hati. Meskipun saya sangat yakin kalau Hazairin sama sekali tidak bermaksud demikian, tapi ranah intelektualitas orang awam agaknya sulit untuk memandang dengan jernih tulisan tersebut. Ya, itu cerita di tahun 2011; di tahun 2012 ini -tepatnya 24 Januari 2014- saya membaca artikel yang masih berhubungan dengan Pak DIS (sebab penulis artikel tersebut ya memang Pak DIS sendiri) berjudul Pergantian Direksi yang Sangat Bising. Dalam artikel yang bertema sentral Manufacturing hope ini Pak DIS menulis tentang riuhnya suasana penggantian direksi di perusahaan BUMN. Ternyata menjelang pergantian direksi muncul banyak manuver politik dan kasak-kusuk untuk mengangkat maupun menjatuhkan pamor calon yang diunggulkan. Sungguh, Anda harus membaca tulisan Pak DIS tersebut.
Teman-teman,
Kemarin saya dapat email dari rekan sekantor tentang kunjungan Pak Habibie ke kantor Manajemen Garuda Indonesia. Saya harus akui kalau email tersebut sungguh menginspirasi meski saya membacanya dengan tjara seksama dan dalam tempoe jang sesingkat-singkatnja (jadi mirip teks proklamasi nih) . Maklum waktu itu saya baca emailnya pas jam sibuk-sibuknya orang pada kerja, jadi mbacanya ngebut. Gas pol rem blong.
Tulisan ini merupakan catatan dari salah seorang karyawan Garuda Indonesia, namanya Capt. Novianto Herupratomo. Saya tidak kenal apalagi pernah berjumpa dengan beliau, tapi dari namanya saya yakin ia orang indonesia asli. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja bisa dinikmati tulisan beliau yang cukup renyah dibaca sekaligus menyentuh kalbu berikut ini :
Teman-teman,
Hari ini saya diminta tolong oleh atasan saya untuk merevisi surat izin layak muat BBM ke Tongkang. Redaksionalnya ‘minta tolong’, padahal sejatinya dia tidak perlu minta tolong. Tinggal perintah saja : jongos pasti langsung action. Dasar atasan saya ini baik hati dan tidak sombong. Saking terlalu baiknya bahasa yang dipakai pun selalu santun. Atasan yang model begini ini yang permintaannya cenderung sulit untuk tidak dipenuhi oleh bawahan. Continue reading
Sekiranya ada seseorang yang kurang kerjaan lantas mengajukan pertanyaan : puasa bulan ini masih kurang berapa hari lagi?, rasa-rasanya kita akan mudah menjawabnya. Tidak perlu melihat kalender atau bertanya pada seorang kawan apalagi sampai browsing di internet. Barangkali sudah mafhum kalau kurang seminggu menjelang idul fitri seperti ini maka naluri dan kemampuan setiap muslim untuk mengenali perubahan musim dan pergantian waktu seolah-olah meningkat drastis menyerupai insting birahi serangga di musim kawin. Adapun setelah menjawab pertanyaan diatas, biasanya beberapa diantara kita berseloroh akan cepatnya waktu bergulir : Nggak terasa Ramadhan kan berganti syawal. Idul fitri sebentar lagi. Kata ulama Prancis : Le temps passé si vite (waktu berlalu begitu cepat). Barangkali banyak yang nyengir karena ujian lapar dan haus di siang bolong bakalan usai. Senang-gembira, sebab hari kemenangan sudah didepan mata. Sementara itu sebagian sahabat air matanya meleleh membanjiri pipi sebab sedih akan ditinggal sang tamu agung. Dalam gambaran seperti diatas, kita termasuk yang bersedih atau yang bergembira? Di penghujung Ramadhan kali ini pertanyaan tersebut haruslah dijawab. Sebab indikator optimisme menjadi manusia baru yang kembali fitri pasca Ramadhan sedikit banyak dapat terukur dari penyikapan atas hal ini.
Semakincerahpemandangankedepan.
MakinYakinKamiMenujuWorldClassCompany
Pertaminaenergiuntuknegeri.
BiarpunCumaJongosSayaTurutBanggaAtasPencapaianIni.
ArtinyaPerusahaanIniCenderungTampilSebagaiPerusahaanYangSangatMemperhatikanPekerjanyaDalamBerbagiInformasiMaupunSharingPengetahuan.
SemogaKedepannyaBisaLebihBaikLagi.
Proudtobepartofit
muhsin-budiono
Alhamdulilah.
Inilah salah satu bukti semangat terbarukan kita.
Semangat anak bangsa mengusung transformasi di semua lini.
Energi kebaikan yang selalu terbarukan.
Proud to be part of it.
– R. M
Terus terang, saya bingung mau beri judul apa sama postingan kali ini. Agak susah karena harus menyinggung soal ‘tempat pembuangan’ dan adegan mringis melepas beban. Bagaimanapun, sebuah postingan idealnya memiliki judul.
Gambar berikut mungkin membuat trenyuh sekaligus menahan senyum siapa saja yang melihatnya. Sebab WC biasanya ada di dalam toilet atau kamar mandi dan orang gila yang benar-benar gila sekalipun tidak akan terlalu gila untuk membuat toilet seluas satu hektar. Kalaupun ada toilet yang luasnya sehektar kiranya tiap-tiap closet pastinya akan disekat-sekat menjadi bagian-bagian kecil terdiri dari banyak WC. Namun WC kali ini malah luas sekali, dan tanpa pembagian sekat satupun.
Bisa jadi toilet umum ini sebuah tempat berkumpul bahagia yang melambangkan kebersamaan pemakainya. Hanya saja sungguh disayangkan sebab ada saja orang yang keterlaluan dan -barangkali- ndak punya perasaan atau tepo seliro, tega memberikan “berkah” milik pribadi pada kawannya sesama pemakai WC. Aduuuh…
muhsin budiono
You must be logged in to post a comment.