Road to 2023
Nulis Lepas

Terkejut Dua Kali


Sejak 18 Februari kemarin kita dikejutkan oleh berita tentang ratusan penumpang Lion Air yang terlantar dan sempat membuat heboh kondisi Bandara Soekarno-Hatta. Saya dapati kabar tersebut pada jumat malam lewat berita di media. Ratusan polisi disiagakan untuk menjaga keamanan bandara.  Baru kali ini saya melihat polisi sebanyak itu antusias menjaga calon penumpang pesawat. Yang saya tahu biasanya mereka menjaga mahasiswa. Mahasiswa yang unjuk rasa. 🙂

Itu keterkejutan saya yang pertama. Ternyata bukan cuma ratusan penumpang yang mengalami delay, di seluruh Indonesia jumlahnya mencapai ribuan. Sebab sudah berlangsung sejak beberapa hari. Diantara penumpang yang frustasi bahkan ada yang sampai bersungut-sungut memasuki area parkir pesawat (apron) dan mengancam memblokade runway. Pikiran saya sempat melantur ke cuplikan film-film teroris yang menggambarkan penyanderaan pesawat di bandara luar negeri. Ah, masa iya bangsa sendiri dan konsumen yang kecewa berat patut disamakan dengan teroris? Maafkan otak saya yang terlalu lebay.

Lion Kisruh

Keterkejutan saya yang kedua muncul manakala ada lanjutan berita yang menyebutkan bahwa PT. Angkasa Pura II (AP II) memberikan talangan kepada Lion Air untuk membayar pengembalian uang tiket (refund), airport tax dan kompensasi (sesuai aturan besarnya Rp 300.000) bagi calon penumpang Lion Air yang terdampak delay di bandara Soetta. “Gila!”, itu kalimat spontan yang meluncur dari bibir seksi saya. Kok mau-maunya AP II  ‘menggantikan’ peran Lion Air. Sejak kapan operator bandara udara harus menanggung kompensasi delay pesawat?. Apalagi yang delay ini maskapai milik perusahaan SWASTA. -kata Swasta sengaja saya besarkan. Cuma di negara bernama Indonesia saja yang bisa begitu.

Lebih-lebih AP II ternyata juga telah menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan dan minuman bagi  calon penumpang pesawat yang terdampak delay. Konsumsi itu telah tersedia sejak 19/02/2015 hingga perkembangan berikutnya (-Kompas.com. 20 Februari 2015). Bahkan dalam sebuah siaran pers Direktur UtamaAP II mengatakan bahwa penyediaan konsumsi merupakan salah satu bentuk pelayanan dan empati PT AP II kepada calon penumpang. Padahal sejatinya secara ketentuan hal itu merupakan tanggung jawab Maskapai. Di sisi lain keputusan ini telah mendapat restu penuh dari Kemenhub sebab merupakan langkah tepat yang diambil dalam situsi krisis atau darurat. (sumber hasil diskusi publik oleh Smart FM dan Populi Center di Jakarta Pusat pada 21/02/2015).

Hmm, saya jadi ingat kasus lumpur Lapindo yang uang pembayaran ganti rugi bagi masyarakat terdampak lumpur harus mengoyak pundi APBN. Yang berulah perusahaan swasta namun negaralah yang akhirnya harus menanggung. Saat APBN kita jebol, dengan enteng Pemerintah menyalahkan subsidi BBM. Cerdas nian.  🙂

Lazimnya orang yang terkejut, setelahnya tentu muncul beberapa pertanyaan di kepala. Pada kasus Lapindo saya mafhum karena ada sosok hebat berinisial AB -pengusaha dan politikus Partai Pohon Beringin- dibaliknya. Lha dalam kasus talangan dana delay LionAir ini sosok siapakah yang berperan?. Alasan semisal empati perusahaan, pelayanan prima, customer satisfaction dan kondisi darurat tidak cukup meyakinkan untuk membuat dana talangan menjadi sah dikeluarkan AP II. Maka pertanyaan saya yang pertama adalah apa atau siapakah yang memaksa AP II menjadi pahlawan kesiangan dengan berani ‘menggantikan’ peran & tanggungjawab Lion Air?.

Jawabannya saya serahkan pada anda masing-masing. Jelas ada yang bermain disini. Saya teringat sebuah joke berbau rasis di masa kuliah dulu : “Bila Anda melihat tikus lari, jangan cepat-cepat berasumsi tikus itulah penyebabnya. Mungkin, ada kucing yang mengejar. Kucing lari, mungkin ada anjing di belakangnya. Begitu juga anjing, mungkin ada si Fulan (joke-nya: menyebut satu suku di Indonesia) mengejar di belakangnya. Dan, juga, jangan mengira si Fulan masalahnya karena mungkin ada polisi di belakangnya.”. Joke ini hendak meyakinkan kita semua bahwa selalu ada alasan dibalik segala rentetan kejadian.

Pertanyaan berikutnya, apakah kondisi keuangan LionAir saat ini demikian buruknya sehingga tidak mampu untuk membayar kompensasi dan biaya refund ticket penumpang?. Kalau memang demikian, maka perlu dilakukan audit di tubuh manajemen LionAir terutama pada alokasi dan penggunaan cost maintenance reserve yakni biaya yang dicadangkan untuk perawatan pesawat yang berdampak langsung pada faktor safety. Jangan sampai keselamatan penerbangan dikorbankan sebab adanya pengurangan alokasi anggaran untuk perawatan pesawat dan sarfas penting lainnya.

BOLA PANAS

Menggunakan uang perusahaan -apalagi perusahaan BUMN- dengan seenaknya untuk menalangi perusahaan swasta (LionAir) merupakan kebijakan tanpa dasar hukum yang kuat. Nantinya bagaimanakah prosedur pengembalian uang talangan tersebut? Berapa lama waktu pengembaliannya dan sekiranya Lion Air tak sanggup mengembalikan maka langkah apakah yang harus ditempuh AP II?. Walaupun pembayaran kompensasi penumpang akan ditagihkan pada LionAir, namun dalam hal ini AP II telah mengalami lost opportunity. Bayangkan, dana sebesar Rp 4 miliar yang telah disiapkan untuk kasus delay hebat Lion Air ini bila digunakan untuk kebutuhan operasional AP II. Tentunya akan lebih manfaat, terukur dan terarah.

Sebagian kawan saya berpendapat bahwa dana talangan ini sudah masuk ketegori korupsi uang negara. Bahkan KPK dan Polri seharusnya bisa segera bertindak untuk menangkap tangan meski tanpa adanya laporan pengaduan dari masyarakat. Hal ini masuk dalam kategori kebijakan menggunakan uang negara yang tidak sesuai aturan. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang bisa digali, tapi saya tidak ingin tulisan ini menjadi terlalu panjang. Disamping saya sendiri juga kehabisan bahan dan bingung mau menulis apa lagi. He..he. Maafkan ketidakkreatifan saya dalam menulis.  😉

Kendati hari ini Kemenhub telah membekukan izin rute baru LionAir sampai adanya perbaikan tata cara penanganan delay namun dampak kasus ini tidak akan terhenti begitu saja. Bola panas telah bergulir dan siap membesar. Bergulir ke arah mana dan menghantam siapa itulah kabar selanjutnya yang kita tunggu. Semoga tidak terkejut lagi.

muhsin-budiono

Advertisements

About muhsin budiono, B.Ss., CFT

MUHSIN BUDIONO. Bukan Siapa-Siapa, Cuma Followership Trainer. Trainer dan Penulis Buku. Pakar Followership pertama di Indonesia. Member of ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) Sementara ini berkarya di sebuah Perusahaan Migas Nasional. Sedang mengumpulkan dan menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai Pembicara Internasional (International Islamic Followership Trainer) di tahun 2023 mendatang (insya Allah). Sedang menghimpun biaya untuk bisa kuliah lagi, menafkahi keluarga tercinta, bayar utang dan bersedekah.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
5.7 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang (JTIG) : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (Terbit : Januari 2013 - Jakarta)

Buku Karya Kedua

Buku The Jongos Ways (bisa dibawa pulang dari toko buku Gramedia terdekat di kota Anda)

The Jongos Ways (TJW) : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda. (Terbit : Desember 2013 - Jakarta)

Buku Karya Ketiga

Buku Berani Berjuang karya Muhsin Budiono & Pengurus SPPSN

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: