Sekiranya ada seseorang yang kurang kerjaan lantas mengajukan pertanyaan : puasa bulan ini masih kurang berapa hari lagi?, rasa-rasanya kita akan mudah menjawabnya. Tidak perlu melihat kalender atau bertanya pada seorang kawan apalagi sampai browsing di internet. Barangkali sudah mafhum kalau kurang seminggu menjelang idul fitri seperti ini maka naluri dan kemampuan setiap muslim untuk mengenali perubahan musim dan pergantian waktu seolah-olah meningkat drastis menyerupai insting birahi serangga di musim kawin. Adapun setelah menjawab pertanyaan diatas, biasanya beberapa diantara kita berseloroh akan cepatnya waktu bergulir : Nggak terasa Ramadhan kan berganti syawal. Idul fitri sebentar lagi. Kata ulama Prancis : Le temps passé si vite (waktu berlalu begitu cepat). Barangkali banyak yang nyengir karena ujian lapar dan haus di siang bolong bakalan usai. Senang-gembira, sebab hari kemenangan sudah didepan mata. Sementara itu sebagian sahabat air matanya meleleh membanjiri pipi sebab sedih akan ditinggal sang tamu agung. Dalam gambaran seperti diatas, kita termasuk yang bersedih atau yang bergembira? Di penghujung Ramadhan kali ini pertanyaan tersebut haruslah dijawab. Sebab indikator optimisme menjadi manusia baru yang kembali fitri pasca Ramadhan sedikit banyak dapat terukur dari penyikapan atas hal ini.