Di antara euforia kegembiraan massif merayakan kemenangan juara sepakbola sejagat, di saat fragmen pengusutan kasus video koitus selebriti mencapai suguhan klimaksnya, di tengah kebanggaan (sekaligus kecemasan) para orang tua melepas sang buah hati di sekolahnya yang baru, di sekitar geregetan kolosal akan penuntasan mafia pajak, dan di sela-sela blow up penganiayaan wartawan pengungkap ‘rekening gendut petinggi korps baju coklat’, sebenarnya saya berniat menahan diri untuk menulis artikel ini. Namun kesedihan sekuensial akibat rentetan meledaknya LPG di masyarakat yang terjadi belakangan ini, pun sekaligus penyudutan posisi masyarakat sebagai pihak tersalahkan (terang-terangan maupun tidak) menjadi pertimbangan tersendiri untuk menulis artikel tentang hal ini.