Sejak 18 Februari kemarin kita dikejutkan oleh berita tentang ratusan penumpang Lion Air yang terlantar dan sempat membuat heboh kondisi Bandara Soekarno-Hatta. Saya dapati kabar tersebut pada jumat malam lewat berita di media. Ratusan polisi disiagakan untuk menjaga keamanan bandara. Baru kali ini saya melihat polisi sebanyak itu antusias menjaga calon penumpang pesawat. Yang saya tahu biasanya mereka menjaga mahasiswa. Mahasiswa yang unjuk rasa. 🙂
Renungan sederhana untuk kita semua…..
Pak Mubi bekerja di satu pabrik pendistribusian daging. Suatu hari, ia pergi ke ruangan pendingin daging utk melakukan pemeriksaan. Sayang, nasib buruk menimpanya. Karena kurang berhati-hati tanpa diduga pintu ruangan itu menutup dan ia pun terkunci di dalamnya, tanpa seorangpun yang melihat. Karena ruangan pendingin daging itu kedap udara, maka yang di luar tidak mungkin mendengar teriakan dari dalam ruangan itu.
Lima jam kemudian, saat ia berada di ambang kematian karena kedinginan, secara ajaib penjaga keamanan pabrik membuka pintu ruang pendingin dan menyelamatkan nyawanya.
Setelah sadar dan memulihkan diri, Pak Mubi lalu meminta penjaga keamanan itu menceritakan padanya bagaimana ia bisa mengetahui keberadaannya dan membuka pintu ruangan pendingin daging itu, padahal pekerjaan itu bukan bagian dari rutinitas pekerjaannya. Penjaga keamanan itu lantas menjelaskan seperti ini :
“Setiap hari ratusan pekerja datang dan keluar, tetapi anda aadalah salah satu dari sedikit sekali orang yang selalu menyapa dan memberi salam kepada saya di pagi hari ketika datang dan setiap petang ketika hendak meninggalkan tempat ini setelah jam kerja usai. Banyak yang memperlakukan saya seolah-olah saya tidak terlihat. Barangkali karena peran saya kecil dan hanya dianggap sebagai jongos biasa.
Hari ini, seperti biasanya, anda menyapa dan memberi salam kepada saya saat masuk kerja. Tetapi setelah jam kerja berakhir, saya tidak menemukan salam dan ucapan selamat tinggal dari anda. Saya tidak mendapati anda di pintu keluar. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk memeriksa di sekitar pabrik. Saya masih berharap mendengar salam dan kata ‘Saya pulang duluan’ atau ‘Monggo, Pak’ dari anda seperti biasa setiap harinya.
Karena tidak mendengar kata salam anda itu, saya yakin sesuatu hal buruk telah terjadi.
Lalu, saya berusaha mencari-cari dan akhirnya menemukan anda”.
Takkan mahal harga dan takkan habis waktu hanya beberapa detik untuk sekedar saling menyapa….. tanpa pernah membedakan manusia dengan status sosialnya. Tanpa kita sadari bahwa dari hal kecil dan kebiasaan sederhana ternyata dapat berdampak besar dan luarbiasa.
What a simple “salam” and ‘hello’ could lead to million things !
You must be logged in to post a comment.