Road to 2023
Followership, Tanya Jawab

Memilah Prioritas, Menemukan Kelebihan.


Ini tulisan yang saya buat untuk salah seorang penanya dalam sesi Q&A pada followership webinar sebuah BUMN di Jakarta. Semoga bermanfaat. Salam Followership!.

PERTANYAAN: Selamat siang mas Muhsin, salam kenal nama saya Indra, kebetulan kita satu almamater juga di ITS, Mas. Pagi tadi saya menyimak materi mas Muhsin di webinar M***Talks. Terima kasih banyak atas sharingnya, namun ada yang ingin saya tanyakan. Tadi dijelaskan dalam mengembangkan followership dikehidupan pribadi, kita harus mengenal 2 point yaitu apa yang mau dicapai dan menyadari apa kelebihan kita.

Pertanyaannya, ketika kita sudah berkerja keras seperti saat ini, banyak hal yang mau dicapai, baik dalam hal karir, rencana usaha, keluarga, dan juga capaian kesehatan diri. Bagaimanakah caranya memilah prioritas hal yang untuk dicapai?. Pertanyaan selanjutnya saya kadang masih ragu dengan apa sebetulnya kelebihan saya. Bagaimanakah menemukan solusinya?. Terimakasih atas jawabannya mas.


JAWABAN: Dear Mas Indra. Sebelumnya terimakasih atas pertanyaannya. Saya percaya kalau memilih prioritas itu akan mudah kalau kita memiliki 3 hal: 

  1. Punya Tujuan.
  2. Punya Sumber Daya.
  3. Punya Decision Making skill

Penjelasannya begini. Misalkan esok hari sabtu. Sejak hari jumat saya sdh memiliki rencana (baca: tujuan) untuk berolahraga lari keliling alun2 di sabtu pagi. Tanpa diduga ketika sabtu pagi turun hujan lebat. Apakah gegara hujan lantas rencana lari pagi jadi batal?. Tidak. Kalau dirumah ada treadmill ya bisa lari pagi pakai treadmill.  Karena tujuan awalnya berolahraga lari, bukan lari keliling alun2. Treadmill itu termasuk sumber daya yang kita punya. Sementara olahraga adalah tujuan yang ingin diraih. Kita akan lebih mudah memutuskan apabila tujuannya jelas dan sumber dayanya ada. Kabar baiknya sumber daya tak harus dalam bentuk barang, tapi bisa juga dalam bentuk jaringan/networking, waktu, informasi, dll.

Memiliki tujuan itu penting. Salah seorang senior sekaligus mentor saya, –Prof. Daniel M. Rosyid– pernah menasehati: kalau kita tidak memiliki tujuan maka semuanya akan terlihat berharga dimata kita. Segala sesuatunya akan nampak sedemikian penting untuk dikorbankan/dikesampingkan. Sehingga sulit memilah mana yang harus dilakukan atau terlebih terlebih dahulu diselesaikan.
Sudah punya tujuan, punya sumber daya tapi masih belum mampu mengambil keputusan mana yang prioritas dan tidak?. Berarti decision making skill (DMS) kita belum terasah. Sebab untuk membuat keputusan demi keputusan diperlukan skill. Mereka yang dalam membuat keputusan kecil saja merasa bingung maka hampir bisa dipastikan ia akan lebih bingung lagi ketika membuat keputusan-keputusan yang besar. Maka biasakanlah untuk tidak bingung dan sigap berpikir ketika dihadapkan pada keputusan-keputusan kecil.

Misal ada pertanyaan nanti siang mau beli makan apa?. Ini idealnya merupakan masalah kecil dan bisa langsung diputuskan dalam hitungan detik. Perkara pas tiba ditempat makan tujuan ternyata restorannya tutup dan harus beralih ke makanan lain itu beda soal. Disitu DMS kita diasah lagi. Asal sumber dayanya ada lho ya. Agak repot misalnya pas akhir bulan pingin makan sop buntut atau gule kepala ikan tapi uang di dompet tinggal 20ribu rupiah.

DMS yang efektif bisa muncul bila kita tahu ilmunya. Dan tahu orang-orang yang berkepentingan atau kompeten yang mengelilingi hal tersebut. Maka orang yang berilmu dan pergaulannya luas, biasanya DMS-nya cenderung baik. Sebab ia tahu benar sumber daya apa yang harus disiapkan dan siapa-siapa saja yang mesti dihubungi. Sebagai contoh kalau saya harus memutuskan apakah tahun depan akan berbisnis crypto currency maka membuat keputusannya akan lebih mudah dan lebih cepat kalau ilmu & pengetahuan tentang crypto-nya sudah kepegang. Baik dari sisi perhitungan modal, strategi bisnis, sudut pandang agama, trend prognosa, dll. Apalagi kalau ada teman atau saudara yang sudah terjun duluan berbisnis crypto. Barangkali ini jawaban kenapa kawan-kawan kita yang pas kuliah dulu agak ndableg atau sering bolos perkuliahan ngurusi acara organisasi, belajar bisnis, dsj sekarang malah jadi orang sukses. Atau lebih sukses ketimbang mereka-mereka yang kuliahnya rajin dan kutubuku minim pergaulan.

Kesimpulannya, untuk bisa membuat keputusan atas segala hal yang ingin kita capai bisa dengan memperluas networking, menambah pengetahuan dan sering-sering “latihan” mengambil keputusan-keputusan kecil atau menengah. Salah satu cara saya melatih diri dalam membuat keputusan adalah memaksa diri untuk sebisa mungkin tidak mengatakan kata “terserah” apabila ditawarkan suatu pilihan oleh keluarga/orang lain. Melontarkan kata “terserah” tidaklah mengasah DMS kita. Dan seringkali ketegasan atau bahkan leadership kita akan dituntut disitu. Jadi kalau suatu ketika bertamu ke rumah orang dan si empunya rumah bilang “Mau minum apa?”, maka jangan jawab “Terserah”. Langsung sampaikan saja: Saya minta es soda gembira!. Eh, gak gitu juga kali ya. ^_^. Nyusahin tuan rumah.

Saya juga ngajari anak dan istri dirumah untuk sebisa mungkin tidak mengucapkan kata “terserah”. Contoh suatu hari saya merencanakan ngajak anak-istri makan malam diluar rumah. Ketika sorenya saya tanya ke putra saya nanti malam mau makan dimana dan ia menjawab “Terserah Abi”, maka agenda makan malam diluar saya batalkan. Cukup makan telor mata sapi dan nugget goreng dirumah. Memang terkesan aneh dan bikin shock anak-istri. Tapi demi mendidik keluarga, itu semua harus dilakukan. Ingat, menghindari penggunaan kata “terserah” akan mengasah DMS dan leadership skill kita.
Jadi kunci mengasah DMS salah satunya dengan melatih diri dan lingkungan. Sekedar nulis atau ngomong begini memang gampang. Prakteknya setengah mati. He..he. Karena semua itu fungsi waktu. Perlu masa yang cukup lama untuk kita bisa belajar dan memetik hikmah dari tiap-tiap keputusan yang kita ambil. Evaluasi diri dan perenungan mutlak diperlukan. Prinsip “No regret” juga perlu dijunjung kalau hati tidak ingin gundah gulana atas semua keputusan yang pernah terlanjur dibuat. Asal keputusan-keputusan yang pernah dibuat bukan hal negatif, apalagi berhubungan dengan dosa maka InsyaAllah tak akan ada penyesalan.

Nah, bagaimana kalau dihadapkan dengan pilihan yang sulit dan sama-sama penting?. Kemampuan menentukan skala prioritas menjadi hal yang berharga. Sebab bisa jadi dua pilihan yang muncul dipikiran kita merupakan hal penting dan harus dilakukan. Tinggal mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang diselesaikan belakangan. Sebagian orang biasanya akan memilih menggunakan matrix eisenhower untuk perkara ini. Berikut matriksnya:

Ya ini sih teori, seringkali dalam pelaksanaannya agak sulit dilakukan. Misal ada hal yang tidak begitu penting tapi urgent. Berarti harus didelegasikan ke anak buah. Masalah muncul ketika kita tidak memiliki anak buah. Jadi harus didelegasikan ke siapa?. Seorang Ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu/ART biasanya sering ngalami hal begini. Maka hal yang tidak pentingpun derajatnya bisa tiba-tiba naik menjadi penting. Oh iya, kita juga bisa mengubah dimensional urgent-non urgent menjadi dimensi yang lain. Impactful dan unimpactful misalnya. Atau dimensi easy dan not easy. Monggo berkreasi sendiri. Tapi kembali lagi kalau itu semua adalah teori. Kita tetap perlu menyiapkan hati yang lapang kalau-kalau teori tersebut tak bisa 100% pas diterapkan dalam kehidupan.

Adapun terkait pertanyaan: saya masih ragu dengan apa sebetulnya kelebihan saya, bagaimana menemukan solusinya?. Untuk tahu kelebihan kita biasanya memang memerlukan waktu dan usaha pencarian yang panjang. It’s a journey of life, Mas. Dan seringkali apa yang kita anggap sebagai kelebihan justru bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa-biasa saja. Atau kelebihan yang kita miliki saat ini ternyata sudah tidak relevan lagi dengan kondisi jaman. Jadi meskipun sudah tahu apa kelebihan kita maka jalan yang terbaik adalah terus selalu mengupgrade diri. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dan hari ini harus lebih baik dari kemarin. Kalau saat ini masih bingung dengan apa kelebihan diri kita, barangkali lebih baik cobalah memfokuskan diri mengisi waktu luang dengan hal-hal positif dan produktif. Sebab kata orang bijak kesuksesan sesorang ditentukan dari caranya mengelola waktu luang. Apakah waktu luang kita sering “dicuri” oleh kongkow-kongkow bareng teman, scrolling Tok-tok, stalking instagrom atau asyik-masyuk didepan layar kaca Netflux?. 

Cobalah mengamati lingkungan sekitar dan memetakan beberapa persoalan sederhana yang ada lalu mencarikannya solusi. Bisa pakai prinsip pareto 80/20 atau teori lain. Dari situ bikinlah simulasi problem solving dan list hal-hal apa saja yang harus Anda lakukan. Tidak perlu dibicarakan dengan orang lain atau posting dimedsos. Cukup lihat saja apakah dari list tersebut ada hal-hal yang bisa langsung dikerjakan. Nah, hal-hal yang bisa langsung dikerjakan itu indikasi atas kemungkinan kelebihan yang Mas Indra miliki.

Cara lain yakni bisa menanyakannya langsung pada orang-orang lingkaran terdekat kita. Orang yang mengenal serta mengetahui blind spot dan juga kelebihan kita. Benar, kita sedang menyinggung johari windows. Dan khusus terkait hal ini saya merekomendasikan agar Anda membaca puisi karya Navoneil Bhattacharyya yang berkisah tentang dirinya yang laksana pohon Banyan. Menemukan kelebihan diri barangkali adalah seni tersendiri yang hasilnya bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Dan yang pasti tak semudah tulisan saya ini. Human potential, though not always apparent, is there waiting to be discovered and invented forth.

*** end ***

Penghujung tahun 2021.

Bis Damri Jakarta-Surabaya.

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

18 June 2023
13 months to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: