Road to 2023
Buku ke-2 : The Jongos Ways, Nulis Lepas

Apa Salahnya Jadi Pegawai


pegawaiKawan-kawan semua,

Setelah barusan kemarin memposting tentang perkara pilihan berwiraswasta atau bekerja, kali ini saya menemukan artikel sejenis yang mengusung semangat yang sama. Meski penulisnya bukan saya namun tidak ada salahnya saya ikut “angkat” di blog ini supaya lebih banyak lagi orang yang membacanya.

Di jaman pesatnya kemajuan teknologi dan informasi seperti sekarang ini sering kita dengar propaganda, tawaran, saran, promosi, dsj akan dorongan untuk menjadi entrepreneur atau wiraswastawan. Istilah gampangnya “buka usaha sendiri”. Memang tidak ada yang salah dengan menjadi entrepreneur (bahkan ini adalah hal yang baik), namun ketika propaganda entrepreneurship tersebut porsinya terlalu besar sehingga terkesan merendahkan atau “melecehkan” profesi lain yang notabene bukan pekerjaan mandiri/wirausaha maka muncullah masalah tersebut.

Apapun profesi yang dijalani saat ini, saya pikir Anda perlu membaca artikel ini (dengan catatan sebelumnya baca dulu artikel saya yang kemarin : Enggan menjadi jongos seumur hidup). Sementara sampai disini dulu. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tetap istiqomah,

muhsin budiono

Apa Salahnya Jadi Pegawai

 

Saya sering mendengar di forum-forum, resmi maupun informal, diskusi tentang wirausaha. Biasanya akan ada satu orang yang mengompori untuk jadi wirausaha. Dengan semangat berapi-rapi mereka akan menerangkan atau lebih tepatnya mendoktrin betapa “wah”-nya berwirausaha. Diskusi terakhir yang seperti ini saya temui seminggu lalu, di masjid kampus UI, Depok.

Entah kenapa kali itu saya sedikit tersinggung. Mungkin karena capek setelah perjalanan jauh sehingga jadi sensitif. Kata-kata yang digunakan memang bertujuan untuk memotivasi semangat entrepreneurship. Saya sangat menghormati mereka yang menempuh jalan itu. Tapi secara bersamaan, kata-kata itu juga merendahkan profesi pegawai. Mungkin tulisan ini subyektif defensif karena saya adalah seorang pegawai, namun agaknya ini bisa menjadi penyeimbang terhadap “propaganda” berwirausaha.

Sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah dagang, dengan kata lain; wirausaha. Wirausaha memungkinkan keuntungan yang tidak terbatas. Sedangkan jadi pegawai penghasilannya tetap, rejekinya segitu-segitu saja. Orang tidak bisa kaya kalau jadi pegawai. Tapi ini hanya jika profesi dihubungkan dengan rejeki. Menjadi pegawai tidak menjanjikan keuntungan melimpah, uang banyak. Namun mari melihat dari sisi lain.

Menarik apa yang disampaikan salah satu Vice President di perusahaan kami hari ini. Seorang karyawan bertugas mengatur perputaran penggunaan landing gear pesawat terbang. Karena dia pesawat bisa beroperasi dengan baik, landing dan take off dengan selamat. Orang-orang naik pesawat, dalam rangka bisnis, silaturahim, belajar, dan sebagainya. Berkat jasanya, maka seorang pebisnis bisa menjalankan bisnisnya dan mendapat keuntungan. Orang lain bisa bersilaturahim dan merekatkan pertemanan.

Guru juga pegawai. Gajinya kecil, sehingga hidupnya pas-pasan. Tapi lihatlah dia bisa berbagi ilmu, mendidik anak muridnya. Berkat jasanya, murid-muridnya jadi punya masa depan. Setelah lulus mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan, bisa bekerja, menikah, memiliki anak, dan bisa menjalani hidup mereka dengan baik. Diantara mereka mungkin ada yang jadi orang besar. Penghargaannya bukan berupa materi, tapi kebanggaan dan ilmu yang pahalanya tidak pernah putus.

Bagaimana pula dengan pegawai yang berpikir bahwa dengan menjadi pegawai negeri misalnya, dia jadi punya lebih banyak waktu untuk melakukan hal lain. Daripada harus berjibaku siang-malam menjadi wirausaha, menghabiskan pikirannya untuk memikirkan untung-rugi. Dia hidup sekedarnya dari gaji, namun punya banyak waktu untuk mendidik anak-anaknya. Memiliki banyak waktu bersama mereka, sehingga bisa mengawasi dan mengarahkan anak-anaknya dengan lebih intensif.

Ada juga yang menjadi pegawai dengan tujuan ingin memperbaiki institusi tempatnya bekerja. Di badan usaha milik negara misalnya. Dia sadar bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah salah satu penyokong perekonomian negara. Padahal banyak praktek-praktek tidak sehat di sana. Dia ingin bekerja di sana, agar menempati posisi strategis, sehingga bisa memperbaiki dari dalam. Orang ini layak diberi gelar mujahid, melawan keburukan yang akan mengakibatkan kehancuran.

Seorang dokter yang jadi pegawai rumah sakit karena ingin menolong orang-orang. Seorang insinyur yang menjadi pegawai pabrik karena ingin memperbaiki lini produksi sehingga perusahaan bisa berkembang dan menciptakan lapangan kerja bagi ribuan orang. Seorang mekanik listrik yang berkat dia, anak-anak bisa belajar dengan diterangi lampu saat malam. Seorang masinis yang mengantarkan ratusan orang setiap hari dengan keperluan mereka masing-masing.

Jadi apa salahnya jadi pegawai? Selama kita memiliki alasan yang baik dalam menjalani sebuah profesi, maka profesi apapun bisa menjadi jalan kemuliaan. Selama kita menjalaninya dengan ikhlas, bisa jadi itulah pembuka pintu surga bagi kita.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At Taubah 105) 

Senja Utama Jogja, 16 Maret 2012
Anindito W

Source :
https://www.facebook.com/notes/yulian-anindito/apa-salahnya-jadi-pegawaai/1015068857318363

 

About muhsin budiono

Karyawan, Followership Practitioner dan Penulis Buku. Mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan Marine Engineering (Lulus tahun 2006) dan Narotama University studi Management (Lulus tahun 2014). Followership Practitioner pertama di Indonesia [Certified by Ira Chaleff, Belgium-2017]. Anggota ILA (International Leadership Association). Pemegang Rekor MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia). Disaat banyak orang Indonesia memuji dan mendalami Leadership, muhsin memilih jatuh hati pada Followership sejak 2007 yang lalu. Di tahun 2013 muhsin menulis buku tentang belajar Followership ala Indonesia berjudul "The Jongos Ways" (TJW) yang fenomenal dan menggugah ribuan pekerja di Indonesia. Berbekal buku TJW muhsin semakin getol membumikan Followership ke seluruh penjuru nusantara secara cuma-cuma/tanpa memungut biaya melalui kegiatan-kegiatan seminar, bedah buku, pembuatan video animasi hingga konsultasi gratis. Hal itu dilakukan sebab menurutnya Indonesia sudah “terlambat” lebih dari 23 tahun dalam mengembangkan Followership. Atas upayanya tersebut pada akhir tahun 2014 muhsin mendapat undangan khusus dari International Leadership Association untuk menghadiri International Followership Symposium di Amerika sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia. Disana ia intens berdiskusi dengan beberapa pakar followership dunia dan dinisbatkan sebagai pemerhati followership pertama dari Indonesia. Di tahun 2016 Muhsin juga mendapat kehormatan untuk berbicara tentang Followership dihadapan ratusan praktisi Human Resources di Indonesia dalam forum nasional the 8th Indonesia Human Resources Summit (IHRS). Sementara ini muhsin berkarya di Perusahaan Migas Nasional kebanggaan Indonesia: PT Pertamina (Persero) dan sedang mengumpulkan serta menyusun kerikil demi kerikil untuk dijadikan batu lompatan dalam meraih cita-cita sebagai International Islamic Followership Trainer di tahun 2023 mendatang. Muhsin juga memiliki keinginan kuat untuk resign bekerja agar bisa kuliah/belajar lagi di Saudi Arabia guna mendalami teori Islamic Followership yang sedang dikembangkannya.

Discussion

No comments yet.

Your Comment Please . . .

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Road to International Islamic Followership Trainer

June 18th, 2023
4.5 years to go.

Buku Karya Pertama

JTIG : Jadi Trainer itu Gampang

Jadi Trainer Itu Gampang : Panduan Praktis untuk Memulai Menjadi Trainer dan Pemandu Pelatihan di Usia Muda. (LMT Trustco - Jakarta)

Buku Karya Kedua

The Jongos Ways : Pekerja Tangguh yang Bahagia dan Penuh Manfaat itu Anda (Penerbit : Elex Media Komputindo)

Buku Karya Ketiga

Berani Berjuang: Realita Cinta, Pertamina dan Bangsa Indonesia (A tribute to Mr. Ugan Gandar). Elex Media Komputindo

Buku Karya Keempat

Memorable Book Banjir Bandang Kota Bima - NTB tanggal 21 & 23 Desember 2016 (Elex Media Komputindo)

Follow me

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: